Dalam setiap ibadah shalat berjamaah, Islam menekankan pentingnya kerapian dan kesatuan barisan. Salah satu pelajaran berharga dari kajian fiqih shalat adalah pemahaman tentang makna "merapatkan barisan" yang kerap disalahartikan. Banyak jamaah memahami istilah ini sebagai perintah untuk melekatkan kaki ke kaki orang di sebelahnya, padahal esensi yang dikehendaki bukan pada sentuhan fisik, melainkan pada keteraturan dan kebersamaan hati dalam beribadah.
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Luruskanlah shaf-shaf kalian dan rapatkanlah, karena sesungguhnya lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kelurusan saf bukan sekadar persoalan jarak antarjamaah, tetapi lambang persatuan umat. Merapatkan saf berarti menjaga kerapian, tidak meninggalkan celah yang bisa mengganggu kekhusyukan dan kesatuan jamaah, namun juga tidak memaksakan kedekatan yang justru menimbulkan ketidaknyamanan.
Makna mendalam dari ungkapan "merapatkan tanpa melekatkan" adalah keseimbangan antara disiplin dan toleransi. Islam tidak hanya mengajarkan keseragaman dalam gerakan, tetapi juga harmoni dalam kebersamaan. Ketika barisan shalat rapi, umat diajak menyamakan arah hati kepada Allah SWT, bukan sekadar menyamakan posisi kaki di lantai masjid. Dalam konteks ini, kerapian saf menjadi simbol ukhuwah yang menolak kesenjangan dan perpecahan di antara kaum Muslimin.
Al-Qur'an juga menyinggung nilai kebersamaan ini dalam firman Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."
(QS. As-Saff [61]: 4)
(QS. As-Saff [61]: 4)
Ayat ini menegaskan betapa Allah mencintai keteraturan dan kekompakan dalam setiap amal, termasuk shalat. Dari saf yang lurus dan rapat, tumbuh kesadaran kolektif bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab menjaga kesatuan umat. Dengan demikian, kerapian saf bukan sekadar tata cara lahiriah, tetapi juga latihan spiritual untuk menata hati agar tetap bersatu dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Reporter: M. Fauzan S. Bachrul Ulum, KPI/3C
Tidak ada komentar
Posting Komentar