Hidup di era modern yang penuh dengan hiruk-pikuk dan tuntutan duniawi sering membuat manusia lupa pada hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Dalam khutbah Jumat di Masjid Nurul Jihad Kiaracondong (26/09/2025) yang bertemakan "Apa Makna Hidup yang Terjaga?", Ustadz Zainal mengingatkan bahwa ketenangan dan makna hidup sejati hanya dapat ditemukan melalui ketakwaan kepada Allah SWT.
Taqwa bukan sekadar kata yang sering diucapkan dalam ceramah, tetapi merupakan fondasi kehidupan yang seharusnya menjadi arah bagi setiap Muslim. Hidup bertaqwa berarti hidup dengan kesadaran penuh terhadap kehadiran Allah, menjalankan perintah-Nya dengan ikhlas, dan menjauhi larangan-Nya tanpa pamrih. Dalam pandangan penulis, inilah makna hidup yang "terjaga" — hidup yang selalu dalam pengawasan nilai-nilai ilahi.
Ustadz Zainal dalam khutbahnya menegaskan pentingnya melaksanakan seluruh perintah Allah dengan niat yang tulus. Ia mengutip berbagai ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan berbakti kepada orang tua sebagai wujud nyata ketakwaan. Namun, yang paling penting bukan sekadar pelaksanaan lahiriah, melainkan keikhlasan yang mendasari setiap amal. Pesan ini terasa sangat relevan di tengah masyarakat modern yang sering menilai kesuksesan dari sisi materi dan pengakuan sosial.
Penulis berpendapat bahwa makna hidup yang terjaga adalah ketika seseorang mampu menyeimbangkan urusan dunia dengan kewajiban spiritualnya. Taqwa menghadirkan kedamaian batin yang tidak dapat dibeli dengan harta, jabatan, ataupun popularitas. Orang yang bertakwa, sebagaimana disampaikan Ustadz Zainal, akan memperoleh rahmat, ampunan, serta kemudahan hidup dari Allah SWT. Dalam konteks sosial, nilai taqwa juga menjadi benteng moral bagi masyarakat agar tidak terjerumus dalam arus kehidupan yang serba permisif dan materialistis.
Hidup yang terjaga bukan berarti hidup yang tanpa masalah, tetapi hidup yang selalu sadar bahwa setiap ujian adalah bagian dari kasih sayang Allah. Dengan demikian, khutbah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ketenangan sejati tidak datang dari pencapaian dunia, melainkan dari hubungan yang kuat dengan Sang Pencipta.
Penulis: Maulana Syarif KPI/3C
Tidak ada komentar
Posting Komentar