Selasa, 16 Desember 2025
Dakwahpos.com, Bandung - Kerusakan lingkungan menjadi salah satu persoalan paling serius yang dihadapi umat manusia saat ini. Perubahan iklim, pencemaran air dan udara, deforestasi, serta krisis sampah adalah dampak nyata dari perilaku manusia yang abai terhadap keseimbangan alam. Dalam konteks ini, dakwah Islam tidak dapat lagi hanya berfokus pada aspek ritual semata, tetapi perlu menghadirkan pesan keagamaan yang responsif terhadap persoalan ekologis. Dakwah ekologis menjadi jembatan penting untuk menyatukan ajaran Islam dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Islam sejatinya memiliki landasan teologis yang kuat dalam menjaga alam. Al-Qur'an menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah fi al-ardh (pemimpin di bumi) yang memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga keseimbangan ciptaan Allah Swt. Kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini bukanlah kehendak Tuhan, melainkan akibat dari keserakahan dan ketidakadilan manusia dalam mengelola sumber daya alam. Oleh karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar isu sosial, melainkan bagian dari amanah keimanan.
Dakwah ekologis menuntut perubahan paradigma dalam memahami ibadah. Ibadah tidak hanya dimaknai sebagai hubungan vertikal antara manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama makhluk dan alam sekitar. Perilaku sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air, menjaga kebersihan masjid, hingga menanam pohon merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai Islam yang mengajarkan kesucian, keseimbangan, dan kemaslahatan. Dengan demikian, dakwah ekologis mendorong umat Islam untuk mengamalkan ajaran agama secara kontekstual dan aplikatif.
Di era modern, dakwah ekologis juga perlu memanfaatkan media dan pendekatan yang relevan dengan masyarakat. Media sosial, khutbah Jumat, majelis taklim, hingga pendidikan keagamaan di sekolah dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan kepedulian lingkungan berbasis nilai Islam. Dai dan tokoh agama memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sosial yang mampu membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral.
Selain itu, dakwah ekologis berpotensi memperkuat citra Islam sebagai agama yang rahmatan lil-'alamin. Ketika Islam hadir sebagai solusi atas krisis lingkungan, maka dakwah tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga solutif. Islam tidak sekadar mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memberikan panduan etis dalam mengelola bumi secara adil dan berkelanjutan. Pendekatan ini sangat relevan dalam masyarakat multikultural yang tengah mencari nilai-nilai universal untuk menyelamatkan masa depan bumi.
Pada akhirnya, dakwah ekologis merupakan kebutuhan mendesak di tengah krisis lingkungan global. Menyatukan ajaran Islam dengan kepedulian terhadap lingkungan bukanlah hal baru, melainkan upaya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Islam yang selama ini terabaikan. Melalui dakwah ekologis, umat Islam diajak untuk menjadi pelopor dalam menjaga alam, bukan hanya demi keberlangsungan hidup manusia, tetapi juga sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt. Menjaga bumi berarti menjaga amanah, dan menjaga amanah adalah bagian dari iman.
Haikal Faliqul/KPI 3B
Tidak ada komentar
Posting Komentar