Ketakwaan: Antara Nasihat Mimbar dan Praktik Sehari-hari

Dakwahpos.com, Bandung - Pada Khutbah Jumat di Masjid Miftahul Ilmi Palasari, Cibiru, kembali mengingatkan jamaah tentang pentingnya iman dan takwa sebagai jalan keselamatan dunia dan akhirat. Pesannya terdengar sederhana: taat pada perintah Allah, jauhi larangan-Nya, dan jangan pernah meninggalkan shalat. Namun pertanyaannya, seberapa jauh pesan itu benar-benar kita jalani dalam hidup sehari-hari?


Banyak dari kita rajin shalat, tapi masih gampang marah, suka menunda janji, atau bersikap tidak adil ketika berurusan dengan orang lain. Padahal, seperti yang disampaikan khatib, shalat bukan sekadar kewajiban rutin, melainkan bukti nyata ketakwaan. Jika shalat benar-benar kita pahami dan hayati, seharusnya ia membentuk sikap kita—lebih jujur, lebih sabar, dan lebih bertanggung jawab, baik di rumah, kampus, maupun tempat kerja 


Pesan tentang Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman hidup juga sering kita dengar. Masalahnya bukan pada kurangnya nasihat, tapi pada keberanian untuk mempraktikkannya. Mudah mengutip ayat, tapi sulit menerapkannya saat berhadapan dengan godaan uang, jabatan, atau gengsi. Di sinilah ketakwaan diuji: apakah kita benar-benar mau "diatur oleh Allah", atau hanya memilih ajaran yang terasa nyaman bagi diri sendiri.


Khutbah tersebut seolah mengingatkan bahwa yang akan ditanya pertama kali di akhirat nanti bukan seberapa kaya kita, bukan seberapa tinggi jabatan kita, melainkan shalat kita. Ini tamparan halus bagi siapa pun yang terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.


Akhirnya, ketakwaan bukan soal siapa yang paling sering bicara agama, tapi siapa yang paling konsisten menjadikan nilai agama sebagai pegangan hidup. Dimulai dari hal kecil: shalat tepat waktu, jujur dalam urusan, dan tidak merugikan orang lain. Dari situlah ketakwaan berhenti menjadi sekadar tema khutbah, lalu berubah menjadi sikap hidup yang nyata.

Reporter : Muhammad Aqila Diaurrahman (KPI/3A)


Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024