Dakwahpos.com, Bandung - Di tengah derasnya arus media sosial, dakwah Islam menghadapi tantangan sekaligus peluang yang tidak kecil. Perkembangan teknologi membuat pesan keislaman dapat tersebar luas dalam waktu singkat, menjangkau berbagai lapisan masyarakat, khususnya generasi muda. Namun di sisi lain, dakwah juga diuji untuk tetap menjaga nilai, kedalaman makna, dan adab dalam penyampaiannya.
Fenomena dakwah digital hari ini menunjukkan bahwa Islam semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari umat. Kajian singkat, potongan ceramah, hingga konten reflektif menjadi sarana baru dalam menyampaikan pesan kebaikan. Hal ini sejalan dengan prinsip dakwah bil hikmah, yakni menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang bijaksana dan sesuai dengan kondisi mad'u.
Meski demikian, dakwah tidak boleh kehilangan substansinya. Ketika dakwah terlalu mengejar viralitas, ada risiko pesan disederhanakan secara berlebihan, bahkan terlepas dari konteks keilmuan. Padahal, dakwah sejatinya bukan hanya soal menarik perhatian, tetapi juga membimbing pemahaman dan membentuk akhlak.
Oleh karena itu, peran media dakwah seperti Dakwah Pos menjadi penting sebagai penyeimbang. Media dakwah diharapkan tidak hanya menyampaikan informasi keislaman, tetapi juga menghadirkan narasi yang menenangkan, mencerdaskan, dan mempersatukan umat. Dakwah yang baik adalah dakwah yang mengajak, bukan menghakimi; merangkul, bukan memukul.
Di era digital ini, dakwah perlu terus beradaptasi tanpa kehilangan ruhnya. Selama nilai keikhlasan, keilmuan, dan adab tetap dijaga, dakwah akan selalu menemukan jalannya baik di mimbar masjid maupun di layar gawai.
Fenomena dakwah digital hari ini menunjukkan bahwa Islam semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari umat. Kajian singkat, potongan ceramah, hingga konten reflektif menjadi sarana baru dalam menyampaikan pesan kebaikan. Hal ini sejalan dengan prinsip dakwah bil hikmah, yakni menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang bijaksana dan sesuai dengan kondisi mad'u.
Meski demikian, dakwah tidak boleh kehilangan substansinya. Ketika dakwah terlalu mengejar viralitas, ada risiko pesan disederhanakan secara berlebihan, bahkan terlepas dari konteks keilmuan. Padahal, dakwah sejatinya bukan hanya soal menarik perhatian, tetapi juga membimbing pemahaman dan membentuk akhlak.
Oleh karena itu, peran media dakwah seperti Dakwah Pos menjadi penting sebagai penyeimbang. Media dakwah diharapkan tidak hanya menyampaikan informasi keislaman, tetapi juga menghadirkan narasi yang menenangkan, mencerdaskan, dan mempersatukan umat. Dakwah yang baik adalah dakwah yang mengajak, bukan menghakimi; merangkul, bukan memukul.
Di era digital ini, dakwah perlu terus beradaptasi tanpa kehilangan ruhnya. Selama nilai keikhlasan, keilmuan, dan adab tetap dijaga, dakwah akan selalu menemukan jalannya baik di mimbar masjid maupun di layar gawai.
Reporter: Najma Hanifati Hawa KPI3/D
Tidak ada komentar
Posting Komentar