Budaya Tabayyun sebagai Pondasi Literasi Digital Generasi Muda

 Di tengah derasnya arus informasi, literasi digital menjadi kebutuhan dasar bagi masyarakat, terutama generasi muda yang paling aktif bermedia sosial. Tanpa kemampuan memverifikasi kabar, ruang digital akan semakin dipenuhi hoaks dan persepsi yang menyesatkan.


Fenomena hoaks yang cepat menyebar menunjukkan bahwa banyak pengguna media sosial masih kesulitan membedakan kebenaran dari manipulasi. Kondisi ini turut disoroti oleh Erfan Hasmin, Kepala Unit ICT UNDIPA Makassar, yang menegaskan,
"Kurangnya literasi digital dan media sosial dapat membuat orang sulit membedakan antara informasi yang benar dan hoaks."

Pernyataannya bukan sekadar catatan teknis, tetapi gambaran nyata bahwa masyarakat masih belum sepenuhnya siap menghadapi derasnya informasi digital. Kemampuan kritis dan kebiasaan mengecek sumber menjadi hal yang sangat mendesak.

Dalam perspektif Islam, sikap selektif terhadap informasi bukan sesuatu yang baru. Prinsip tabayyun sudah jelas disampaikan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6,
"Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…"
Ajaran ini menegaskan bahwa kehati-hatian dalam menerima informasi adalah bagian dari nilai keimanan, bukan sekadar etika media.

Rasulullah SAW juga memperingatkan tentang bahaya menyebarkan kabar tanpa verifikasi melalui sabdanya,
"Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menceritakan segala sesuatu yang ia dengar." (HR. Muslim).
Hadis ini relevan banget di era digital saat satu klik saja bisa menggerakkan ribuan orang dan memicu kesalahpahaman dalam hitungan menit.

Keduanya—ilmu modern dan ajaran Islam—sebenarnya saling melengkapi. Literasi digital mengajarkan cara memilah informasi, sementara tabayyun memberikan fondasi moral agar setiap tindakan digital selaras dengan nilai kehati-hatian dan tanggung jawab sosial.


Era digital menuntut masyarakat untuk bukan hanya menjadi pengguna aktif, tetapi juga pengguna yang bertanggung jawab. Menggabungkan literasi digital dengan prinsip tabayyun dapat menjadi solusi kuat untuk menciptakan ruang informasi yang lebih sehat dan aman. Jika generasi muda mampu bersikap kritis sekaligus menjaga nilai-nilai moral, maka ruang digital Indonesia akan lebih matang, jernih, dan berdaya guna.

Penulis : Raihana Nasywa Grafisa/KPI3B



Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024