Masjid Al-Hidayah Kebon Terong menggelar peringkatan Maulid Nabi Muhammad Saw dengan meriah, dihiasi tampilan hadrah dari kalangan anak-anak dan ibu-ibu. Dalam ceramahnya, seorang da'i menekankan bahwa esensi Maulid bukanlah sekedar seremonial, tetapi mengambil pelajaran dari kehidupan Rasulullah untuk diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis berpendapat bahwa pesan da'i tersebut sangat relevan namun sangat sulit untuk diwujudkan. Harus diakui, meneladani akhlak mulia Rasulullah di jaman modern ini bukanlah hal yang mudah. Kenyataan, banyak kalangan anak muda yang terjebak dalam kesibukan hingga alasan "kurangnya waktu", sehingga peringkatan Maulid hanya berakhir sebagai acara seremonial tahunan tanpa makna yang mengakar dalam perilaku.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memaknai Maulid bukan dengan sekadar "ikut-ikutan" hadir dalam acara, melainkan dengan komitmen untuk meneladani perilaku Rasulullah dalam aksi nyata. Esensi dari Tajkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan keseimbangan ibadah yang disampaikan oleh da'i seharusnya menjadi sebuah pegangan. Membaca ayat-ayat Allah, baik yang tertulis (qouliyah) maupun yang terbentang di alam (kauniyah), serta memperbanyak dzikir dalam segala kondisi, adalah teladan praktis yang seharusnya bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari meski ditengah kesibukan.
Sudah saatnya kita melampui anggapan sebagai acara sementara. Peringatan Maulid yang sejati terletak pada upaya kita untuk menjadikan akhlak beliau sebagai arah dalam bergaul, bekerja, dan bermasyarakat di era sekarang. Mari jadikan momen Maulid tahun ini sebagai titik balik untuk menciptakan perubahan diri yang lebih baik lagi, dari sekadar mendengarkan hingga menjadi pelaku yang bisa meneladani.
Reporter : Selvi Selviana KPI/3B
Tidak ada komentar
Posting Komentar