Lebih lanjut, khatib menjelaskan tentang larangan keras melakukan maksiat secara terang-terangan (mujaharah), merujuk pada hadis Nabi bahwa seluruh umat berpeluang diampuni kecuali mereka yang memamerkan dosanya. Ia memberikan contoh ironis tentang seseorang yang berbuat dosa di malam hari dan Allah telah menutupi aibnya, namun keesokan harinya orang tersebut justru membuka sendiri aib itu dengan menceritakannya kepada orang lain. Kemat menekankan bahwa Islam mewajibkan umatnya menjaga aib, baik aib diri sendiri maupun orang lain, bahkan hingga dalam konteks mengurus jenazah sekalipun.
Menutup khutbahnya, Kemat Rahmanto mengajak seluruh jemaah untuk segera melakukan taubatan nasuha dan berhenti menjadikan dosa sebagai bahan kebanggaan sosial. Ia mengingatkan bahwa pengakuan atas kesalahan hanyalah untuk disampaikan kepada Allah SWT dalam rangka memohon ampunan, bukan untuk diumbar kepada manusia. Menurutnya, sebesar apapun dosa hamba, Allah Maha Pengampun dan Penyayang, dan akan menerima tobat siapa saja yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri dan menyesali perbuatannya.
Reporter: Asri Siti Syahidah, 3B
Tidak ada komentar
Posting Komentar