x
BREAKING NEWS

Info Masjid

Islam Nasional

Info Kampus

Islam Internasional

Info Bandung

Kolom

Rabu, 18 Januari 2017

GEMINTANG



Cerpen oleh: M. Sabilulhaq Mardhatillah

Malam itu, Andini berdiri di depan jamaah setelah penampilan anggunnya, raut wajahnya seolah terpaut kerinduan mendalam pada keindahan yang mungkin akan ditemuinya kelak: Dia yang Maha. Suara merdunya menggema di pelataran masjid, alif... lam... mim..., bunyi huruf yang ia lontarkan terdengar jelas dan berakar tajwid-tahsin. Membuat dadaku bergetar tanpa komando.

Mungkin ini yang dimaksud dalam kalimat suci itu, kalimat yang berbunyikan keimanan akan membuat getar pada hati manusia yang diperdengarkan rasa ketauhidan. Ya, mungkin saja!?

"Indah..." kesan tertarikku ketika mendengarnya untuk pertama kali. Aku merasa, jika ini waktunya untuk mengerjakan tugas media, mungkin akan sangat cocok jika kusandingkan dengan prilaku seorang wartawan yang harus ditanamkan dalam dirinya, "mencari kebenaran". Dan satu-satunya kebenaran yang ingin kutahu darinya ialah: "Benarkah dia tetap sendiri?"

Tiga malam berturut-turut, perasaanku masih saja seperti ini. Demikian pula tindakanku, hanya diam dan menikmati lantunan ayat yang ia baca. Cemas. Sesekali sebelum naik ke atas mimbar untuk membacakan ayat suci Al-Qur'an, ia melirikku sekilas. Tidak banyak kejadian fisik yang terjadi. Batinku seolah berikrar dengan nada yang jauh-jauh dari sifat kejenuhan, "Aku adalah hati, saat ini ada pesta dalam diriku."

Gila? Tidak!

Aku jatuh cinta dengan cara yang tepat, meski belum sempat berempat mata dengannya. Tidak, bahkan berniat pun belum. Mungkin esok, lusa..., atau takkan pernah.

Lagi-lagi suara merdunya menggema di atas telingaku, nada itu seolah memaksa masuk, langsung ke otak kananku yang tengah tertidur. Kembali lagi perasaanku menukik tajam. Senyum hangatnya menelusup dari puing-puing dinginnya udara malam. Tik... tik... tik..., entahlah, suara sekecil dentik jam tanganku mendadak bergema. Batinku.

Wajah awan sudah menepis, gemuruh yang sedari tadi mengisyaratkan hujan telah menghilang. Bahkan seolah terhapus, ia benderang, sampai bintang-bintang dalam gurauan Tuhan kembali lagi menyapa senyumnya. Andai..., aku berandai-andai dalam kecemasan. Rona wajah yang tersirat darinya membuatku cemas akan arah pandang yang tak jelas. Seorang lelaki di ujung serban menyambutnya dengan senyuman.

Hendak menuruni tangga, lelaki itu menghampirinya seraya berujar dalam kegirangan, sunyi dan tenang. Aku tak mendengarnya sedikit pun, hanya saja, yang kuketahui hanya satu.
Aku cemburu.

***
Kembali kulihat para gemintang. Mengingatkanku pada sebuah novel karya Habiburrahman El-Shirazy. Ketika para santri meniatkan hati untuk terjun dalam satu kalimat yang indah: Fastabiqul Khairat. Ya. Gemintang yang kumaksud bukanlah benda langit yang kerap tertutup keindahannya oleh awan. Namun merekalah para pejuang Al-Qur'an yang tengah berunjuk kebolehan dalam tajwid, tahsin, tarjim dan tahfidz.

***
Aku tertunduk dalam kesunyian, sembari ujung komentar menggemakan rasa bangga. Seorang MC berdiri dengan senyuman, nadanya tertahan dalam perhentian napas sebelum akhirnya membuka dengan salam.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh..." tukas salah seorang MC. Seolah menularkan semangat, jamaah yang hadir pun serentak menjawab salamnya. "Ya..., hari ini kita harus bangga, para pejuang Qur'an sudah bisa menularkan senyuman mereka pada kita. haha... Berarti sekarang, semua sudah siap ya!?" sambung MC itu kemudian.

"Bagaimana? Jadi kita bacain langsung aja kali ya..." ujar MC yang satunya lagi. Seluruh ruangan seketika bergemuruh. Sebentar lagi akan dibacakan pemenang dari masing-masing lomba, membuat detak jantungku bergetar lebih cepat.

Ya, aku adalah salah satu dari mereka, Para Bintang yang dalam hatinya terpaut kerinduan mendalam. Aku ingat saat seisi ruangan diam mendengar bacaan Qur'an-ku. Sedikitnya aku menyimpan bangga, namun masih saja seperti tak terkendali, aku masih cemas. Kemudian kulirik saingan terberatku Andini. Wajah meronanya menggambarkan mental yang kokoh, bahwa dia seorang pemenang sejati.

Aku sudah dua kali kalah darinya, penampilan-penampilannya selalu saja luar biasa. Mentalku semakin ciut saat salah seorang juri menampakkan raut terpukau pada tiap penampilannya. Aku cemburu. Jelas, dia benar-benar luar biasa.

"JUARA TIGA... DIRAIH OLEH...."

"DIRAIH OLEH...."

Tibalalah saat yang ditunggu-tunggu, pembacaan gelar juara mulai terasa hawa kerasnya. Aku terdiam bukan mengamati, keringat dinginku bercucuran dari pori-pori dahiku. Tak fokus, tentu saja rasanya aneh, yang kurasakan bukanlah takut kalah, namun berharap supaya yang disebutkan MC sebagai juara ketiga adalah Andini. Entahlah, aku tak mau kalah darinya, atau mungkin tak ingin melihatnya menang. Sebagai saingan ketat yang selalu akrab, kurasa kehendakku terlalu berlebihan.

"AN...." Satu suara membuatku terkejut, ada kegetiran yang terasa menyenangkan. "ANDRA...." teriaknya melengkapi.
Yah... ternyata bukan, kekecewaan menghinggapi benak terdalamku.

"JUARA DUA... DIRAIH OLEH...."

"DIRAIH OLEH..."

"NAILAAA..."

Glek... Aku salah mengharapkan sesuatu. Aku mengharapkan kekalahan pada orang lain tanpa memikirkan diriku sendiri. Ah, rasanya berdosa sekali. Biasanya aku berada pada tahta yang saat ini diterima Naila, juara kedua. Cemas, jika Andini saja mendapat apresiasi begitu baik, sedang tahta ketiga dan kedua sudah dimenangkan orang lain, maka tak ada harapan lagi. Andinilah juara pertamanya.

Aku 'tlah salah mengharapkan sesuatu. Dan benar saja, sahut kegirangan menggema dari seluruh titik berkumpulnya jamaah yang menonton. Ruangan utama sampai beranda masjid penuh oleh penonton. Sudah dipastikan Andini-lah juara pertama, dan aku hanya diletakkan pada tahta biasa sebagai pemenang harapan.

Ya. Mungkin memang ini yang seharusnya terjadi, kecemburuanku tidak berdasar pada hal yang benar. Namun tentu, inilah awal yang benar. Ini bukan kekalahan, jangan juga ada penyesalan. Satu... dua... tiga..., seharusnya angka ini bukanlah masalah besar bagiku. Dan memang tidak boleh menjadi masalah.

Aku pun sadar akan sesuatu, pertanyaan yang kerap terngiang dalam kepalaku mengenai dia yang tetap sendiri terjawab sudah. Ia telah mengatakannya dalam tindakan, dalam lantunan mesra ayat-ayat Al-Qur'an. Ya, dia masih sendiri, sendiri dan tetap menduduki tahta pertama sendiri.

Kini aku paham. Aku jatuh cinta dengan cara yang tepat; mencintai jati diri yang
tepat; kitab suci yang tepat.

Dia... Azza wa jalla.

Info Kampus : Kurnia Sari, Penyair



Kurnia Sari, Mahasiswi komunikasi Penyiaran Islam UIN Bandung yang cukup terkenal di kalangan penyair se-Jawa Barat. Ia telah menerima sedikitnya empat kali juara 1, tiga kali juara 2, dan sekali juara 3 dalam lomba membaca puisi tingkat nasional maupun lokal

Rep: M. Sabilulhaq Mardhatillah

Info Masjid : Al- Inayah Komplek Bumi Harapan


Masjid Jami' Al- Inayah dibangun antara tiga blok di komplek Bumi Harapan: Blok AA, DD, dan EE. Masjid ini dikenal warga sebagai masjid termegah di komplek Bumi Harapan, karena bangunan dan ruangannya yang luas.

Rep: M. Sabilulhaq Mardhatillah

H. Aceng : Masjid At-Taufiq Butuhkan Jurnalis Muslim


Dakwahpos, Bandung- Mansjid Jami' At-Taufiq adalah mansjid yang berdiri sebelum kemerdekaan Indonesia. Masjid yang berlokasi di tengah-tengah pemukiman warga ini memang tidak strategis untuk memberikan informasi  kepada masyarakat,  sehingga dibutukannya media informasi untuk selalu mengupdate berita tentang kegiatan masjid atau bantuan untuk masjid.

"Sebenarnya informan sudah ada, namanya pak Umar, tapi yang namnya dari mulut kemulut kadang suka salah informasi atau tidak sampai informasinya, sekarangkan sudah zamannya internet, banyak juga warga yang pakai internet dan itu bisa kita manfaatkan untuk media informasi". Ujar H. Aceng (74) Rabu (21/12/216).

Memang tidak bisa dipungkiri, saat ini memang internet menjadi pusat informasi yang paling digemari. Selain cepat dan akurat, banyaknya sumber-sumber membuat informasinya semakin berkembang.

"Pas tahu ada yang mau liputan saya senang sekali, ini sangat membantu saya dalam menyampaikan informasi kepada warga dan masyarakat lainnya. Ini yang dari dulu saya tunggu-tunggu, saya juga berencana untuk membut akun media sosial sebagai ladang informasi masjid". Pungkas H. Aceng.

Jurnalis muslim saat ini memang sudah sangat jarang ditemui, apalagi jurnalis yang meliput kegiatan masjid dan menjadi sumber informasi. Apalagi keberadaan masjid yang tidak banyak diketahui oleh khalayak, hanya warga sekitar saja. Membuat keberadaan jurnalis muslim sangat dibutuhkan. 

Reporter : Hanifah Fajriani KPI/3B

Komunikasi Lintas Budaya

Resensi oleh : Fitriyani Maryani

DATA BUKU
Judul              :  Komunikasi Lintas Budaya (Memahami Teks Komunikasi, Media, Agama, dan Kebudayaan Indonesia)
Penulis           : Dr. Dedi Kurnia Syah P., M.Ikom.
Penerbit         :  Simbiosa Rekatama Media
Tahun Terbit :  2016
Tebal Buku   :  156 Halaman
Harga Buku  :   Rp.45.000

Buku ini adalah karya Dedi Kurnia Syah P., lahir pada Desember 1989. Beliau mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dalam bidang Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam. Magister Ilmu Komunikasi dalam kajian Media dan Komunikasi Politik di Universitas Mercubuana Jakarta, dan Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta dalam kajian Media dan Diplomasi Politik. Saat ini, aktif sebagai pengajar tetap di Telkom University Bandung. Selama mengajar, ia juga aktif menulis. Karya tulis yang telah diterbitkan membahas tentang media dan komunikasi politik.

Keragaman budaya (curtural diversity), atau dalam istilah lain disebut multicultural, adalah keniscayaan komunitas manusia penghuni bumi. Keragaman budaya adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat ini juga terdiri atas berbagai kebudayaan daerah yang bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok suku bangsa yang ada di daerah tersebut. Keragaman budaya menandakan adanya dinamika kemanusiaan yang stabil dan saling melengkapi kehidupan sehingga interaksi antarmanusia yang berbeda menjadi satu warna atau harmonis. Budaya tidak lahir dari kearifan semata. Ritme kemajuan komunikasi turut serta membangun budaya baru, konsumerisme, pop-culture, budaya massa, budaya media dan masyarakat, hingga terbentuknya masyarakat multisosial.

Komunikasi lintas budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda, baik dalam bentuk rasial, etnis, entitas budaya, maupun kelas-kelas sosial, seperti ekonomi, gender, dan politik. Kajian yang secara khusus membincang persoalan pembeda tersebut adalahinterrelation culture. Komunikasi lintas budaya juga dinamika sebagai kajian kolaboratif yang menggabungkan semua unsure perbedaan menjadi satu kesatuan. Komunikasi dalam kajian kebudayaan merupakan satu penyegaran gagasan yang kemudian disebut sebagai "retasan jalan baru" atas penerjemahan budaya, yang kerapkali didominasi oleh antropologi dan sosiologi. Buku ini menawarkan sudut pandang berbeda mengenai budaya. Koridor komunikasi begitu dominan, multiperspektif, dan mengarus zaman.

Komunikasi menjadi kajian yang lebih filosofis, tidak sekedar mengurai proses interaksi antarmanusia kebudayaan secara transaksional. Kontekstualitas tersebut terbaca dari beberapa bab yang juga menafsirkan budaya sebagai produk dari transaksi komunikasi, yang berlangsung secara terus menerus, melalui konflik dan negosiasi antartradisi yang berbeda. Buku ini akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa ilmu komunikasi, antropologi, dan sosiologi, serta Anda yang berminat terhadap kajian komunikasi dan budaya. Kajian penting buku ini, diantaranya mengenal keragaman budaya, budaya komunitarianisme, interpretasi kebudayaan, dan budaya media.

Penulis, Mahasiswa KPI UIN Bandung

Tak Ada Batas Usia untuk Beramal



Cerpen oleh : Fitriyani Maryani

    Terik matahari membuatku penuh dengan keringat, kuusap sejenak kelelahanku sambil menyusuri jalan dengan mengendarai sepeda motor kutengok kanan dan kiri. "Disana, berhenti disana ri. Ada sebuah masjid di pinggir jalan" Ujar temanku. Kami sedang mencari sebuah masjid untuk tugas mata kuliah. Namaku Fitriyani, teman-temanku biasa memanggilku Riri dan temanku ini namanya Ima. Kami mendapatkan tugas penelitian/liputan tentang Masjid dari salah satu mata kuliah yang sedang kami jalani di semester 3 ini. Akhirnya aku mematikan sepeda motorku dan memarkirkannya di halaman masjid. "Permisi pak.. Boleh saya bertanya, DKM Masjid ini siapa ya?" ujarku. Saat itu kami sedang bertanya-tanya kepada salahsatu marbot yang ada di masjid. Segeralah marbot itu memberitahu dan kami langsung menuju rumahnya.

"Benarkah ini rumahnya?" Ima pun mulai memastikan.

"Aku pikir memang ini rumahnya" Jawabku.

Seiring waktu berjalan setelah kami mendapatkan satu masjid, aku sepakat masjid ini yang akan dijadikan penelitian Ima untuk tugasnya. Lantas aku mencari masjid lain dan kami berkeliling, setelah beberapa menit akhirnya kami menemukan salahsatu masjid yang berada di tepian jalan. Aku bertanya kepada Ibu-ibu yang sedang mengobrol di warung dekat masjid itu.

"Assalamu'alaikum.. Punten bu, kalau DKM masjid ini rumahnya di mana ya?" Tanyaku tanpa basa-basi,

"Wa'alaikumsallam neng. Oh DKM nya bapak Endang, rumahnya masuk gang pinggir masjid ini." Jelas seorang ibu yang terlihat sudah berumur. Akupun mengangguk bingung dengan jawaban ibu ini, aku tidak tahu pasti dimana rumahnya jika aku sudah memasuki gang itu.

"Hayu bareng sama ibu aja neng, kebetulan ibu mau pulang dan rumahnya dekat dengan rumah ibu." Ajaknya.

"Oh iya bu dengan senanghati, hatur nuhun bu." Berjalanlah kami menuju rumah DKM Jami Miftahussa'adah.

Aku dan Ima tidak mengetahui siapa nama ibu ini, namun perjalanan kecil kami di iringi dengan obrolan ringan berkat adanya si Ibu. Sesampainya ditempat tujuan langsung aku mengetuk pintu bapak Endang. Ucapan salam sudah terlontar 3kali dari mulut kami dan tak ada satupun jawaban. Hadirlah seorang anak SD yang terlihat akan memasuki rumah itu, "Dik, adik penghuni rumah ini? Bapak Endang nya ada? Boleh dipanggilkan bapaknya." Entah kenapa aku langsung menanyainya dengan berbagai pertanyaan inti, lagi-lagi tanpa basa-basi. "Iya teh, duka atuh. Bentar ya.." Ujar anak itu memasuki rumahnya. Tak lama seorang kakek paruh baya muncul di hadapan kami. Aku menanyakan beberapa pertanyaan dibantu Ima dan mencatat data yang aku perlukan. Dengan keterbatasan pendengarannya bapak Endang menjawab pertanyaan kami. Yang kami butuhkan untuk tugas awal hanya data Masjid nya saja, maka dari itu hanya beberapa ulasan pertanyaan dan kami langsung pulang.

Hari sudah gelap menandakan giliran bulan yang bersinar, aku membuka kembali catatan yang tadi siang tentang data Masjid Jami Miftahussa'adah. Kulihat kembali dengan teliti dari lensa kacamata ini, ternyata nomor telepon nya tidak ada. Ah aku baru ingat tadi bapaknya lupa dengan nomor teleponnya dan entah kenapa aku buru-buru lantas aku jawab tidak apa-apa lain kali saja. Bodohnya aku padahal itu salahsatu sumber untuk menghubunginya.

Beberapa hari kemudian aku dan Ima menyusuri kembali jalan menuju Masjid, ku naikan gas motorku kali ini untuk wawancara. Kupersilahkan Ima untuk pertama mewawancarai narasumbernya, kutemani dia. Sudah beberapa menit berlalu dan usai sudah wawancaranya. "Alhamdulillah gak ada hambatan ya ri." Ujarnya lega dan aku hanya tersenyum menjawabnya. Petang ini aku kembali menuju rumah bapak Endang yang akan ku wawancarai.

"Silahkan masuk.." Bapak Endang mempersilahkan.

"Iya pak, terimakasih." Jawab kami sungkan.

Sebenarnya beliau sedang beristirahat tidur siang, aku merasa tak enak kepada beliau. Tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur kami mengganggunya. Sejarah berdirinya Masjid aku tanyakan kepadanya, terkadang pertanyaan dan jawaban tidak nyambung sama sekali. Aku maklumi saja karena memang beliau sudah lanjut usia. Setelah mendengar ceritanya tentang sejarah Masjid ini aku bertanya bagaimana bisa beliau masih menjadi seorang DKM di usia lanjutnya sekarang. Panjang lebar beliau menjelasakannya kepadaku.

Ternyata memang ada seorang donatur yang berpesan dulu ketika beliau masih muda dan sudah menjadi DKM Jami Miftahussa'adah bahwa tidak boleh mengganti DKM nya sebelum bapak Endang meninggal. Aku sontak kaget, memangnya alasan apa yang membuat donatur tersebut berkata seperti itu. Singkat cerita maka dari itu sampai sekarang tak ada yang menggantikan beliau. Bukan karena tidak ada orang yang ingin menggantikannya, hanya saja bapak Endang memang tidak akan menyerahkan posisi itu kepada orang lain sebelum beliau meninggal dunia. Beliau hanya ingin menjaga amanah donatur tersebut.

Memang tidak sulit menjadi seorang DKM dan menjalankan tugasnya apalagi masjid ini memang tidak begitu besar. Namun di usia 70 tahun keatas bukankah seharusnya beristirahat apalagi dengan kondisi yang mulai renta. Aku terheran-heran dengan Ima, dengan penasaran Ima bertanya.

"Pak, bagaimana rasanya menjaga amanah itu dan apa keluh kesahnya sejauh ini, apakah bapak merasa kesulitan?"

"Tidak ada kesulitan sejauh ini bapak senang-senang saja dan sudah kewajiban bapak menjaga amanahnya. Selagi bapak masih bisa beramal kenapa tidak. Lagi pula bapak kan menjaga rumah Alloh, tidak ada satupun kesulitan yang bapak rasakan" Jelasnya. Kami tersentuh dengan jawaban beliau.

"Lalu bapak akan menjadi DKM sampai maut menjemput?" Tambahku.

"Iya, insyaalloh selama bapak masih mampu. Jamaah disini juga sudah pada tahu kalau bapak sudah lama menjadi DKM di Masjid Jami Miftahussa'adah." Jawabnya.

Setiap sebelum adzan bapak Endang Abdurrohim selalu melangkahkan kaki nya menuju tempat beribadah umat Islam itu. Tak terlewatkan setiap waktunya sholat dari subuh hingga isya kecuali saat kondisinya sedang sakit. Jamaah yang sering sholat di masjid pun memang rata-rata orangtua renta, namun tak sedikit anak-anak muda yang memenuhi masjid itu. Kegiatan pengajian yang aku tahu pun hanya pengajian bapak-bapak. Namun bapak Endang tidak berhenti menjadi tamu Baitulloh tersebut.

Kami terenyuh dengan kisah beliau yang menjadi inspirasi bagi kami. Betapa berharga sebuah keikhlasan bagi siapapun hingga menjadi sebuah amalan sholihah bagi yang menjalankannya. Beliau menunjukkan kepada kami bahwa jika ingin beramal maka jangan kenal  usia, waktu, dan usaha. "Semoga Alloh senantiasa memberi bapak kesehatan untuk bisa terus beramal." Ujarku kepada beliau. "Aamiin, terimakasih neng." Pamitlah kami kepada beliau. Ku putar balikkan motorku dan melaju ke arah jalan pulang.

Penulis, Mahasiswa KPI UIN Bandung       

Rayakan Perbedaan Nikmati Keberagaman

Oleh : Fitriyani Maryani
 
Keberagaman merupakan suatu yang niscaya, keberadannya bukan untuk dipertentangkan, akan tetapi disikapi secara arif. Kerena perbedaan adalah modal besar menuju perubahan. Bangsa Indonesia adalah bukti dari keberagaman tersebut. Penyatuan akan segala keberagaman tersebut pada akhirnya membawa bangsa ini pada satu titik tujuan bersama, kemerdekaan.

Dalam dunia sepak bola, hal demikian bukan suatu yang asing untuk kita jumpai. Sebuah tim besar tidak mungkin dihuni oleh para pemain satu rumpun, satu warna kulit atau mungkin satu keyakinan. Sebut saja Tim Nasional Indonesia, finalis Piala AFF tahun ini. Yang dihuni pemain dari semua penjuru Nusantara.
Di Indonesia, para pemain begitu beragam. Kulit hitam dan kulit putih bukan menjadi persoalan. Kekompakan antar pemain mengantarkan tim merah putih ini mampu mengantarkan Boaz Solossa dkk kebabak final sebagai penantang Tim Gajah Putih Thailand. Meskipun, Indonesia menjadi salah satu negara underdog untuk merebut tahta yang digelar dua tahunan tersebut, namun tak membuat tim Garuda ketar-ketir untuk bersaing dengan negara-negara se-Asia tenggara.

Kekompakan antar punggawa menutupi perbedaan yang ada. Kita tak habis pikir jika perbedaan kulit, ras, suku, bahkan agama menjadi persoalan pada sebuah tim sepak bola. Mungkin sang arsitek lapangan Alfred Riedl yang non-muslim tidak akan memanjakan Zulham Zamrun dan Rizky Pora yang beragam Islam. Tapi, Riedl tak pernah membedakan perlakuan pada para punggawa timnas Garuda, baik itu Boaz Solossa yang berkulit hitam atau Ferdinand Sinaga yang berkulit sawo matang. Keduanya akan selalu dimanjakan dengan racikan strategi jitu dari sang arsitek lapangan demi kemenangan tim.

Bahkan, perbedaan agama tidak menjadi penghalang mereka untuk selalu menyajikan permainan indah. Semuanya selalu mengutamakan kepentingan tim dari pada persoalan keyakinan yang melekat pada mereka. Alhasil, tim merah putih berhasil menembus partai final meski hanya sebagai runner up.

Dari contoh di atas kita bisa belajar bagaimana sebuah perbedaan bisa berjalan beriringan. Penulis rasa bukan suatu yang berlebihan, jika kita belajar pada kejadian sederhana pada sepak bola tersebut. Artinya, berkaca pada sepak bola tersebut kita akan menjadi bangsa yang saling menghargai satu sama lain. Tanpa perlu mempedulikan dari mana asalnya, apa warna kulitnya dan apa agamanya. Kebersamaan jauh lebih penting daripada persoalan ego, baik pribadi maupun kelompok. Sesuai dengan semboyan agung bangsa ini, bhineka tunggal ika.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk bukan atas ego kelompok tertentu. Akan tetapi, NKRI lahir karena paraFounding Fatherskita dulu berada dalam satu kepentingan yang sama. Bahwa segala bentuk penjajahan dan penindasan harus dimusnahkan dari muka bumi ini.

Artinya, tidak penting menempatkan kepentingan pribadi atau kelompok dalam kehidupan ini. Kepentingan bersama jauh lebih penting dijadikan tujuan demi terciptanya sebuah kerukunanan antar warga Negara, tanpa terkecuali. Menjaga keutuhan NKRI, salah satunya adalah dengan menjaga kerukunan antar umat beragama. Bagaimana pun, hal itu sudah menjadi amanah yang tertuang dalam UUD 45, sebagaimana disepakti bersama.

Oleh karenanya, semua elemen di bangsa ini sudah seharusnya bahu membahu satu sama lain. Apapun warna kulitnya, dari mana pun asal daerahnya, apapun kelompoknya, bahkan apapun agamanya itu hanya bagian kecil yang tidak akan berarti apa-apa. Tapi, jika perbedaan itu kita satukan, maka akan menjadi kekuatan besar bangsa ini. Dan faktanya, bangsa ini dilahirkan dari penyatuan perbedaan yang ada.Dengan demikian, keutuhan NKRI bukan menjadi tanggung jawab suku atau agama tertentu. Tetapi, menjaga keutuhan NKRI adalah tugas semua warga Negara Indonesia, tanpa ada pengecualian.

Penulis, Mahasiswa KPI UIN Bandung

Antara Aku, Kakek, dan Masjid



Cerpen oleh: Megandini Al-Fiqri

Suara jangkrik, kodok, dan puji-pujian di Masjid kian bersautan. Waktu menunjukan pukul 2.30, nenekku sudah bangun tahajud, kemudian pergi ke dapur  seraya menyalakan api di hawu. Aku sendiri kembali membenahi tidurku agar tertutup rapat selimut. Kami tinggal berdua di sebuah gubuk dekat pesawahan desa Cijengkol.

"Den, Bangun! Ngaji! Ayo cuci muka! Cepat pergi ke Masjid!" aku terbangun dari tidurku. Nenekku memang seperti itu, ia selalu membangunkan ku 2 jam sebelum adzan berkumandang. Terkadang, aku kesal, mengapa beliau menyuruhku pergi ke Masjid sepagi itu. Padahal, mataku masih mengantuk, badanku pun menempel rapat di kasur, lagipula di Masjid tidak ada siapa-siapa. Yang ada hanyalah Kakek Tua penunggu Masjid yang sedang komat-kamit wiridan.

Aku buru-buru pergi ke Masjid, tidurpun takkan nyenak. Nenekku akan terus mengoceh hingga aku bangun dan pergi ke masjid. Tak lupa kucium punggung tangan Nenekku yang sudah keriput. "Umi, Nden berangkat dulu yah," ucapku pada nenek.

Sesampainya disana, seperti biasa aku duduk diteras masjid sambil mengamati sekeliling bangunan masjid yang kokoh dan klasik. Namun, seketika pandanganku terpaku kearah kakek tua yang duduk didekat mimbar. Seperti biasa ia duduk menghadap utara, tasbihnya terus diputar-putar oleh jemarinya, matanya begitu sayu, badannya sudah tak sekuat dulu lagi. Namun, senyuman yang tersungging dari bibirnya memiliki ketentraman tersendiri bagi yang melihatnya.

Tak kusangka, kakek tua itu melambaikan tangannya ke arahku. Aku menoleh ke kanan dan kekiri, tidak ada siapa-siapa disana kecuali diriku. Akupun menghampirinya. "ada yang bisa saya bantu kek?" kakek tua itu tidak mengatakan apapun, ia hanya menunjukan tangannya pada karpet masjid, ia memberi isyarat kepadaku agar duduk didekatnya.

Kakek itu mulai membuka mulutnya dan berkata kepadaku "Muka bumi ini semuanya dihamparkan oleh Allah sebagai masjid, tempat yang kamu duduki sekarang hanya fasilitas manusia untuk bersujud. Sayangnya, tidak banyak orang yang senang mengunjungi tempat ini. Mereka hanya menganggap Allah sebagai pelayan mereka, padahal mereka sendiri adalah Hamba-Nya. Datang saat memiliki permintaan, tapi lupa mensyukuri saat diberi. Kakek, nitip masjid ini ya. Kamu gantikan Abah Shalawat disini,"ucapnya. Kemudian kakek itu menyodorkan mic yang menyala kearahku. Aku hanya dapat menganggukan kepala mengamini permintaan kakek itu. Dengan ragu-ragu mulai kuambil mic itu dan bershalawat. Awalnya aku canggung, namun lama kelamaan aku nyaman bersenandung  shalawat disana. Aku menoleh kebelakang, aku kaget kakek tua yang tadi aku lihat sudah tidak ada.

Tak lama kemudian, tiba-tiba Pak Parman ketua RT desa Cijengkol, masuk masjid dengan tergesa-gesa. Akupun mematikan mic dan duduk menjauh dipojok ruangan.

"INNALILLAHI…WA INNA ILAIHI ROOJIUN 3*

TELAH PULANG KE RAHMATULLAH ABAH SUMA BIN MALIK PUKUL 02.30 DI RUMAH SAKIT SYAMSUDIN.

BAGI WARGA YANG HENDAK MELAYAT DIHARAP SEGERA MERAPAT KE RUMAH DUKA".

Kakiku seketika lemas, lututku tak dapat digerakan, bulu kudukku  merinding, keringat dingin keluar dari dahiku, aku masih bingung dan tak percaya. Abah Suma, Marbot sekaligus sesepuh masjid ini meninggal, padahal Beberapa menit yang lalu Abah Suma ada di Masjid ini dan sempat mengobrol denganku. Jika Abah Suma meninggal di Rumah sakit, lalu siapa orang yang ada di masjid tadi? Aku tak dapat bercerita kejadian ini pada siapapun termasuk kedua orang tua & nenekku.

Bendera kuning masih berkibar di depan rumah Abah Suma, aku pergi melayat kesana bersama tetangga dan sanak saudara. Mayat Almarhum masih terbujur kaku ditengah rumahnya, dibalut kain putih nan bersih, isak tangis keluarga, dan lantunan ayat suci alqur'an menyatu dalam irama sendu. Kubuka sedikit kain kafan itu, Abah Suma masih tersenyum. "Subhanallah,"ucapku dalam hati. Semasa hidupnya kegiatan beliau memang tak pernah keluar dari lingkungan masjid. Meskipun rumahnya kecil, tapi pelayat yang berdatangan sangat banyak. Ah, bagaimana tidak, semasa hidupnya beliau selalu membantu & meringankan beban orang lain.

Diantara isak tangis duka, terdengar bisik-bisik tetangga yang menyayangkan kepergian beliau "hiks… hiks... hiks, kenapa orang sebaik beliau harus dipanggil duluan Ya Allah. Mungkin Allah sangat merindukannya" ucap salah satu warga disana. "Beliau itu orang yang paling aneh, seluruh uang yang ia miliki ia sumbangkan untuk masjid ini, sedangkan Ia tinggal dirumah kecil seperti ini," tambah yang lain. "Padahal punya kerjaan bagus di kantor pemerintahan, malah pensiun dan jadi marbot masjid walaupun begitu beliau selalu tersenyum dan ramah pada semua orang," sambung yang lain. Pikiranku mengawang-ngawang mengingat perjumpaanku dengan Abah di Masjid.

Sejak hari itu, setiap qobla shubuh aku selalu membacakan lantunan ayat suci Al-Qur'an disana. Tak lupa kupanjatkan doa untuk kakek Suma Marbot Masjid ini. Tak hanya itu, hampir separuh waktuku kuhabiskan di Masjid. ketika terbitnya fajar, hingga terbit matahari pagi aku ada di masjid.  Entah membaca shalawat, Shalat Tahajud, bersih-bersih atau hanya sekedar melamun di serambi masjid. Siangnya aku membantu ibu-ibu mencuci piring atau sekedar menyiapkan camilan untuk ibu-ibu pengajian, Sorenya aku pun sudah standby mengajar anak kecil mengaji di masjid hingga Isya.

Seluruh waktuku ku abdikan disini. Bukan karena wasiat Abah Suma, bukan pula karena rasa takutku akan kematiannya, akan tetapi karena rasa nyaman yang tercipta didalam masjid dan keinginan dari lubuk hati yang terdalam untuk selalu kembali ke rumah Tuhan.

Penulis, Mahasiswa KPI UIN Bandung

Handbook of Public Relations: PengantarKomprehensif


Resensi Oleh: Megandini Al-Fiqri
DATA BUKU:
  
Judul Buku : Handbook of Public Relations: PengantarKomprehensif   
NamaPenulis : Dr. ElvinaroArdianto,M.Si   
Penerbit : SimbiosaRekatama Media   
TahunTerbit : 2011   
ISBN : 978-979-3782-78-2   
Tebal : 374 Halaman  

Saat ini, sudah memasuki era image war (perangcitra), di mana masalah pencitraan menjadi asset sebuah lembaga, perusahaan, dan organisasi untuk membangun citra positifnya agar mendapat dukungan dan simpati dari publik. Eksistensi sebuah lembaga, perusahaan, organisasi nirlaba memerlukan dukungan dan simpati public mereka. Hal ini menjadikan kegiatan PR sebagai suatu keharusan. kegiatan PR dilakukan tidak secara asal-asalan, tetapi harus berdasarkan konsep yang  jelas didukung fakta yang ada.

Dua dekade kebelakang, Istilah Public Relations (PR) atau humas (hubungan masyarakat) merupakan sesuatu yang belum begitu familiar atau masih asing ditelinga masyarakat. Padahal, perkembangan PR Indonesia demikian pesat sehingga bermunculan PR di pemerintahan, perusahaan swasta, BUMN (Badan Usaha Milik Negara), organisasi nirlaba atau lembaga swadaya masyarakat. Pada era tahun 1980-an, lahir pula perusahaan konsultan PR, yang kiprahnya sebagian besar di Ibukota Jakarta.

PR adalah sebuah ilmu dalam rumpun ilmu sosial, dan menjadi bagian dari Induknya IlmuKomunikasi. Selain ilmu, PR pun menjadi sebuah profesi di bidang komunikasi, yakni profesi sebagai Public Relations Officer (PRO/ pejabat humas) di lembaga atau perusahaan.

Buku ini menjelaskan semua hal yang "wajib" dan perlu diketahui oleh insan Public Relations (PR). Semua yang diuraikan disini merupakan pengetahuan dasar bagi calon dan pejabat PR, baik yang bersifat teoritis maupun praktis. Dengan mengetahui dan memahaminya, diharapkan akan lahir insan-insan PR yang professional yang dapat mengembangkan citra dan reputasi lembaga, perusahaan, dan organisasinya.

Buku Handbook of Public Relations ini terdiri dari 13 Bab. Mulai dari pengertian dan definisi PR, Evolusi dan Sejarah PR, Identitas, Citra dan Reputasi Perusahaan, PR sebagai Ilmu dan PR sebagai profesi, Hubungan Internal dan Eksternal PR, Publik-publik dalam PR, Media PR, Penulisan PR, Proses dan Aspek Manajemen PR, Spesialisasi dan Praktik PR, Metode PR, PR dan Manjaemen Krisis, sampai Penelitian PR.

Disusun berdasarkan pengalaman mengajar penulis di Jurusan Humas Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran sejak tahun 1989, dan di berbagai perguruan tinggi swasta, serta aktivitas penulis sebagai pengurus cabang dan pusat Perhumas, juga sebagai direktur konsultan PR yang penulis dirikan.

Buku ini memiliki keunggulan tersendiri, Gaya penulis dalam penulisan buku tentang "HANDBOOK OF PUBLIC RELATIONS; PENGANTAR KOMPREHENSIP" begitu baik dan rapi. Selain itu penulis juga menyisir penjelasan seputar Humas (hubungan masyarakat) secara jelas dan terperinci. Tulisan-tulisan yang disajikan, bisa menjadi lawan berfikir bagi para PR maupun pembaca  yang tentunya berkenan membaca buku ini.

Hadirnya buku ini sebagai salah satu upaya untuk mengatasi orang-orang agar tidak sembarangan dan seenaknya menggeluti profesi PR tanpa dibekali pengetahuan dan ilmu pengetahuan tentang PR, dimana beberapa matakuliah tidak bisa dipelajari secara otodidak dalam profesi PR.

Menurut saya Buku ini sangat cocok untuk semua kalangan mahasiswa, para akademisi, Dosen, terutama praktisi Public Relations, baik di lembaga pemerintahan, swasta, maupun organisasi profit dan nonprofit. Meskipun telah banyak buku-buku yang membahas tentang Public Relations, Tetapi buku itu kebanyakan ditulis oleh pakar-pakar PR diluar negeri, sehingga kurang begitu sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia.

Dalam buku ini, setiap topic umum, maupun khusus diulas secara mendetail. Akan tetapi sayangnya, karena penjelasannya cukup luas, tentu diperlukan waktu tidak sebentar untuk menyelesaikan bacaan ini. Saran saya setelah membaca buku ini anda diharapkan dapat mempelajari atau mempraktekan langsung teknik PR yang dibahas dalam buku ini.

Karya berjudul HANDBOOK OF PUBLIC RELATIONS PENGANTAR KOMPREHENSIF yang diterbitkan Penerbit Simbiosa ini patut untuk dibaca dan dimiliki oleh setiap pelajar maupun umum. Buku ini tak begitu menarik tapi serat makna yang terkandung dalam buku ini begitu banyak dan baik. "If I was down to the last dollar of my marketing budget I'd spend it on PR!"  (Bill Gates).


Meski Fasilitas Terbatas, Kegiatan Pengajian Masjid Istiqomah Terus Berjalan


Dakwahpos.com, Bandung- Jika membicarakan kegiatan belajar mengajar di madrasah Istiqomah mulai dari kelas 1 diniyah sampai kelas 6, para guru memanfaatkan masjid sebagai ruangan untuk belajar, mulai dari lantai 1 sampai lantai 2.

Empon (60)  selaku bendahara madrasah Istiqomah mengatakan bahwa disini kami memanfaatkan fasilitas yang ada, kalau ditanya harus bayar , sama sekali kami selaku guru tidak memungut biaya sepeserpun, tapi orang tua murid terkadang memberikan uang, dan kami sebagai guru menganggapnya sebagai sedekah.

"Awalnya mah anak-anak cuma ikut ngaji seperti biasa, tapi dari tahun-ketahun akhirnya dibentuklah madrasah walaupun fasilitas kurang" ujarnya kepada Dakwahpos.com Rabu (21/12/16)

Walaupun kegiatan belajar mengajar dengan fasilitas yang kurang akan tetapi tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk belajar di Istiqomah.
Reporter: Muhamad Umar, KPI/3B

Masjid Istiqomah Selenggarakan Pengajian dari Rumah ke Rumah


Dakwahpos.com, Bandung- Pengajian rutinan yang biasa disajikan setiap minggu ke tiga, tidak selalu dilakukan di masjid Istiqomah, melainkan pengajian, dilaksanakan dirumah warga yang siap menampung, dalam setiap kegiatan pengajian tersebut.

Manijan (45) selaku ketua DKM masjid Istiqomah mengatakan bahwa kegiatan pengajian rutinan yang biasa digelar, tidak hanya di masjid saja akan tetapi kita laksanakan di rumah warga yang siap menampung segala aktivitas pengajian.

"Biasanya pengajian diadakan pada minggu ke dua dirumah warga kemudian lanjut minggu ketiga dilaksanakan di masjid Istiqomah, akan tetapi pengajian sekarang baru dilakukan dirumah warga saja, dikarenakan kepengurusan baru dan musyawarah kerja, sepakat untuk memulai pengajian rutin di masjid Istiqomah akan di jadwalkan kembali awal bulan januari 2017" ujarnya kepada Dakwahpos.com Selasa(15/12/16)

Reporter: Muhamad Umar, KPI/3B

Ketua DKM Masjid Istiqomah : Ahok Harus ditahan



Dakwahpos.com, Bandung-  Aksi bela Islam yang berturut-turut dilakukan oleh umat muslim terkait mengenai perkataan Ahok yang disinyalir menistakan agama Islam, aksi ini berlanjut hingga jilid tiga , bahkan aksi yang terakhir kemarin sampai 7 juta lebih umat muslim berkumpul.

Dalam sidang perkara, Ahok hanya baru dijadikan sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama Islam, banyak yang mengecam atas apa yang dilakukan Ahok  terhadap sikapnya yang terlalu arogan dan berani meremehkan kitab suci Al-qur'an.

Manijan (45) selaku DKM masjid Istiqomah mengatakan bahwa sidang perkara Ahok tentang penistaan agama secepatnya harus segera selesai dan akan  merugikan banyak pihak, apalagi umat Islam jikalau sidang itu tidak diselesaikan dengan baik.

"saya sebagai muslim akan sangat kecewa jika sidang perkara Ahok mengenai penistaan agama tidak diselesaikan secara transparan. Apabila seorang Ahok dibebaskan dari sidang, maka tidak menutup kemungkinan akan ada lagi bela Islam yang selanjutnya" ujarnya kepada Dakwahpos.com, Kamis (15/12/16)

Reporter: Muhamad Umar, KPI/3B

Dimanakah Pahlawan Itu?



Oleh Muhamad Umar

Pahlwan, kata ini memang pantas untuk diucapkan kepada para pejuang yang telah berani dan gagah menumpas penjajah, tidak sedikit pula yang rela mengorbankan nyawa untuk bangsa Indonesia. Kepahlawanan merupakan tindakan seorang pahlawan yaitu sikap yang dimiliki oleh seseorang dengan keberaniannya, keperkasaanya, dan kegagahannya untuk senantiasa berkorban membela kebenaran dan keadilan.

Orang yang memiliki jiwa kepahlawanan berarti tidak menutup kemungkinan ia akan memiliki rasa tanggung jawab yang besar dan rela berkorban seperti halnya pendahulu kita yang pada waktu masa penjajah, mereka berani mengusirnya sampai akhirnya negara Indonesia berdiri dengan merah putihnya. Pada masa itu merupakan masa yang amat dikenang bagi masyarakat Indonesia.

Negara Indonesia dewasa ini, sudah mulai tergoyahkan ibarat seperti kapal yang mau oleng, miris ketika melihat negara kita saat ini,  banyak sekali asing aseng yang ingin merebut Indonesia , sudah mulai nampak jelas jejak-jejak si asing aseng ini contohnya seperti kasus pengibaran bendera China di Maluku Utara. Apakah ini yang namanya merdeka, saya rasa tidak kita dijajah secara tidak sadar. Muda-mudi kita yang seharunya bisa meneruskan perjuangan para pahlawan akan tetapi yang kita lihat saat ini miris.

Muda-mudi kita disibukkan oleh tawuran, geng motor, narkoba, pergaulan bebas dan lain sebagainya, apakah ini yang disebut penerus bangsa ?, Indonesia sudah mulai terkepung bung, pemerintah seakan tidak peduli, yang memang sudah tidak peduli mungkin, pedulinya hanya pada kerjasama asing aseng yang berujung merugikan bagi bangsa Indonesia itu sendiri.

Satu kata untuk bangsa ini, yaitu ironis, ketika pemerintah kita secara suka rela dijajah dengan kerjasama kepalsuan si asing aseng. Kita bisa lihat sendiri hasilnya mulai dari pemberitaan uang terbaru Indonseia yang menyerupai uang yuan China, apakah ini bentuk penjajahan yang secara tidak langsung tidak disadari. Banyak sekali pahlawan yang dihilangkan pada mata uang Indonesia yang baru ini, seperti kapten Patimura, atau tuanku Imam Bonjol.

Kita semua harus mulai bangkit sadar, untuk segera mengusir si asing aseng, kita gabungkan semua elmen mulai dari cendikiawan , tokoh dan para mahasiswa untuk menghilangkan para penjajah yang bertopengkan kebaikan dan janji-janji busuk pemerintah diktator. Semoga semangat pejuang para pahlawan menular kepada kita semua. Kalau tidak bergerak niscaya kita dibunuh secara perlahan. 

Penulis, Mahasiswa KPI UIN Bandung

Banjir, Siapa Yang Harus Disalahkan?



Oleh : Muhamad Umar

Penomena banjir saat ini sudah biasa terjadi dimana-dimana, apalagi terjadi seperti dikota Jakarta bahkan di kota Bandung pada waktu minggu-minggu kemarin. Banjir sudah menjadi hal yang rumrah terjadi  di kalangan masyarakat. Siapa yang mesti disalahkan, tentunya semua elmen juga enggan untuk disalahkan atas penomena banjir yang melanda setiap musim hujan tiba.

Berbicara sampah, tentunya tidak pernah habis untuk dipermasalahkan, lantaran penyebab banjir itu sendiri diawali dari banyaknya sampah yang di buang sembarangan. Keluhan masyarakat terhadap banjir tidak pernah tidak disampaikan setiap harinya kepada pemerintah ketika musim hujan. Pemerintah saat ini selalu dipojokkan atas permasalahan banjir yang dihadapi masyarakat, walaupun pemerintah dan sebagian elmen masyarakat sudah berusaha menanggulangi banjir, tetap saja masih ada masyarakat yang mempersalahkan kinerja dari pemerintah tersebut.

Pemerintah juga seharusnya tidak disalahkan terus menerus atas semuanya. Seharusnya masyarakat juga sadar dan tahu apa yang harus dilakukan disaat banjir. Sungai meluap terjadi karena banyak sampah yang menumpuk, itu terjadi juga akibat masyrakat itu sendiri yang secara tidak sadar banyak yang membuang sampah ke sungai ataupun ke jalan yang berpapasan dengan gorong-gorong maka tidak menutup kemungkinan banjirpun terjadi dengan cepat.

Mulai dari sekarang juga kita sebagai umat manusia harus senantiasa berprilaku hidup bersih dan membuang sampah pada tempatnya. Semua elmen pemerintah, termasuk masyarakat harus saling bekerja sama, mulai dari membuat tempat sampah, membuang ataupun mengubur sampah, supaya kelak pada saat musim penghujan tiba, tidak berefek terlalu buruk dan senantiasa serta membiasakan diri untuk tidak membuang sampah kesungai ataupun dimana saja.  

Penulis, Mahasiswa KPI UIN Bandung

Usai Aksi Demo 212, Pendemo Tak Putuskan Silaturahim



Dakwahpos.com, Bandung,- Usai aksi 212 yang dilakukan di ibu kota Jakarta, pendemo tidak putuskan silaturahim. Hal tersebut di lakukan untuk menjaga tali persaudaraan umat islam yang berada di nusantara yang telah menjunjung tinggi nilai persatuan pada aksi demo 212 .

Banyak sekali forum silaturahim yang masih digunakan walau aksi  sudah usai dilaksanakan. Diantaranya adalah media sosial. Jamaah menggunakan media sosial seperti  facebook, whatsapp dan line untuk forum mereka. Pendemo membuat grup dan masih sering berbincang-bincang walau sekedar hanya saling bertukar kabar dan bertegur sapa.

"ya, setelah aksi demo 212 kemarin. Kami tidak putuskan silaturahim. Banyak organisasi islam yang bersatu disana dan kami semakin ingin bersatu akhirnya kami membuat grup di media sosial agar silaturahim kita tidak terputus. Kami kadang bertukar informasi, berdiskusi atau juga hanya sekedar bertanya kabar." Pungkas Euis Kamilah (40) salah satu pendemi aksi 212, saat diwawancarai dakwahpos.com Minggu, (18/12)

Reporter : Istianah Rahmawati KPI/3/B



 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Skumfuk Design Studio