Kita sering mendengar kata takwa diucapkan di banyak kesempatan, tapi jarang benar-benar memaknai apa artinya dalam kehidupan sosial. Takwa bukan sekadar urusan ibadah pribadi atau ritual keagamaan yang berhenti di masjid. Ia seharusnya hidup dalam cara kita bersikap, bekerja, dan memperlakukan orang lain.
Karena sejatinya, takwa juga berbicara tentang tanggung jawab sosial tentang keadilan, empati, dan keberanian untuk menolak ketimpangan. Namun, sekuat apa pun iman seseorang, ia tetap butuh sistem yang berpihak pada kebaikan. Di sinilah negara seharusnya hadir: bukan hanya sebagai penguasa, tapi sebagai pelindung yang memastikan rakyatnya bisa hidup layak dan bermartabat.
Faktanya, masih banyak orang di negeri ini yang kehilangan harapan karena tekanan hidup dan kemiskinan. Ada yang menyerah, bukan karena kurang iman, tapi karena lelah berjuang sendirian. Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap ujian harus dihadapi dengan sabar dan ikhtiar dan negara punya peran untuk memastikan warganya tak jatuh ke titik putus asa itu.
Kesejahteraan sejati tidak akan lahir dari angka-angka ekonomi semata. Ia tumbuh dari keadilan yang nyata, dari kebijakan yang berpihak pada manusia. Ketika pemimpin memahami amanahnya bukan sebagai kekuasaan, melainkan tanggung jawab, dan masyarakat saling peduli tanpa menutup mata pada penderitaan sekitar, di situlah makna takwa benar-benar hidup.
Selama iman masih dipisahkan dari urusan sosial dan negara berjalan tanpa nurani, kesejahteraan akan tetap menjadi mimpi yang tertunda. Sudah saatnya kita berhenti menjadikan takwa sebagai kata yang indah di ucapan, tapi kosong di tindakan. Sebab, hanya dengan takwa yang menyentuh hati dan kebijakan, umat ini bisa benar-benar sejahtera.
Dimida Zahwa, KPI 3/B
Karena sejatinya, takwa juga berbicara tentang tanggung jawab sosial tentang keadilan, empati, dan keberanian untuk menolak ketimpangan. Namun, sekuat apa pun iman seseorang, ia tetap butuh sistem yang berpihak pada kebaikan. Di sinilah negara seharusnya hadir: bukan hanya sebagai penguasa, tapi sebagai pelindung yang memastikan rakyatnya bisa hidup layak dan bermartabat.
Faktanya, masih banyak orang di negeri ini yang kehilangan harapan karena tekanan hidup dan kemiskinan. Ada yang menyerah, bukan karena kurang iman, tapi karena lelah berjuang sendirian. Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap ujian harus dihadapi dengan sabar dan ikhtiar dan negara punya peran untuk memastikan warganya tak jatuh ke titik putus asa itu.
Kesejahteraan sejati tidak akan lahir dari angka-angka ekonomi semata. Ia tumbuh dari keadilan yang nyata, dari kebijakan yang berpihak pada manusia. Ketika pemimpin memahami amanahnya bukan sebagai kekuasaan, melainkan tanggung jawab, dan masyarakat saling peduli tanpa menutup mata pada penderitaan sekitar, di situlah makna takwa benar-benar hidup.
Selama iman masih dipisahkan dari urusan sosial dan negara berjalan tanpa nurani, kesejahteraan akan tetap menjadi mimpi yang tertunda. Sudah saatnya kita berhenti menjadikan takwa sebagai kata yang indah di ucapan, tapi kosong di tindakan. Sebab, hanya dengan takwa yang menyentuh hati dan kebijakan, umat ini bisa benar-benar sejahtera.
Dimida Zahwa, KPI 3/B
Tidak ada komentar
Posting Komentar