x
BREAKING NEWS

Info Masjid

Islam Nasional

Info Kampus

Islam Internasional

Info Bandung

Kolom

Jumat, 21 Desember 2018

Tantangan Agama Islam di Era Modern

Judul Buku : Islam Tuhan Islam Manusia
Penulis : Haidar Baqir
Penerbit : Mizan
Tebal : xxxiii + 288
Cetakan I & II : Maret 2017 & April 2017
ISBN : 978-602-441-016-2

Manusia abad mutakhir sering lupa. Jika sudah berTuhan, lupa bahwa ia juga seorang manusia yang harus hidup harmoni dengan sesame dan alam semesta. Juga sebaliknya, ketika sudah asyik dengan alam materi manusia lupa bahwa dirinya adalah sorang hamba yang harus mengabdi untuk ber-tuhan. Gesekan antara keduanya membuat manusia kehilangan keseimbangan berpikir. Akibatnya tidak seimbang pula dalam berkata, mengambil keputusan, bergaul, hingga bertindak. Ia sering gagal dalam melakukan serangkaian tafsir ayat suci dan hadis nabi hingga mampu mencapai kebenaran hakiki, absolute, seperti yang Tuhan inginkan.

Islam di Zaman Kacau

Haidar Baqir dalam bukunya Islam Tuhan Islam Manusia, mengingatkan bahwa manusia kini hidup di "Dunia Kita Yang Sedang Meluruh." Kenapa mengagetkan? Karena tesis Geyer, Kolumnis dan ahli panel televisi tentang persoalan-persoalan dunia yang telah meraih berbagai hadiah berkat reportase dan komentar-komentar internasionalnya, adalah bahwa dunia kita ini tak bisa lain sedang mengalami peluruhan yang mengerikan. Banyak negara yang sebelumnya dianggap amat kohesif dari segi struktural maupun spiritual, "telah tercabik-cabik, seperti partikel-partikel sosial kemanusiaan yang sedang menggandakan (membelah) diri menjadi bagian-bagian penyusunnya, yakni suku, klan, fundamentalisme keagamaan segala agama, geng kota, kelompok maut, gerakan teroris, dan gerilya, serta kelompok yang mementingkan diri lagi berang."(hal 17-18)

"Saya percaya, kita sekarang sedang menapak arah yang berbahaya," kata Javier Perez de Cuellar (hal 18). Jika kita tilik lebih jauh, salah satu gejalanya adalah krisis dalam pendekatan multilateral dalam urusan internasional, dan sejalan dengan itu, adanya erosi atau wewenang dari status pranata interpemerintah regional maupun dunia.

Cara manusia merespon teknologi perlu ditanyakan terhadap "Spiritualisme: masa depan manusia?" Sebab dari itu, adanya kecenderungan untuk menyeimbangkan keajaiban material teknologi dengan tuntutan spiritual fitrah manusia. Dan rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa, paling sedikit ada empat lagi di antara sepuluh megatrends yang diperkirakan oleh Naisbit merupakan perwujudan apa yang disebutnya "tuntutan spiritual" itu – desentralisasi, demokrasi partisipatif, self help, dan jaringan kerja (network).
Teknologi sering membuat orang berpikir pragmatis. Ingin mencapai keridhaan Tuhan dan menggapai surge dengan cara instan. Hal inilah yang nantinya menjadi akar masalah lahirnya gerakan-gerakan radikal. Termasuk suatu paham divisive intra-Islam yang biasa disebut sebagai takfirisme, yaitu suatu paham atau gerakan radikal yang berakar pada ajaran untuk melabeli kelompok yang tidak sejalan dengan kelompoknya sendiri sebagai kafir.

Penulis buku ini memperingatkan pembaca untuk tidak tergiur dengan paradigma baru itu. Paradigma ini bersumbu pada ideologi takfirisme yang suka mempropagandakan kebencian (hal 168-169). Ideologi ini mengancam ideologi Pancasila dan NKRI (hal 172). Selain untuk bersikap moderat, buku ini juga mengajak pembaca untuk tidak gegabah dalam melihat masalah. Fenomena agama di Indonesia kontemporer cukup rumit. Banyak hal yang harus dipahami secara cermat. Relasi Sunni-Syi'ah, misalnya, yang beberapa waktu lalu mengeras sesungguhnya bukanlah berakar dari esensi, bukan pula berakar dari keindonesiaan kita. Esensi relasi keduanya adalah relasi penuh perdamaian. Kekacauan relasi keduanya di Tanah Air sesungguhnya lebih dipicu oleh faktor eksternal, yakni mengerasnya relasi Arab Saudi dan Iran (hal 159-175).

Peran Pemikiran Keagamaan dalam Sains

"Sungguhnya akan kami tunjukan tanda-tanda (ayat) kami, di ufuk-ufuk (alam semesta) dan pada diri mereka sendiri…" (QS Fushshilat 41:53). 
Artinya, disamping lewat al-Qur'an, kegiatan perenungan (dzikr) dan pemikiran rasional (fikr), pengetahuan tentang Allah Swt. dapat diketahui lewat observasi (tadabbur) atas tanda-tandanya di alam semesta itu, yakni gejala-gejala alam semesta. Oleh karena itu, integrasi ilmu dan agama mungkin lebih tepat disebut sebagai reintegrasi ilmu dan pemikiran keagamaan. Karena reintegrasi ilmu dan agama, tekadang disebut "Islamisasi ilmu", yang tidak hanya membahas soal haram-halal tetapi juga keseluruhan aspek horizontal maupun vertical. Secara lebih konkret, reintegrasi ilmu dan agama ini didasarkan pada kritik atas sifat reduksionis filsafat ilmu modern di ketiga domain tersebut, yakni reduksi ontologism, epistemologis, dan aksiologis.

Sebagai kumpulan tulisan, buku ini menunjukkan kelihaian penyuntingnya. Walaupun tulisan yang disajikan membahas topik yang luas dan beragam, masih bisa ditangkap struktur kemasuk-akalannya (plausibility structure). Ide-ide penulisnya bisa diramu secara padu. Kesinambangunan pikiran bisa disajikan secara logis dan nyaris tanpa lompatan. Walaupun memberikan bacaan yang penuh gizi, buku ini masih memiliki kelemahan. Banyak topik yang mestinya dibahas secara lebih mendalam hanya dibicarakan dalam beberapa halaman saja. Klaim Arab Saudi yang mendaulat dirinya sebagai imam kalangan Sunni, misalnya, merupakan topik yang membutuhkan penjelasan mendalam, tetapi buku ini hanya membahasnya sambil lalu (hal 160-168).

Ketidaktuntasan pembahasan ini menuntut pembaca untuk membaca buku lain, misalnya buku Khaled Aboe el-Fadhl (The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists, 2005).

Kelemahan lain dari buku ini adalah rentang topik yang amat luas dan beragam yang meliputi bidang filsafat, pemikiran Islam, agama, tafsir, hukum, fikih, ideologi, politik, sosial, dan budaya, membuat pembaca merasa berat untuk memahami keseluruhan topik. Pembaca yang belum pernah bersentuhan dengan topik-topik itu akan merasa klieng-klieng (pusing). Namun, kelemahan itu adalah wajar untuk sebuah buku pemikiran yang berkualitas. Kelemahan itu tidak akan mengurangi kandungan gizinya.

Namun, hadirnya buku ini adalah sebuah bentuk keberuntungan bagi cendekiawan muda karena karangan Haidar Baqir "Islam Tuhan Islam Manusia" mampu membuka cakrawala pengetahuan kita, dari berbagai aspek dan polemik yang sedang melanda spiritualitas dunia yang sedang meluruh saat ini.
Selain itu, kelebihan buku ini memberikan solusi bagaimana agar umat Muslim mengembangkan kultur lapang dada dalam menyikapi perbedaan pandangan, Haidar menawarkan prinsip "persatuan umat Islam." Ia berpendapat bahwa mazhab boleh berbeda, bahkan intra mazhab juga terdapat variasi-variasi yang terkadang cukup kontras. Tapi di atas semuanya itu, ada prinsip-prinsip dasar, prinsip-prinsip umum yang semua mazhab dan kelompok dalam Islam berbagi. Itulah prinsip-prinsip utama (furu') agama itu, dan berbekal persamaan prinsip utama itu, kaum Muslimin dari semua kelompok dapat membangun persatuan yang menyebabkan sebagai satu umat mereka tetap bisa berkiprah dan memberikan kontribusi kepada kemanusiaan secara efektif. Itulah persatuan dalam kebhinekaan.

Agama diturunkan oleh Tuhan untuk manusia, artinya adalah suatu kesalahan jika kita mengembangan pemahaman atas agama yang dilepaskan dari kebutuhan manusia. Agama Tuhan sesungguhnya pada saat yang sama adalah agama manusia. Bahkan sesungguhnya, kecuali kenyataan bahwa agama dipercayai sebagai bersumber dari Tuhan. Agama sepenuhnya adalah agama manusia. Karena itu, sudah sewajarnya agama ditafsirkan sejalan dengan bukan saja kebutuhan manusia , tapi juga perkembangan manusia dari zaman ke zaman. Karena tanpa itu semua, agama justru akan kehilangan relevansinya, dan tak lagi memiliki dampak bagi kehidupan umata manusia.

Reporter : Ando Adhi Putra, KPI 3A

Saeful Mulk Menjabat Ketua DKM Al-Mukhtar Periode 2018-2019

Masjid Al-Mukhtar berada di Kelurahan Cipadung Kulon , didirikan oleh H. Ilyas sekitar tahun  1958. Jika bicara kepengurusan masjid Al-Mukhar, untuk saat ini dipegang oleh sanak-kerabat dan keluarga H. Ilyas sendiri. Kepengurusan ini dilakukan secara turun temurun  dengan maksud agar sejarah berdirinya masjid Al-Mukhtar tetap terjaga keasliannya. Oleh karena itu, kepengurusan kini telah dipegang oleh Ketua RW Cipadung Kulon sekaligus keponakan dari H. Ilyas sendiri yaitu Saeful Mulk.

Beliau lahir pada tahun 18 juni 1965, dan sejak kecil hingga dewasa beliau memang tidak asing lagi dengan masyarakat sekitar Kelurahan Cipadung Kulon terutama Masjid Al-Mukhtar. Sejak berada dibangku SD (Sekolah Dasar) sampai beliau dewasa, memang telah rutin dan diajarkan untuk ikut kedua orang tuanya dalam mengurus masjid Al-Mukhtar.

Kendati demikian, kerabat lainnya pun ikut membantu dalam kepengurusan Masjid Al-Mukhtar seperti Agus Herman (52 tahun) selaku sekretaris serta sepupu dari Saeful Mulk sendiri. Uniknya lagi seperti halnya budaya Sunda, jika ada satu keluarga dalam satu tempat pasti keluarga lainnya juga berada ditempat tersebut. Ngariung istilahnya dalam bahasa Sunda.

Jika ditilik lebih dekat, memang benar keluarga-keluarga dari beliau berada disekitar masjid Al-Mukhtar. Beliau mengatakan karena mereka ngariung seperti ini memang sesuai dengan adat istiadat budaya Sunda "makan ga makan yang penting ngumpul we" ucap beliau. 

Saat ini beliau sedang sibuk-sibuknya dalam menjalankan tugasnya sebagai Ketua RW serta sebagai Ketua DKM Masjid Al-Mukhtar. Beliau juga sempat berpesan agar hidup ini bisa berguna bagi orang lain, karena hidup hanya satu kali dan beribadah hanya kepada Allah. Beribadah kepada Allah dan berguna bagi orang lain harus kita lakukan selama masih diberi kesempatan.


Reporter: Ando Adhi Putra KPI/3A

Ibu-ibu Ramaikan Kegiatan Tawasul di Masjid Al Hidayah

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al Hidayah, yang terletak di Jl. Manisi, Gg. Manisi VI, no. 124, RT 04 RW 03, Kelurahan Pasirbiru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Masjid ini aktif dengan berbagai kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap minggu. Ketua DKM Al Hidayah, bapak Asep Sutiawan selalu menyelenggarakan berbagai kegiatan, seperti pengajian khusus ibu-ibu yang rutin diadakan setiap hari Kamis ba'da duhur sampai ashar.

Pengajian rutin yang diadakan setiap hari kamis tersebut, tidak hanya terbatas pada ibu-ibu yang bertempattinggal di RT 04 saja. Namun pengajian ini berlaku untuk umum, dan siapapun boleh untuk ikut di pengajian ibu-ibu Masjid Al Hidayah ini. Pengajian rutin ibu-ibu Masjid Al Hidayah sudah diadakan sejak dahulu, sehingga banyak dari para anggotanya yang sudah tidak muda lagi.

Jumlah jema'ah yang hadir pada pengajian ini berjumlah sekitar 16 orang, namun jika datang semua maka jumlah jema'ah yang hadir mencapai 40 orang. Pengajian yang dimulai pada pukul 1 siang ini dipimpin oleh Emak Eneh, yang diawali dengan istighfar bersama-sama, kemudian mengaji bergilir oleh para jema'ah. Jika sudah jam 2 siang, pengajian akan diisi dengan ceramah dari Bapak Dr. H. Hanafi.

Tidak hanya mengaji bersama, kegiatan pengajian ibu-ibu Masjid Al Hidayah setiap bulan diisi oleh kegiatan tawasul. Kegiatan ini diadakan rutin sebulan sekali, baik awal bulan maupun akhir bulan sesuai dengan jadwal pengajian tersebut. 

"Biasanya setiap hari kamis setelah mengaji bersama, akan diisi oleh ceramah dari Bapak Ustadz Hanafi. Namun berhubung ini awal bulan, maka yang awalnya diisi oleh ceramah berganti menjadi kegiatan tawasul" Ucap Kamsiliyah salah satu jema'ah pengajian ibu-ibu, Kamis (04/10/2018).


Reporter : Edra Adha Yati, KPI 3.A

Eneh Suhaenah Usia Telah Senja, Semangat Tetap Ada

Dakwahpos.com, Bandung- Menjalani hidup hingga usia senja, bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan oleh sebagian orang. Apalagi harus tetap bahagia dan dapat mengisi kegiatan dengan berbagai hal yang positif. Umur bukanlah hitungan angka yang dapat mengukur seberapa semangat kita untuk menjalani hidup, karena sejatinya semangat seseorang tidak dapat lekang oleh waktu.

Ketika menginjak usia 60 tahun, tubuh sudah mulai mengalami penurunan fungsi dan berbagai macam penyakit akan datang menghampiri. Namun meskipun sudah berusia senja dan mulai sakit-sakitan, semangat untuk menjalani hidup harus tetap membara. Hal inilah yang dialami Eneh Suhaenah, seorang wanita berusia senja yang lahir di Bandung pada 7 Juli 1944 silam. Yang kini bertempat tinggal di Manisi 27, RT 03 RW 01, Desa Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, Bandung. 

Diusianya yang terbilang sudah tua yaitu sudah berusia 74 tahun, semangat Eneh Suhaenah tidak pernah padam. Eneh Suhaenah yang biasa disapa Emak oleh warga sekitar, selalu bersemangat untuk menuntut ilmu agama. Meskipun tak jarang Eneh Suhaenah datang ke pengajian dalam kondisi sedang sakit, misalnya batuk, sakit punggung, dan berbagai macam penyakit diusia senja lainnya.

Eneh Suhaenah merupakan penanggung jawab atau ketua pengajian ibu-ibu, yang berlokasi di Masjid Al Hidayah, Jl. Manisi, Gg. Manisi VI, no. 124, RT 04 RW 03, Kelurahan Pasirbiru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Meskipun hanya mampu menyelesaikan pendidikan sampai Sekolah Rakyat pada tahun 1958 di Lampung Tengah kemudian berlanjut ke Cibiru, Eneh Suhaenah tetap mampu dan dipercaya menjadi penanggung jawab pengajian ibu-ibu. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak beliau mulai mengaji di Masjid Al Hidayah pada tahun 1978 hingga sekarang.

Eneh Suhaenah mengatakan bahwa meskipun usia sudah tidak muda lagi, semangat kita jangan pernah kalah dengan yang masih muda. Beliau berkata bahwa pendidikan adalah nomor satu, apalagi mengenai pendidikan agama. Sehingga sengat benting baginya untuk selalu datang ke Masjid untuk mengaji, karena menurut beliau sangat rugi apabila ilmu agama tidak dikaji terus menerus.


Reporter : Edra Adha Yati, KPI 3A 

Kamis, 20 Desember 2018

Anak Yatim Piatu Ramaikan Masjid Miftahul Falah


Dakwahpos.com,Bandung- Yayasan Pendidikan Pesantren Miftahul Falah, terletak di Jl. Percobaan No.2 Cikalang, Cileunyi, Bandung, Jawa Barat 40393.  Telah genap 22 tahun masjid ini berdiri tepatnya pada tanggal 20 Maret 1996 yang diketuai oleh Drs. Uhen Lukman Mursalin ,M.Pd selaku ketua DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) masjid tersebut. 
Selayaknya masjid sebagai tempat beribadah , masjid ini juga digunakan sebagai sekolah agama bagi anak-anak yatim piatu pondok pesantren Miftahul Falah tersebut. Setiap pagi, sore dan malam hari anak-anak yatim piatu asuhan Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Falah menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Quran dan memperdalam ilmu-ilmu agama. 
Seperti kebiasaan anak-anak pada umumnya, anak-anak yatim piatu Miftahul Falah seringkali bermain, bercanda, dan juga beristirahat seolah masjid adalah rumah mereka sendiri. 
"Masjid Miftahul Falah juga sering digunakan sebagai tempat berkumpul anak-anak ketika ada santunan anak yatim piatu, acara ulang tahun, acara aqiqah dan acara yang lainnya"  Pungkas Ustadz Asep Saepul S.Pd.I selaku pimpinan yayasan miftahul falah. 
Sabtu (3/11/2018)

Reporter: Neneng Siti Alawiyah KPI/3C

Terapkan Metode Hafalan Quran di Mesjid Alhikmah

Dakwahpos, Bandung- Mesjid Al-hikmah adalah mesjid yang berdiri sebelum kemerdekaan indonesia yaitu  pada tahun 1933. Mesjid yang berlokasi di  Jl.Pangaritan Rt01/Rw03  ini sedang melakukan proyek pembangunan mesjid yang baru, karena melihat kondisi fisik bangunan yang sudah tua dan rusak. Tetapi pembangunan mesjid sempet terhenti karena kurangnya dana pada tahun 2017 kemarin.

Pada hari jumat malam pukul 19.00 sedang diadakan pengajian untuk anak anak yang berjumlah 15 orang 7 diantaranya mengaji al-quran dan 8 orang yang lainnya mengaji iqro. Dari data tersebut tidak semua anak-anak yang sudah bersekolah saja, ada juga yang belum bersekolah tetapi ia ikut mengaji.

"Sebenarnya jumlah santri disini itu banyak hampir ada 25 orang, Cuman yaa karena ada yang makin sibuk disekolahnya mereka jarang mengaji lagi kesini. Ada juga yang sengaja keluar gamau mengaji lagi. Bahkan ada juga yang pindah mesjid, dan disini saya berusaha untuk mempertahankan yang masih ingin mengaji disini karena sayang sekali mesjid yang cukup besar ini bila tidak dipakai untuk kegiatan mengaji". Nida syifa(19) Jumat (2/11/2018) salah satu guru ngaji di Mesjid Al-hikmah.

Saat itu, anak-anak yang sedang mengaji dibagi menjadi 2 bagian yang pertama bagian mengaji al-quran dan bagian yang kedua mengaji iqro. Untuk bagian yang mengaji iqro mereka mengaji secara bergantian dan hafalan surat-surat pendek. Sedangkan untuk bagian yang mengaji Al-Quran mereka mengaji dengan metode hafalan juz 30 secara acak.

"Disini saya membiasakan mereka untuk menghafal Al-Quran minimal dari juz 30,dan saya terapkan juga metode pembelajarannya saat waktu saya pesantren dulu. Jadi mereka saya suruh untuk mengambil kertas yang berisi nama-nama surat pendek maupun panjang yang sudah saya gulungka. Dan bilamana ada yang tidak bisa membaca saya suruh mereka berdiri untuk menghafalkannya. Mereka sangat senang dan asik meskipun ada saja anak yang kurang suka dengan metode hafalan ini". Nida Syifa(19) Jumat (2/11/2018).

Reporter: Susi Agustiani KPI/3D

Anak Yatim Piatu Ramaikan Masjid Miftahul Falah

Dakwahpos.com,Bandung- Yayasan Pendidikan Pesantren Miftahul Falah, terletak di Jl. Percobaan No.2 Cikalang, Cileunyi, Bandung, Jawa Barat 40393.  Telah genap 22 tahun masjid ini berdiri tepatnya pada tanggal 20 Maret 1996 yang diketuai oleh Drs. Uhen Lukman Mursalin ,M.Pd selaku ketua DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) masjid tersebut. 
Selayaknya masjid sebagai tempat beribadah , masjid ini juga digunakan sebagai sekolah agama bagi anak-anak yatim piatu pondok pesantren Miftahul Falah tersebut. Setiap pagi, sore dan malam hari anak-anak yatim piatu asuhan Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Falah menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Quran dan memperdalam ilmu-ilmu agama. 
Seperti kebiasaan anak-anak pada umumnya, anak-anak yatim piatu Miftahul Falah seringkali bermain, bercanda, dan juga beristirahat seolah masjid adalah rumah mereka sendiri. 
Masjid Miftahul Falah juga sering digunakan sebagai tempat berkumpul anak-anak ketika ada santunan anak yatim piatu, acara ulang tahun, acara aqiqah dan acara yang lainnya. 
Sabtu (3/11/2018)

Reporter: Neneng Siti Alawiyah KPI/3C

Kegiatan Rutin Marhaba di Masjid Ash Sholawat

Dakwahpos, Bandung- Masjid Jami ' Ash Sholawat adalah masjid yang berdiri atas kesepakatan orang-orang yang memiliki ide kreatif. Masjid ini berlokasi di Jalan Manisi RT 01/RW 13 Cipadung Cibiru Kota Bandung.

Malam jum'at, setelah magrib. Anak-anak lingkungan masjid jami' Ash Sholawat melakukan kegiatan mingguan. Salah satunya kegiatan marhaba yang di ikuti oleh berbagai kalangan. Seperti, anak-anak, remaja dan dewasa.

"Kegiatan ini tidak pernah absen, soalnya masyarakat disini sangat antusias dan berpatisipasi dalam setiap kegiatan yang ada di masjid ini". Ujar Bapak Agus selaku ketua DKM Ash Sholawat, kamis malam (1/11/2018).

Marhaba ini tak pernah sepi. Karena masyarakat menganggap agenda ini sebagai kebutuhan rohani yang menggunggah kalbu.

"Alhamdulillahnya kegiatan marhaba tidak pernah menimbulkan konflik di masyarakat. Saya sangat bersyukur soalnya di masjid ini kita saking merangkul". Pungkas Bapak Agus. Salah satu prestasi masjid Ash Sholawat yaitu mampu menyatukan berbagai madzhab.

Reporter: Syifa Qurrotu'aini Ashidiqi KPI/3D

Berbagai kegiatan di masjid Al-Habsyi

Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al-Habsyi, sabtu (03/11/2018). Masjid Al-Habsyi merupakan masjid yang berada di daerah jl. Marga mulya, cimekar, cileunyi, kota Bandung
Hampir setiap harinya Masjid  ini digunakan sebagai tempat pengajian rutinan yang dilaksanakan pada setiap malam jumat dan setelah sholat subuh dan badan magrib. Saat bada maghrib tiba, dilaksanakan pengajian anak anak, adapun kegiatan pengajian campuran di hari jum'at, dan kajian yang dilaksanakan pada sabtu sore yang diisi oleh remaja mesjid sekitar.

Selain kegiatan pengajian rutinan, adapun kegiatan lain yang dilaksanakan di Masjid Al-Habsyi ini, contohnya seperti peringatan hari besar Islam, pemotongan hewan qurban, kegiatan pesantren kilat yang diselenggarakan oleh pihak DKM dan Masyarakat sekitar

"Kita sering mengadakan berbagai kegiatan di mesjid ini apalagi saat bulan muharram, kita sering mengadakan lomba islami seperti loba adzan, hafalan al-quran dan lomba lainnya" ujar cecep sebagai warga sekitar (03/11/2018).

Masjid Al-Habsyi sudah menjadi masjid jami karena hanya ada masjid inilah yang dimana warga sekitar menunaikan sholat jumat.

Reporter : Fahmi Syaefurrahman Muslim KPI/3

Terapkan metode Hafalan Quran di Mesjid Alhikmah

Terapkan Metode Hafalan Quran di Mesjid Alhikmah

Dakwahpos, Bandung- Mesjid Al-hikmah adalah mesjid yang berdiri sebelum kemerdekaan indonesia yaitu  pada tahun 1933. Mesjid yang berlokasi di  Jl.Pangaritan Rt01/Rw03  ini sedang melakukan proyek pembangunan mesjid yang baru, karena melihat kondisi fisik bangunan yang sudah tua dan rusak. Tetapi pembangunan mesjid sempet terhenti karena kurangnya dana pada tahun 2017 kemarin.

Pada hari jumat malam pukul 19.00 sedang diadakan pengajian untuk anak anak yang berjumlah 15 orang 7 diantaranya mengaji al-quran dan 8 orang yang lainnya mengaji iqro. Dari data tersebut tidak semua anak-anak yang sudah bersekolah saja, ada juga yang belum bersekolah tetapi ia ikut mengaji.

"Sebenarnya jumlah santri disini itu banyak hampir ada 25 orang, Cuman yaa karena ada yang makin sibuk disekolahnya mereka jarang mengaji lagi kesini. Ada juga yang sengaja keluar gamau mengaji lagi. Bahkan ada juga yang pindah mesjid, dan disini saya berusaha untuk mempertahankan yang masih ingin mengaji disini karena sayang sekali mesjid yang cukup besar ini bila tidak dipakai untuk kegiatan mengaji". Nida syifa(19) Jumat (2/11/2018) salah satu guru ngaji di Mesjid Al-hikmah.

Saat itu, anak-anak yang sedang mengaji dibagi menjadi 2 bagian yang pertama bagian mengaji al-quran dan bagian yang kedua mengaji iqro. Untuk bagian yang mengaji iqro mereka mengaji secara bergantian dan hafalan surat-surat pendek. Sedangkan untuk bagian yang mengaji Al-Quran mereka mengaji dengan metode hafalan juz 30 secara acak.

"Disini saya membiasakan mereka untuk menghafal Al-Quran minimal dari juz 30,dan saya terapkan juga metode pembelajarannya saat waktu saya pesantren dulu. Jadi mereka saya suruh untuk mengambil kertas yang berisi nama-nama surat pendek maupun panjang yang sudah saya gulungka. Dan bilamana ada yang tidak bisa membaca saya suruh mereka berdiri untuk menghafalkannya. Mereka sangat senang dan asik meskipun ada saja anak yang kurang suka dengan metode hafalan ini". Nida Syifa(19) Jumat (2/11/2018).

Reporter: Susi Agustiani KPI/3D

Sejarah Masjid Al-Huda

Dakwahpos.com, Bandung- Al-Huda. Diambil dari kata Huda yaitu petunjuk. Masjid Al-Huda ini dibangun sekitar tahun 80an. Pada awalnya masjid Al-Huda bukan di daerah permai Cipadung melainkan di daerah Cisalatri. Dikarenakan ada orang yang mewakafkan tanahnya untuk dibuat masjid maka dari itu masjid Al-Huda dipindahkan didaerah permai Cipadung. Tanah yang diwakafkan tersebut adalah tanah milik Alm H. odang.
Berkat para donator yang memberikan sumbangan pada tahun 2013 masjid Al-Huda direnovasi dan kini memiliki fasilitas tambahan. Yaitu madrasah yang ada di lantai 1. Sumbangan terbesar diberikan oleh Pemkot (Pemerintahan Kota) pada masa jabatan Dr. H. Dada Rosada. Sumbangan yang diberikan dari Pemkot untuk masjid Al-Huda ini sekitar 500jt. Kurang lebih sekitar 1 miliyar dihabiskan untuk merenovasi masjid Al-Huda ini. Pembangunan masjid ini juga dibantu oleh kepala desa setempat yaitu Aki Anang.

Masjid Al-Huda juga sudah memiliki beberapa ketua DKM. Ketua DKM yang pertama adalah  KH. Syaeful Zaman, kedua KH. Zaenal Mutakin, lalu Prof. Apif (menjabat sekitar 15 tahun), dan sekarang oleh bapak Nur Kholis Sutadi Harahap beliau dilantik pada bulan Oktober 2018. Sebelumnya beliau menjabat sebagai sekretaris.


Repoter : Resza Anita Febriana KPI 3/D

Aktivitas Belajar Mengaji di Masjid Al Aqsha

Dakwahpos.com, Bandung- Puluhan anak-anak mulai dari umur 3 sampai 7 berkumpul untuk mengaji, selepas sholat ashar. Anak-anak tersebut mengaji di TPA Al Aqsha yang bertempat di Masjid Al Aqsha. Anak-anak belajar mengaji dengan dibimbing oleh dua atau tiga orang guru ngaji disetiap tingkatannya yang terdiri dari i'dad, wustha,ulya, dan masing-masing guru mengajari sekitar 5 anak muridnya.
Mereka mengaji bergantian karena jumlah mereka belasan orang disetiap tingkatannya, anak-anak mengaji dengan penuh semangat. Anak-anak yang masih iqro' 1 sampai 3 dikelompokkan ditingkat i'dad, anak-anak yang belajar iqro' 4-6 dikelommpokkan ditingkan wustho, dan anak-anak yang sudah Al Qur'an ditempatkan pada tingkan ulya. Disamping belajar mengaji anak-anak juga diajarkan praktik ibadah, menyanyikan lagu islam, hafalan surat pendek, do'a sehari-hari sambil bermain
 "Senang bisa mengaji dan bermain bersama teman, ungkap Jazil Hayyan Al Ahwaz salah satu murid yang berumur 4 tahun, Sabtu (3/11/2018).
Kegiatan mengaji ini berlangsung selama enam hari dalam seminggu, dan pada hari Jum'at kegiatan mengaji diliburkan. Dan pada hari Ahad anak-anak bersama para santri dan warga mengikuti Marhaba'an (Sholawatan) dan mandengarkan ceramah di masjid.
Sambil mengantri giliran mengaji, anak-anak ada yang bermain, bercanda, berlari-lari, seperti anal-anak pada usianya, bahkan kadabg ada yang bertengkar dan menangis. Meskipun begitu, anak-anak selalu diawasi oleh para guru. Harapan didadakan kagiatan mengaji dengan didirikannya TPA adalah agar anak-anak dapat mengenal Al Qur'an sejak dini, menjadikan anak-anak beraqidah kuat dan menjadi mujahid Islam di masa mendatang.

Reporter: Nurul Fitriana KPI/3C



Selain Oleh Warga, Mesjid di Penuhi Oleh Orang Yang Singgah


Selain Oleh Warga, Mesjid di Penuhi Oleh Orang Yang Singgah.
Dakwahpos, Bandung - mesjid  Al-Ikhlas merupakan salah satu mesjid yang ada di Bandung dan berada tepat di pinggir jalan yang ramai. Bukan hanya warga setempat yang melakukan kegiatan peribadatan di mesjid tersebut, tetapi kebanyakan adalah orang-orang yang singgah ketika waktu sholat tiba.
"Memang benar, saya beserta sesepuh warga mendirikan mesjid ini tidak hanya untuk warga kami. Tetapi kami menyiapkan ini (mesjid Al-Ikhlas) untuk orang-orang yang kebetulan melintas dan singgah untuk sekedar sholat atau rehat sejenak di mesjid ini, terutama pas waktu Maghrib". Ujar pa Maftuh (tokoh warga) sabtu, 04/11/18.
Tempat mesjid yang strategis, merupakan keunggulan yang di miliki mesjid Al-Ikhlas. walaupun fasilitas yang ada di mesjid Al-Ikhlas tidak sebagus mesjid-mesjid besar yang ada di kota bandung, tetapi mesjid Al-Ikhlas banyak sekali memberikan manfaat bagi warga maupun orang-orang yang kebetulan melewati dan singgah di mesjid tersebut.
Reporter : Restu Maulana

Padatnya kegiatan di masjid darus sholihin

Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Darus Sholihin, Kamis (01/11/2018). Kegiatan yang terdapat di masjid ini sudah tidak usah dipertanyakan lagi. Setiap hari ada kegiatan di masjid ini, seperti mengaji. Bahkan kegiatan ini tersedia bagi semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa baik itu laki-laki maupun perempuan.

KH. Misbahul Munir selaku ketua DKM masjid ini yang sudah menjabat menjadi ketua DKM selama 25 tahun, yakni dari tahun 1993. Usia dari masjid ini pun berselisih 3 tahun dari kemerdekaan Indonesia, yaitu pada tahun 1948 masjid ini dibangun. "Masjid ini telah beberapa kali mengalami rehab" ujar beliau, memang wajar karena usia dari masjid ini telah menginjak 70tahun.

Masjid ini dipenuhi oleh kegiatan-kegiatan, "mulai dari kegiatan setiap hari, perminggu, dan  dalam memperingati hari-hari besar Islam. Kegiatan perhari untuk anak-anak mulai dari SD hingga SMP. Perminggunya ada kegiatan khusus untuk orang tua, hari rabu untuk ibu-ibu, malam jum'at untuk ibu-ibu dan bapak-bapak, malam kamis dan malam minggu untuk bapak-bapak." Ujar KH. Misbahul Munir.

Jenis pengajian untuk anak-anak diutamakan hafalan al-Quran dan fiqh, lalu untuk pemuda dan orang tua pembacaan kitab kuning, untuk ibu-ibu merupakan ceramah mengenai Tauhid, akhlak dan sebagainya. Tidak hanya bagi anak-anak SD hingga SMP, Namun juga bagi TK. Beliau berkata "Di masjid ini terdapat TK, satu kelas, dibawah yayasan darus sholihin yang sudah ada kurang lebih 7 tahun".

Ketika hari-hari besar Islam, Masjid yang terletak di kampung Pangaritan, Rt. 01/ Rw. 05, Kelurahan  Cipadung, Kecamatan Panyileukan, Bandung ini mengadakan acara untuk memperingati hal tersebut. Seperti Maulid Nabi, Rajab, Nuzulul Quran, dan sebagainya. Kegiatan ini berlangsung satu tahun sekali dan di isi oleh seluruh kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Kegiatan ini tidak lebih bertujuan agar tali silaturahmi terus berjalan untuk seluruh masyarakat di sekitaran daerah tersebut.


Reporter : Muhammad Fachri, Mahasiswa KPI 3C UIN Bandung.

Masjid Sederhana dan Strategis yang Terbentuk dari Bekas Kost-kostan


Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Nurul Utsman yang bertempat di kelurahan Pasir Biru Cibiru adalah masjid hasil wakaf keluarga Hj. Utsman (Alm). Masjid ini berdiri kokoh sebagai tempat kegiatan ibadah umat Islam. 
Masjid yang bertempat di RT 02/01 ini dibangun pada tahun 2006 di atas tanah seluas ± 204 M². Masjid ini berdiri atas keinginan masyarakat setempat sebagai bukti kecintaannya terhadap agama. Masjid yang berdiri di atas tanah bekas kost-kostan ini resmi menjadi milik masyarakat dengan adanya sertifikat resmi dari pemerintahan.

"Masjid ini bagi saya sangat bersejarah, karena pada sekitar tahun 1992 pertama kalinya saya datang kesini sebagai pendatang baru. Dulu disini lingkungannya sangat memprihatinkan. Belum ada masjid dan kumuh, hanya terlihat bangunan kost-kostan saja" ungkap Herna (45), ketua DKM Masjid Nurul Usman. Minggu , (4/11).

Apabila kita ingin menuju masjid ini melalui jalur selatan, kita tidak akan menyadari bahwa terdapat masjid disana. Karena belum terpampangnya plat yang menandakan adanya masjid, ditambah jika melintasi jalur selatan ini, kita akan melewati halaman samping rumah warga, dan beberapa kost-kost an, sehingga menyebabkan  ketidaksadaran bagi pendatang baru akan adanya masjid ini.
Banyak kegiatan positif yang dilaknsakan di masjid ini sebagai bentuk dakwah Islam. Beberapa pengajian rutin pun ramai diikuti masyarakat sekitar seperti menghafal al-Quran setelah shalat subuh, pengajian anak-anak ba'da Maghrib, pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak selepas Sholat Jum'at, dan lain sebagainya.

Masjid yang terlihat sederhana ini terdiri dari dua ruangan,diantaranya ruang untuk tempat Shalat dan untuk kegiatan pengajian. Banyak program pengajian yang diadakan masyarakat warga babakan desa ini baik pengajian harian, mingguan bahkan bulanan. Menurut Herna, materi pengajian anak-anak diantaranya Fiqh, Tauhid, Tajdwid, Hafalan Quran dan lain sebagainya. Sedangkan untuk orang dewasa terdapat Majelis Ta'lim yang diselenggarakan setiap hari Kamis dari Dzuhur sampai Ashar, selain juga pengajian bulanan setiap minggu kesatu.

"Saya dan teman saya tertantang untuk merubah lingkungan masyarakat babakan desa ini dengan modal ilmu yang pernah saya cari waktu dipondok pesantren dulu. Sebenarnya saya juga saat itu masih belajar, tapi siapa lagi yang bisa merubah keadaan ini kalau bukan saya dan teman-teman saya pada saat itu. Dan alhamdulilla sekarang telah berdiri masjid Nurul Utsman ini sebagai sarana dakwah Islami untuk mempersatukan masyarakat disini sekaligus menjalin tali silaturahmi" . ujarnya.

Reporter : Muhammad Hafizh Zaini / KPI 3C


 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia