Tausyiah Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid An-Nur pada Rabu, 10 September 2025, terasa hangat dan penuh makna. Ratusan ibu-ibu dari Majelis Ta'lim hadir memenuhi masjid, semuanya antusias mendengarkan. Dewan Kemakmuran Masjid menggelar acara ini, dan pada saat itu Ustadz Yayat Ruhiyat jadi penceramah, membawakan tema "Maulid Nabi Muhammad SAW & Keteladanannya." Lewat ceramahnya, Ustadz Yayat mengajak jamaah merenungkan kembali perjalanan hidup Rasulullah, supaya kita bisa benar-benar meneladani beliau dalam keseharian.
Di awal tausyiah, Ustadz Yayat menekankan pentingnya bersyukur atas nikmat iman dan Islam. Menurut beliau, jadi umat Nabi Muhammad SAW itu anugerah besar yang tidak semua orang dapat. Jadi, Maulid Nabi bukan cuma soal perayaan, tapi juga momen untuk memperkuat cinta dan komitmen kita menjalani ajaran beliau.
Ustadz Yayat lalu bicara soal keteladanan Rasulullah. Katanya, keteladanan Nabi itu luas bukan cuma soal ibadah, tapi juga akhlak, kehidupan sosial, bahkan kepemimpinan. Ustadz Yayat mengutip QS. Al-Ahzab ayat 21, yang menegaskan Nabi Muhammad adalah teladan terbaik. Dalam ibadah, Nabi selalu serius dan disiplin, padahal beliau sendiri maksum. Keteladanan ini, menurut Ustadz Yayat, menandakan syukur Nabi yang luar biasa kepada Allah SWT.
Di sisi akhlak, Rasulullah dikenal lembut, sabar, dan tak pernah berkata kasar. Aisyah RA pernah bilang, akhlak Nabi adalah Al-Qur'an artinya, tiap perilaku beliau mencerminkan kemuliaan. Ustadz Yayat pun mengajak jamaah meniru sifat-sifat itu. Mulai dari menjaga lisan, menghindari ghibah, sampai membiasakan tersenyum dan menebar kebaikan, sekecil apa pun.
Dalam kehidupan bermasyarakat, Rasulullah juga jadi contoh. Beliau menghormati perempuan, menjaga hubungan baik dengan tetangga, dan bijak bergaul dengan siapa saja. Ustadz Yayat menegaskan, keteladanan sosial seperti ini penting banget untuk dihidupkan lagi, apalagi di tengah situasi zaman sekarang yang penuh tantangan moral.
Soal kepemimpinan, Ustadz Yayat mengingatkan bahwa Nabi bukan cuma pemimpin agama, tapi juga pemimpin negara. Nabi menata masyarakat, memilih pemimpin wilayah, membuat hukum, dan selalu adil dalam mengatasi masalah. Beliau membacakan QS. An-Nisa ayat 64, menegaskan umat wajib taat pada Rasul, kecuali aturan yang memang khusus untuk beliau.
Menjelang akhir, Ustadz Yayat mengajak jamaah memperbanyak doa minta kekuatan, keistiqamahan, dan kesehatan dalam hidup. Harapannya, Maulid kali ini benar-benar jadi momen perbaikan diri dan menghidupkan kembali teladan Rasulullah, baik dalam ibadah, akhlak, maupun tindakan sosial. Lewat pengajian ini, jamaah diingatkan, meneladani Nabi bukan cuma soal ritual, tapi perjalanan panjang memperbaiki diri. Dengan meniru jejak beliau, umat Islam bisa jadi pribadi yang lebih baik dan memberi manfaat nyata untuk sekelilingnya.
Nakhla Zayna Azkiya KPI 3/B
Tidak ada komentar
Posting Komentar