x
BREAKING NEWS

Selasa, 03 Oktober 2017

Anak Sebagai Aset Berharga Kenapa Mendapatkan Kekerasan?


Tri Eka Shofyandi

Kekerasan pada anak merupakan kekerasan yang bisa dikatakan cukup serius dan harus dipikirkan solusi permasalahan dan jalan keluarnya, kenapa? Karena anak merupakan generasi penerus bangsa, ujung tombak estapet kepemimpinan.
Semakin baik kualitas penerus bangsa maka semakin cerah masa depan suatu negara.

Belakangan ini kasus kekerasan terhadap anak acapkali terjadi, untuk kekerasan sendiri ada beberapa kategori, tidak hanya kekerasan fisik, yang mana kekerasan ini terjadi karena kontak tubuh, ada juga kekerasan yang bersifat psikis yaitu ketika seorang anak tidak menerima kasih sayang, perhatian, pendidikan dari orang tua nya, dan ada juga kekerasan seksual dengan dibuktikannya dengan beberapa kasus di balikpapan telah terjadi 19 perkara kasus pencabulan terhadap anak dan itu terjadi pada 2016 silam.

Para orang tua seharusnya lebih waspada terhadap berbagai macam kejahatan  yang bisa saja terjadi kepada anak-anak mereka, terlebih lagi fungsi orang tua yang mencari nafkah dan mengurusi kebutuhan rumah tangga, membuat mereka sibuk terhadap kewajiban diri sendiri, sehingga melupakan kesadaran terhadap perhatian kepada anak-anak mereka, maka disini lah pentingnya orang tua memilih tempat pendidikan yang lingkungannya lebih baik, selain dari pada itu orang tua harus memperhatikan dengan siapa anak bergaul, karena walaupun mereka sudah disekolah kan ditempat yang sudah memiliki nama sebagai sekolah yang favorit tetap saja dengan siapa anak berteman harus diperhatikan, karena akan mempengaruhi karakter anak kedepannya.

Seperti yang terjadi di bogor yang mana kasus ini melibatkan anak SMA sebagi korbannya, kasus ini cukup menyita perhatian publik, karena mirisnya perilaku para pelajar yang seharunya sebagai kaum terdidik dapat memilah mana yang baik untuknya, dan mana yang tidak baik untuknya, sebagai orang-orang yang diajarkan budi pekerti disekolah harusnya berbeda dengan pendidikan anak jalanan yang dikategorikan lebih buas dan tidak terkendali.

Kasus yang mirip pertarungan gladiator ini, meskipun tanpa senjata, namun menelan korban 1, dan 2 orang siswa setingkat SMA ditahan polisi sebagai terdakwa, terlebih lagi kedua rival ini berlatarbelakang sekolah yang cukup besar namanya dikota Bogor, bahkan yang lebih mengerikan  lagi ketua osis di sekolah korban mendukung korban untuk bertarung satu lawan satu dan ditonton oleh banyak siswa layaknya pertarungan gladiator, nampaknya kejadian ini sudah membudaya dilakukan dan dijadikan hiburan untuk mereka, apalagi didukung oleh ketua osis, yang mana seharusnya peran ketua osis menjadi suri tauladan bagi siswa yang lain, dan menjadi penengah antara konflik  yang terjadi.

Kejahatan terhadap anak ternyata tidak datang dari intern saja, yaitu dari orang tua yang umunya sering terjadi, tapi ternyata kekerasan terhadap anak bisa juga datang dari faktor ekstern, seperti lingkungan anak berada, dengan siapa dia bergaul dan bermain, dengan siapa dia berkomunikasi, oleh  karena itu memperhatikan lingkungan anak, teman-temannya harus diperhatikan dan dipilih, karena akan berdampak baik buruknya terhadap karater anak kedepannya.

Selain dari lingkungan tempat anak bersosialisai harus diperhatikan, kumpul-kumpul keluarga harus rutin dilakukan, karena disitu sebagai momentum saling berbagi kebahagiaan, dan kedekatan batin akan terjalin semakin baik, sehingga satu sama lain antara anggota keluarga saling merasa nyaman, dan ketika ada suatu masalah bisa diselesaikan dengan cara musyarawah dan didiskusikan dengan tenang, sehingga bisa menghindari kekerasan yang terjadi baik itu dari faktor intern ataupun ekstern.

Pendidikan  kerohanianpun harus dipentingkan dan diberikan kepada  anak, karena pada diri manusia memiliki kebutuhan rohani yang selalu haus akan kerohanian, melalui pendidikan keagamaan anak bisa mengetahui dan lebih ditanamkan lagi pentingnya menghargai orang lain, bagaimana  bersikap yang baik, baik itu berbuat baik terhadap orang tua, guru, teman, dan pada lingkungan sekitar.

Pendidikan hati sama pentingnya dengan pendidikan otak, tanpa hati walaupun otak secerdas apapun, tetap akan merugikan diri sendiri dan orang lain, begitupun sebaliknya tanpa kecerdasan otak walaupun hati sebaik apapun, akan merugikan diri sendiri, dan orang lain. Maka pendidikan kerohanian harus di perhatikan bagi keluarga, tidak hanya anak yang harus mendapatkan pendidikan kerohanian, para orang tua pun memiliki kebutuhan untuk mendapatkan pendidikan kerohanian, karena melalui itu pula orang tua akan mendapat inspirasi dan dorongan batin untuk berbuat baik terhadap lingkungannya, terutama lingkungan di dalam rumah tangga.

Pada akhirnya kita dapat menarik kesimpulan bahwa segala tindakan kekerasan terhadap anak, sudah seharusnya tidak terulang lagi, diperlukan kesadaran bagi setiap orang untuk menolak terjadinya ini, berbagai pendekatan, pendidikan moral pun harus dititik beratkan dan diperhatikan oleh orang tua dan para pengajar, karena kekerasan terhadap anak sudah jelas melanggar norma yang  telah ada baik itu norma agama ataupun norma negara.

Penulis, Mahasiswa KPI UIN SGD Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Skumfuk Design Studio