Tampilkan postingan dengan label Al-Maksudi Rancabolang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Maksudi Rancabolang. Tampilkan semua postingan

Masjid Al-Maksudi Rancabolang Gelar Perayaan Wisuda

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-Maksudi Rancabolang yang berlamatkan di jalan Gedebage Selatan menggelar program tahfidz bagi anak usia dini hingga remaja. Program tersebut diberi nama madrasatuna yang berarti sekolah kita. Program ini telah didirikan sejak tiga tahun yang lalu dan diikuti oleh siswa jenjang TK hingga SMP.

Pada akhir pembelajaran semesternya, program madratsatuna ini menggelar perayaan wisuda bagi para pesertanya. Pergelaran wisuda dilaksanakan di dalam area masjid Al-Maksudi Rancabolang setelah rangkaian kegiatan ujian tahfidz akhir semester dilaksanakan.

"Wisuda diadainnya setelah ujian, nanti kita ada ujian, ujian disana itu kan kita program tahfidz nah ujiannya itu kayak wisuda, kita kan setoran setiap hari, nah kalo udah sampai target kan diwisuda," ujar Shakira, ustazah Al-Maksudi.

Wisuda yang digelar pun dimeriahkan oleh penampilan penampilan dari para peserta. setelah pergelaran wisuda, para peserta akan diberi libur. Jadwal libur pun mengikuti kalender akademik sekolah "jadi ya biar liburnya juga bareng ya" tambah Shakira.

Ustazah Shakira menceritakan program yang meski baru tiga tahun ini berdiri, para warga sangat antuasias. Ia juga bercerita masih jarang sekali masjid masjid yang mengadakan program tahfidz untuk anak, dan jika ada program tahfidz, tidak ada wisuda sebagai apresiasi untuk para peserta. Maka dari itu Masjid Al-Maksudi ingin melakukan yang berbeda.

 "program tahfidz di madrasatuna ini karena banyak permintaan dari warga setempat yang ingin mengajukan adanya program tahfidz ini, karena kan biasanya kita diniyyah, cuman kita ingin membuat beda aja, jadi untuk program tahfidz khususnya untuk kalangan dini biar anak anak sudah terbiasa dengan Al-Qur'an sejak dini, kayak gitu, dan tidak seperti masjid masjid biasanya yang diadakannya program diniyyah kayak biasanya yang tidak ada wisuda dan lain lain" jelas Shakira.

Reporter: Kania Rahmawinata, Mahasiswi KPI 3B

Kupas Cara Mengenal Allah, Masjid Al-Maksudi Rancabolang Gelar Program Better Than Yesterday

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-Maksudi Rancabolang yang beralamatkan di jalan Gedebage Selatan menggelar kajian rohani bertema sedekat apa kita dengan Allah. Kajian ini merupakan salah satu program di Masjid Al-Maksudi yang bernama better than yesterday atau lebih baik dari hari kemarin. Kajian ini disampaikan oleh ustaz Ghany pada Minggu (03/12/2023).

Ustaz Ghany mengungkapkan kebiasaan sebagian manusia yang mendekatkan diri kepada Allah hanya pada masa masa sulit saja, sehingga ketika kesulitan itu telah selesai, kedekatan dengan Allahnya tidak akan bertahan lama. Ia juga mengungkapkan bahwa perintah mendekatkan diri kepada Allah itu selama 24 jam, bukan hanya pada detik kita mendapat kekecewaan.

"maka bagaimana caranya supaya Allah itu ada di di benak pikiran kita 24 jam saat tidur, saat berjalan, saat naik motor, tidak hanya di hal hal yang kondisi kita sedih, kecewa dan sebagainya, tapi Allah itu hadir di setiap waktu, gimana caranya, maka harus mengilmui, fa'lam annahu laa ilaaha illallahu, ilmuilah tentang Allah," ujar Ustaz Ghany.

Ia mengungkapkan pentingnya seorang muslim untuk mengilmui tentang Allah. Ia juga mengungkapkan ilmu itu letaknya di akal dan iman itu di hati, maka sebelum mengimani dengan hati, kita harus mengilmui lewat akal. Maka kita butuh sumber informasi, pengetahuan, proses berpikir, dan pemahaman, dari hal hal tersebut, kita akan dapat mengetahui siapa Allah.

Ustaz Ghany mengungkapkan bahwa untuk mengenal Allah adalah dengan melakukan perenungan. "Kebiasaan para nabi dan para sahabat adalah merenung dan berpikir, renungi Allah sebagai Rabb, tapi kita butuh sumber informasi, makanya membaca, iqro iqro iqro, dari Alquran dan referensi lainnya, supaya kita tahu Allah itu Rabb yang mengatur," ujar Ustaz Ghany

Reporter: Kania Rahmawinata, mahasiswi KPI 3B

Kajian Masjid Al-Maksudi Rancabolang: Solusi Kecemasan Jiwa

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-Maksudi Rancabolang yang beralamatkan di jalan Gedebage Selatan menggelar kajian rohani bertema terjebak realita diantara syukur dan kufur. Kajian ini merupakan salah satu program di Masjid Al-Maksudi yang bernama better than yesterday atau lebih baik dari hari kemarin. Kajian ini disampaikan oleh ustaz Imam Nuryanto pada Jumat (01/12/2023).
 
Ustaz Imam Nuryanto mengungkapkan bahwa rezeki seseorang tidak akan tertukar dengan orang lain seperti halnya jodoh. Ia mengungkapkan sebuah cerita tentang dua pasangan yang hendak menikah, keduanya sudah melakukan khitbah, namun ketika hendak menggelar pernikahan, pihak perempuan membatalkan sebab mengetahui pihak pria bermain di belakangnya. Dari pemaparan tersebut Ustaz Imam mengungkapkan bahwa tidak perlu risau sebab segala yang ada di dunia ini sudah diatur dan tidak akan tertukar, termasuk perkara jodoh.

"Setiap orang punya dua pintu di langit, tempat turunnya rezeki dan tempat naiknya amal," ujar ustaz Imam, "kaya dan kesholehan itu tidak ada hubungannya, jika ada ya orang sholeh akan kaya semuanya," lanjut beliau.

Ustaz imam juga mengungkapkan bahwa manusia akan menjalani takdirnya masing masing. Dua orang kakak beradik bisa saja dilahirkan di keluarga yang sama, pola asuh yang sama, didikan yang sama, namun takdir kedua kakak beradik tersebut di masa yang akan datang akan berbeda.

"setiap manusia itu sudah Allah kasih jatahnya, dan ingat firman Allah laqod Kholaqnal insana fi kabad, sungguh manusia itu dilahirkan dalam keadaan susah, jangan dianggap orang kayak seperti Rafi Ahmad tidak susah" ujar Ustaz Imam "jangan pernah iri dengan nikmat orang lain karena setiap orang sudah diberi kesusahannya masing masing," lanjut beliau.

Reporter: Kania Rahmawinata, Mahasiswi KPI 3B

Naufal Fatyu: Ustaz Muda yang Berdakwah Lewat Panggung Teater

Dakwahpos.com, Bandung – Muhammad Naufal Fatyu Robbani, seorang ustadz sekaligus influencer muda yang mengisi kajian di Masjid Al-Maksudi Rancabolang mengaku memiliki ketertarikan pada bidang sastra, seni dan sejarah sejak lama. Dari ketertarikannya itu banyak ia salurkan lewat konten konten yang ditonton ribuan orang di sosial medianya.

Siapa sangka berawal dari ketertarikannya di bidang seni, sastra dan sejarah dapat menghantarkan ustadz muda tersebut memainkan peran utama dalam pentas Teater 1923. Dalam teater tersebut, Naufal berperan sebagai idolanya, Mohammad Natsir, tokoh politik dan pergerakan dakwah islam di Indonesia.

"Sebenernya saya dari dulu itu suka sastra, seni,  sejarah itu kan satu paket ya, makanya di samping saya belajar agama, baca tafsir, saya juga suka  retorika orang berceramah, retorika orang bermonolog, makanya kemarin ikut teater, karena saya merasa memang ada bakat disana, ada value yang lebih disana," ceritanya.

Tidak hanya berbakat dalam bermain peran, ustadz muda tersebut ternyata berbakat dalam menulis naskah teater. Ia mengaku dipercayai oleh sutradara teater dalam membuat naskah beberapa fragmen dalam teater 1923, salah satunya ia bercerita dirinya membuat naskah romansa fragmen Natsir dan Nur Nahar.

"Ternyata ketika saya disuruh membuat kisah, saya ada bakat dan saya merasa enjoy ketika main, saya merasa ada ketertarikan pada akhirnya, dan teater ini pun bukan teater yang bebas ya, tapi teater dakwah yang sangat kental islamnya, dan sebenernya ini bagian dari dakwah ya, dakwah dengan seni, atau dakwah bil i'lam, dakwah dengan media," jelasnya.

Naufal juga menyampaikan bahwa teater yang ia pentaskan bukan hanya sekedar tontonan yang bersifat hiburan saja, tetapi ia berharap lewat teater tersebut dapat menghadirkan sosok role model bagi kalangan muda dan dapat menyampaikan nilai nilai islam disana, "Kini banyak anak muda yang salah role model, role model mereka hanya sebatas role model hiburan, bukan role model pejuang, ya hasilnya anak muda kini orientasinya hanya kepada hiburan," ujar Naufal.

 Ia menyampaikan bahwa nilai nilai islam bisa disampaikan melalui banyak bidang, pemikiran itulah yang membawa Naufal menjelajahi banyak bidang untuk berkarya. Tidak hanya berceramah dari mimbar ke mimbar, ia juga menghadirkan nilai islam lewat memerankan teater, membuat konten sosial media, menulis buku dan lain sebagainya, "Semua hal hal yang umum bisa kita kaitkan dengan nilai nilai kebaikan di dalam islam," tegasnya.

reporter: Kania Rahmawinata, Mahasiswa KPI 3B

Khutbah Jum’at Bahas Karakter Hadapi Kehidupan Dunia, Ustaz Ahmad Baihaqi: Mengeluh Itu Tanda Iman Lemah

Dakwahpos.com, Bandung - Khutbah Jum'at disampaikan oleh Ustaz Ahmad Baihaqi di Masjid Al-Maksudi Rancabolang dengan tema bagaimana sikap kita menghadapi kehidupan dunia pada Jum'at  (27/10/2023).

Khatib Jumat, Ustaz Ahmad Baihaqi mengungkapkan bahwa banyak diantara manusia yang ketika diberikan ujian oleh Allah Swt, mereka menyikapinya dengan stress. Ia juga memaparkan bagaimana sikap kita seharusnya dalam menghadapi kehidupan dunia merujuk kepada empat karakter yang disampaikan Imam Al-Ghazali. "Cara menyikapi kehidupan dunia itu dengan empat karakter," ungkap beliau.

Ia kemudian menjelaskan bahwa  karakter yang pertama yaitu meyakini bahwa dunia hanya sekejap mata dan tujuan kita hidup di dunia adalah beribadah kepada Allah Swt. Karakter yang kedua ialah meyakini bahwa dunia adalah tempat permainan dan senda gurau belaka, maka yang harus kita prioritaskan adalah kehidupan akhirat. Karakter yang ketiga adalah meyakini dunia itu  tempatnya musibah, karakter yang terakhir ialah meyakini bahwa dunia itu tempat beribadah.

"Ada manusia yang menyikapi musibah dengan mengeluh, inilah ciri manusia yang imannya lemah, ada yang menyikapi musibah dengan bersabar, inilah ciri manusia yang imannya standar, ada manusia yang menyikapi musibah dengan ridho, inilah merupakan ciri iman seseorang yang baik, dan ada juga manusia yang menyikapi musibah dengan bersyukur, inilah ciri iman seseorang yang  lebih baik," ujar beliau. "Yang harus kita perhatikan ialah jangan kita mengeluh sedikitpun ketika Allah menguji kita," lanjutnya.

Jemaah Masjid Al-Maksudi, Naufal Fatyu mengungkapkan bahwa khutbah Jum'at yang disampaikan Ustaz Ahmad terasa segar karena intonasi khutbah yang naik turun dan penjelasan Ustaz Ahmad mudah dipahami, "Penjelasannya sangat mudah dipahami untuk saya yang awam terhadap agama," ujarnya.

"Yang saya dapatkan selama khutbah tadi, saya bisa menyimpulkan tadi tuh ngebahas cara pandang kita terhadap dunia itu harus seperti apa, Ustaz Ahmad Baikhaqi tadi beliau menjelaskan lewat pendapatnya Imam Al-Ghazali, yang pertama itu dunia itu cepat berjalannya, yang kedua dunia itu tempat canda tawa, hura hura gitu, yang ketiga itu dunia tempatnya fitnah, yang keempat dunia itu tempatnya ibadah, jadi lewat Imam Al-Ghazali kita disuruh punya mindset seperti itu terhadap dunia," ujar Naufal Fatyu.

Reporter: Kania Rahmawinata, Mahasiswa KPI 3/B

Tanamkan Disiplin Sejak Dini, Program Madrasatuna Al-Maksudi Rancabolang Tekankan Nilai Adab

Dakwahpos.com, Bandung - Program Madrasatuna yang berarti sekolah kita, yang digelar di Masjid Al-Maksudi Rancabolang memberikan pengajaran adab kepada para siswanya. Pengajaran nilai nilai adab ini disampaikan melalui aturan belajar, penyampaian hadis, kegiatan menonton film dan kegiatan operasi semut (9/10/2023).

Ustazah Al-Maksudi, Shakira mengungkapkan bahwa Madrasatuna sebagai salah satu program yang diselenggarakan disana selain untuk memfasilitasi para peserta menghafal Al-Qur'an, juga berusaha menanamkan nilai-nilai adab sejak dini.

"Motto Madrasatuna, satu berbakti pada orang tua, beradab mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, nah thats why kalau misalnya setiap jumat, suka ngasih tahu sama orang tua harus begini, kenapa harus rapih, badan harus sehat gak boleh ada perkelahian, kadang kan mereka main, terus juga suka tanggung jawab, kadang kan abis main pesawat-pesawatan, atau anak kecil suka buang kertas dimana mana, makanya aku suruh buat operasi semut," ujar Shakira. (9/10/2023)

Ia juga mengungkapkan nilai-nilai adab pun berusaha disampaikan melalui hadis-hadis, kegiatan menonton film kepada para peserta agar mereka memahami akan pentingnya adab "biar mereka belajar bertanggung jawab dan mereka tuh kadang kan, anak kecil jaman sekarang apalagi kalau udah terpengaruhi sama game gitu ya kayak udah bakal acuh, apalagi kalau anak kecil sekarang makin ditegur, dia makin keras," tambahnya.

Program Madrasatuna ini dimulai sekitar pukul 4 sore, kemudian di lanjut dengan pemberian muqoddimah  lalu pemanduan bacaan tilawah selama 10 menit, setelah itu dengan pembelajaran matan yang berisi tajwid dan pengenalan huruf-huruf arab. Setelah pemanduan tilawah dan tahsin selesai, kegiatan di lanjut dengan setoran hafalan dan pembacaan Al-Quran secara berkelompok, lalu ditutup oleh kegiatan baris berbaris dan operasi semut.

Reporter: Kania Rahmawinata Mahasiswi KPI/3B

Belajar Tahsin Sejak Dini, Masjid Al-Maksudi Rancabolang Cetak Kader Ahlul Qur’an

Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al-Maksudi Rancabolang mengadakan pemanduan bacaan Al-Quran, disertai dengan teori tahsinnya kepada peserta program tahfidz dari jenjang TK hingga SMP. Kegiatan ini dilaksanakan di dalam dan di halaman masjid Al-Maksudi Rancabolang pada sore hari setelah para peserta tahfidz pulang sekolah (9/10/23).

Ustadzah Al-Maksudi, Shakira mengungkapkan bahwa pemanduan tahsin kepada para peserta tahfidz sejak dini, bertujuan agar para peserta dapat mengetahui bahwa membaca Al-Qur'an mesti disertai dengan tajwidnya, pemanduan ini pun bertujuan agar peserta dapat terbiasa dengan istilah istilah tajwid sejak dini.

"kalo belajar matan biar anak anak pada tahu" ujar Shakira (9/10/23). Ia juga mengungkapkan pemanduan tilawah dan tahsin ini bertujuan agar para peserta tidak hanya hafal Al-Quran tetapi juga dapat mengenal penulisannya dan terbiasa hukum hukum tajwid saat membacanya.

Orang tua salah satu peserta program tahfidz, Bu Ani mengungkapkan bahwa ia menyambut baik kegiatan ini sebab membantu anaknya membangun kebiasaan dan mengisi waktu luang anaknya dengan kegiatan bermanfaat. Ia juga mengungkapkan anaknya merasa senang dengan kegiatan ini dan menganggap ini sebagai tantangan terbaru sehingga kebiasaan main di rumah mulai berkurang sebab anaknya merasa sudah memiliki tanggung jawab untuk setor hafalan "mudah- mudahan jadi motivasi buat dia, bahwa mengaji itu memang harus" ujar beliau (9/10/23).

Pemanduan ini dilakukan oleh ustadz atau ustadzah melalui pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Kegiatan dibuka sekitar pukul 4 sore, kemudian dilanjut dengan pemberian muqoddimah lalu pemanduan bacaan tilawah selama 10 menit, dilanjut dengan pembelajaran matan yang berisi tajwid dan pengenalan huruf huruf arab. Setelah pemanduan tilawah dan tahsin selesai, kegiatan dilanjut dengan setoran hafalan dan murojaah Al-Quran secara berkelompok.
Reporter: Kania Rahmawinata KPI/3B

Hafalkan Al-Haqqoh Serentak, Jemaah Al-Maksudi Rancabolang Bumikan Al-Qur’an

Dakwahpos.com, Bandung- Program Madrasatuna yang berarti sekolah kita, yang diselenggarakan oleh pengurus Masjid Al-Maksudi Rancabolang, Gedebage diikuti oleh para siswa jenjang TK hingga SMP. Saat ini, dalam kegiatan tersebut, mewajibkan seluruh pesertanya menghafal surat Al-Haqqoh secara serentak pada semester ganjil 2023 ini.

Ustadzah Madrasatuna, Shakira mengungkapkan kegiatan ini berjangka waktu  satu semester, setiap semester akan ada pergantian surat untuk dihafal dan ditutup dengan acara wisuda Tahfidz yang dihadiri para orang tua yang mengikutsertakan anak anaknya dalam program ini.

Ia pun mengungkapkan disamping kegiatan menghafal, program ini diselingi kegiatan lain seperti belajar bahasa Arab, Tahsin, Menonton Film bersama agar kegiatan lebih bervariasi. "kita tiap jumat itu free, kita enggak ada hafalan, kadang games, pemberian hadits, nonton film" ujarnya.

"kita hafalan satu semester satu surat, semester ini surat Al-Haqqoh. Kita memulai dari surat An-Naba, An-Naziat, langsung ke juz 29 Al-Mulk, Al- Qolam dan sekarang Al-Haqqoh" ungkap Shakira, Selasa (18/09/2023)

Program ini diselenggarakan pada waktu sore hari sepulang sekolah di dalam masjid, kemudian para peserta berkumpul untuk mendengarkan pemanduan bacaan surat Al-Haqqoh beserta tajwidnya dari ustadz, setelah pemanduan para peserta gabung ke dalam kelompoknya masing-masing sesuai jenjang sekolah dan menyetorkan hafalannya kepada ustadz dan ustadzah masing masing kelompok.

Reporter: Kania Rahmawinata. KPI/3B

Penuhi Keinginan Orangtua Anak Hafal Quran, DKM Al-Maksudi Rancabolang Gelar Program Tahfidz

Dakwahpos.com, Bandung - DKM Al-Maksudi yang dipimpin oleh Dr. Usep Saepul Alamsyah Sp.Rad menggelar program tahfidz. program ini diikuti oleh siswa jenjang Tk hingga SMP. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin di dalam pelataran Masjid Al-Maksudi yang beralamatkan di Jl. Gedebage Selatan No.356, Rancabolang, Kec. Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat 40295.

Muhammad Ghany selaku pengurus Masjid Al-Maksudi mengungkapkan nama program ini ialah madrasatuna yang berarti sekolah kita, yang terbuka bagi anak anak yang berkeinginan menghafal Alquran.
 
Ia juga mengungkapkan, kegiatan ini merupakan program rutinan yang dilaksanakan setiap hari senin hingga jumat. Program untuk jenjang TK dan SD dimulai dari pukul 16.00- 17.30 dan program untuk jenjang SMP dimulai pada malam hari.

 "Sengaja buat kegiatan ini. biasanya kegiatan cuman baca iqro, baca doa doa, karena belum ada pengajian tahfidz (program tahfidz) makanya kita mengadakan program ini, biar nanti di akhir semester bisa setoran 1 surat" ujar Shakira, ustadzah di Masjid Al- Maksudi.

Program ini diselenggarakan setelah meninjau antusiasme dari para masyarakat yang menginginkan anak anaknya menjadi penghafal Alquran, dengan memanfaatkan fasilitas dan SDM yang mumpuni, Masjid Al-Maksudi membuka program madrasatuna. kegiatan ini dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran yang dipandu oleh ustadz, pemanduan bacaan Alquran ini bertujuan agar para peserta dapat menghafal dan melantunkan ayat suci dengan baik dan benar sesuai makhrojnya, kemudian dilanjut dengan setoran hafalan kepada ustadz/ ustadzah masing masing kelompok.

Reporter: Kania Rahmawinata. KPI-3B
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos