Dakwahpos.com, Bandung — Kajian mingguan yang diisi Ustaz Muslih kembali menyita perhatian jamaah ketika ia menekankan pentingnya syukur sebagai kunci menjaga kelapangan nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada manusia.
Dalam ceramah yang berlangsung hangat itu, Ustaz Muslih mengajak jamaah melihat kembali betapa luasnya nikmat Allah yang sering terlewat tanpa disadari. Ia menegaskan bahwa setiap langkah hidup manusia merupakan bagian dari karunia yang tidak mungkin terhitung satu per satu. "Nikmat Allah itu tidak hanya berupa kesehatan atau rezeki. Setiap pertemuan, setiap kesempatan untuk beribadah pun bagian dari nikmat yang perlu kita jaga," ujar Ustaz Muslih saat menyampaikan materi kajian, Sabtu (6/11/2025).
Ia kemudian mengutip ayat Al-Qur'an sebagai pengingat bahwa manusia kerap lalai dalam menyadari pemberian Allah. Menurutnya, ayat tersebut bukan sekadar peringatan, melainkan dorongan agar umat Islam menata kembali rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari. "Kalau seseorang bersyukur, Allah akan menambah nikmat itu. Tetapi jika kufur, nikmat bisa saja dicabut," ungkapnya.
Ustaz Muslih juga menekankan bahwa sikap iri dan dengki menjadi penghalang terbesar rasa syukur. Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki porsi rezeki yang sudah ditetapkan Allah, sehingga tidak perlu membandingkan diri secara berlebihan dengan kehidupan orang lain. "Hati akan lebih tenteram jika kita menerima apa yang Allah tetapkan, tanpa menoleh terus kepada apa yang dimiliki orang lain," kata Ustaz Muslih.
Para jamaah tampak antusias mengikuti jalannya pengajian. Beberapa di antaranya mencatat penjelasan ustaz sebagai bahan renungan pribadi. Momen tersebut menjadi pengingat kolektif bahwa syukur bukan hanya ucapan lisan, tetapi sikap hidup yang tercermin dari ibadah dan penerimaan terhadap setiap ketentuan Allah.
Kajian ditutup dengan doa bersama serta harapan agar para jamaah pulang dengan pemahaman yang lebih jernih mengenai makna syukur. Suasana pengajian tampak lebih teduh ketika jamaah menundukkan kepala, menadahkan tangan, dan mengamini doa yang dipanjatkan.
Reporter: Sri Septia, KPI/3B
Dalam ceramah yang berlangsung hangat itu, Ustaz Muslih mengajak jamaah melihat kembali betapa luasnya nikmat Allah yang sering terlewat tanpa disadari. Ia menegaskan bahwa setiap langkah hidup manusia merupakan bagian dari karunia yang tidak mungkin terhitung satu per satu. "Nikmat Allah itu tidak hanya berupa kesehatan atau rezeki. Setiap pertemuan, setiap kesempatan untuk beribadah pun bagian dari nikmat yang perlu kita jaga," ujar Ustaz Muslih saat menyampaikan materi kajian, Sabtu (6/11/2025).
Ia kemudian mengutip ayat Al-Qur'an sebagai pengingat bahwa manusia kerap lalai dalam menyadari pemberian Allah. Menurutnya, ayat tersebut bukan sekadar peringatan, melainkan dorongan agar umat Islam menata kembali rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari. "Kalau seseorang bersyukur, Allah akan menambah nikmat itu. Tetapi jika kufur, nikmat bisa saja dicabut," ungkapnya.
Ustaz Muslih juga menekankan bahwa sikap iri dan dengki menjadi penghalang terbesar rasa syukur. Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki porsi rezeki yang sudah ditetapkan Allah, sehingga tidak perlu membandingkan diri secara berlebihan dengan kehidupan orang lain. "Hati akan lebih tenteram jika kita menerima apa yang Allah tetapkan, tanpa menoleh terus kepada apa yang dimiliki orang lain," kata Ustaz Muslih.
Para jamaah tampak antusias mengikuti jalannya pengajian. Beberapa di antaranya mencatat penjelasan ustaz sebagai bahan renungan pribadi. Momen tersebut menjadi pengingat kolektif bahwa syukur bukan hanya ucapan lisan, tetapi sikap hidup yang tercermin dari ibadah dan penerimaan terhadap setiap ketentuan Allah.
Kajian ditutup dengan doa bersama serta harapan agar para jamaah pulang dengan pemahaman yang lebih jernih mengenai makna syukur. Suasana pengajian tampak lebih teduh ketika jamaah menundukkan kepala, menadahkan tangan, dan mengamini doa yang dipanjatkan.
Reporter: Sri Septia, KPI/3B
Tidak ada komentar
Posting Komentar