x
BREAKING NEWS

Minggu, 22 Oktober 2017

Maritim Rasa Kaki Lima

Oleh: Khafidin

17 agustus 1945 kemerdekaan indonesia dinilai sangat bebas oleh masyarakat umum, sehingga banyak masyarakat yang tidak terlalu mempedulikan lingkungan apa yang disekitar nya, lain hal nya atau berbanding terbalik dengan kemaritiman sejak hari kemerdekaan, indonesia mengelola kemaritimannya seperti layaknya kaki lima, sehingga negara lain tidak ada yang segan dan menghormati indonesia lagi sebagai negara maritim terbesar.

Mereka hanya mneganggap indonesia sebagai sumber pemasaran kemaritiman dan mengambil sumber daya yang ada di indonesia.

Poros maritim Indonesia sekarang sangat lemah. Bayangkan saja, banyak oknum-oknum tertentu yang mencuri kekayaan laut di Indonesia secara illegal dan hukum tentang laut di Indonesia seolah-olah tidak mampu mengatasinya. Tentu kejadian tersebut tidak lepas dari kekuatan sebuah pelabuhan. Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia sekarang hanya menjadi tempat berlabuh kapal-kapal saja. Hubungan antar pelabuhan di Indonesia sekarang tidak kuat sehingga membuat poros maritim Indonesia lemah. Negara-negara luar juga tidak terlalu bergantung lagi kepada kemaritiman Indonesia.

Berbanding terbalik dengan para leluhur kita, Pada kuartal ketiga abad ke-12, seorang penulis Cina mengatakan, "Dari semua kerajaan asing yang kaya raya sekaligus memiliki simpanan barang-barang berharga dan banyak macamnya, tidak ada yang melebihi bangsa Ta-Shih (Arab). Posisi kedua ditempati oleh She-p'o (Jawa/Majapahit), sementara San-fo-chi (Sriwijaya) di tempat ketiga. Marco Polo, seorang pedagang dan penjelajah Italia juga menyatakan tentang Nusantara, "Jumlah emas yang dikumpulkan di sana lebih banyak daripada yang dapat dihitung dan hampir tak dapat dipercaya. Kemudian, dari tempat itulah para pedagang dari Zai-tun (Hangzhou, Cina) dan Manji mengimpor logam mulia, yang menurut ukuran impor masa kini, jumlahnya sangat besar."

Jadi hampir semua negara besar di belahan bumi ini mengenal dan menghormati kakek dan nenek moyang kita, Dan pada hari kamis 11 mei 2017 indonesia di gemparkan oleh penghargaan yang diterima oleh mentri kelautan dan perikanan Susi Pudjiastuti karena menerima penghargaan Peter Benchley Ocean Awards kategori kepemimpinan. Penghargaan ini merupakan penghargaan bidang maritim tertinggi dunia. Susi mendapatkannya atas visi dan kebijakan pembangunan ekonomi dan konservasi laut di Indonesia.

Tapi itu semua hanya satu sisi, bagaimana dengan masyarakat awam dan para pencinta politik negeri kita?.....

Di depan manis di belakang pahit, itulah fakta dari kemaritiman kita sekarang, kementrian dan pemerintah hanya melihat hasil yang didapatkan oleh mentri kelautan dan perikanan Susi pudjiastuti, tetapi pemerintah kurang memperhatikan apa yang dibelakang sana, tarnsaksi, jual beli industri banyak dilakukan oleh masyarakat-masyarakat awam, sehingga di sisi lain pemerintah membangun akan tetapi disisi lain masyarkat merusak.

Disitulah mengapa pemerintah juga harus lebih banyak memperhatikan hal-hal terkecil permasalahan negara, bukan hanya permaslahan yang mencolok saja.

 Permasalahan demi permasalahan di jadikan sebagai pembelajaran bagi seluruh warga negara, karena bukan hanya mentri kelautan dan perikanan, pemerintah, dan presiden, karena kenikmatan dan kerusakan bukan hanya dirasakan oleh mereka / petinggi negara saja, karena pada intinya pemerintah bekerja semata-mata hanya untuk kesejaheraan masyarakat nya,
Jadikan industri dan maritim kita sebagai aset negara terbesar kita, karena bangsa ini pernah jaya dan disegani oleh negara-negara maju sekarang kita berkembang bukan hanya  untuk melanjutkan apa yang sudah diraih oleh leluhur kita, melainkan kita harus lebih meningkatakan dan terus meningkatkan kejayaan negara kita.

Mahasiswa kpi uin sunan gunung djati bandung.

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Incsomnia Project