Dakwahpos. Bandung – Coach Choqi Israqi, Life and Productivity Coach, memaparkan urgensi growth mindset bagi Muslim produktif dalam Kajian Ifthar Senin-Kamis (KISSMIS) di Masjid Salman ITB pada Senin (1/12/2025).
Coach Choqi Israqi menjelaskan bahwa produktivitas seorang Muslim tidak hanya dinilai dari kesibukan, tetapi dari kesesuaian usaha dengan tujuan hidup yang diridhai Allah. Dalam kajian tersebut, ia menegaskan bahwa produktif berarti
"menghabiskan waktu menukar waktunya mengeluarkan pikirannya mengeluarkan uang untuk apa untuk dekat kepada tujuannya. Nah itu disebut produktif ya."
Ia juga menyampaikan bahwa konsep growth mindset sebenarnya sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW jauh sebelum istilah itu dikenal dalam dunia pengembangan diri modern.
"Jadi sebetulnya kalau dalam Islam sendiri udah diajarkan growth mindset tanpa harus ada namanya... tidak ada seminar di zaman Rasul seminar growth mindset itu tidak ada tapi Rasul mencontohkan bagaimana growth mindset itu sebetulnya."
Dalam penjelasannya, Coach Choqi menghubungkan antara self-discovery, perencanaan hidup, dan tugas manusia sebagai khalifah di bumi. Ia menegaskan bahwa setiap Muslim perlu memahami bakat, minat, serta peran dirinya agar mampu mencapai ahsanu 'amala.
"Kita bertanya tentang Ahsanu Amala. Nah, untuk punya high perform karir harus gimana?" ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya membuat life plan, serta meluruskan kesalahpahaman sebagian orang yang enggan merencanakan hidup karena menganggap semuanya sudah ditentukan oleh takdir. Ia mengingatkan bahwa manusia tetap berkewajiban berikhtiar.
"Itu bukan ranah kita. Ranah kita mah, kita tidak tahu takdir kita ke depan maka kita mengusahakan takdir yang terbaik."
Sebagai contoh nyata, ia menceritakan bagaimana rencananya sempat berantakan ketika harus merawat ayahnya yang sakit pada 2017, namun karena memiliki rencana hidup, ia tetap bisa menata ulang prioritas.
"Apakah jadwal terganggu nggak? Terganggu… tapi kalau sudah punya planning tinggal ditarik nih…" katanya.
Coach Choqi juga mengaitkan konsep growth mindset dengan kemampuan menghadapi perubahan, termasuk pandemi Covid-19. Ia menunjukkan bahwa orang dengan growth mindset melihat tantangan sebagai peluang.
"Kalau ada tantangan, diuji, ditantang, itu merasa ini kesempatan buat berkembang. Cobain ah gitu."
Dalam penutup sesi, ia menegaskan bahwa kegagalan bukan hal yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses belajar.
"Growth mindset memahami gagal itu bagian dari belajar."
Reporter: Fira Nur Syakila Rahman/ KPI 3C
Tidak ada komentar
Posting Komentar