Di zaman media sosial saat ini, Islam lebih sering muncul di layar smartphone: kutipan ayat, ceramah singkat, kata-kata inspirasi hijrah, hingga konten dakwah yang disajikan dengan menarik. Di satu sisi, hal ini dapat disyukuri karena ajaran Islam menjadi lebih mudah diakses.
Namun, di sisi lain, muncul suatu pertanyaan besar yang biasanya tidak dibahas secara terbuka: apakah agama sedang disebarkan, atau malah dijadikan sekadar konten?
Islam pada dasarnya adalah panduan hidup, bukan hiburan sementara. Saat dakwah mulai dinilai dari banyaknya likes, views, dan pengikut, ada kemungkinan terjadinya perubahan niat. Dakwah yang seharusnya mengajak menuju kebenaran dapat berubah menjadi sarana untuk mencari perhatian. Sesungguhnya, Rasulullah ï·º pernah mengingatkan bahwa nilai amal ditentukan oleh niat yang ada di dalam hati, bukan oleh penampilan luar.
Fenomena "dakwah yang viral" sering kali memperlihatkan bagian-bagian ajaran tanpa kedalaman pemahaman. Ayat dan hadis diambil sebagian, lalu dikeluarkan dari konteksnya demi menarik minat. Hasilnya, agama terlihat sederhana di permukaan, tetapi kehilangan esensi kebijaksanaan.
Islam bukan hanya sekadar slogan motivasi, tetapi merupakan cara hidup yang memerlukan pengetahuan, tata krama, dan proses yang panjang dalam pemahaman.
Lebih menyedihkan lagi, ketika aib dan dosa malah dijadikan bahan tertawa atau tren. Apa yang dulunya dijaga dengan rasa malu kini terlihat diungkapkan demi kehadiran di dunia digital.
Dalam Islam, rasa malu (al-haya') merupakan bagian dari iman. Hilangnya rasa malu bukanlah tanda kebebasan, melainkan menunjukkan adanya krisis akhlak yang halus namun berbahaya.
Meski demikian, sepenuhnya menyalahkan teknologi juga bukanlah langkah yang adil. Media sosial hanyalah alat. Apa yang menentukan manfaat atau mudaratnya adalah manusia itu sendiri. Islam tidak menolak kemajuan, tetapi mengharuskan adanya tanggung jawab moral dalam penggunaannya.
Dakwah di zaman digital tetap bisa menjelma menjadi ladang pahala, asalkan dilakukan dengan pengetahuan, keikhlasan, dan pendekatan untuk membimbing, bukan untuk menghakimi.
Umat Muslim saat ini memerlukan dakwah yang menenangkan, bukan yang memprovokasi; yang memberikan pencerahan, bukan yang memperumit. Dakwah yang mengajak berpikir, bukan hanya mengikuti arus. Di tengah dunia yang bising oleh berbagai pendapat, Islam justru mengajarkan kedamaian dan kebijaksanaan.
Pada akhirnya, tantangan terbesar umat Islam di era viral bukanlah bagaimana cara membuat agama terlihat menarik, tetapi bagaimana mempertahankan keikhlasan ketika agama disajikan sebagai tontonan. Sebab, Islam tidak memerlukan ketenaran untuk menjadi benar. Ia hanya butuh hati yang tulus untuk dilaksanakan.
Rizkya Putri M
Tidak ada komentar
Posting Komentar