x
BREAKING NEWS

Info Masjid

Islam Nasional

Info Kampus

Islam Internasional

Info Bandung

Kolom

Kamis, 04 Januari 2018

Lautan Merah di Kosambi


Oleh : Elysa PN Fazriyah

Baru-baru ini peristiwa kebakaran yang terjadi di pabrik petasan Kosambi, Tangerang ,Banten, sangat mengenaskan. Pasalnya, pabrik yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT Panca Buana Cahaya itu berada dekat dengan pemukiman warga dan sekolah. Kejadian ini menewaskan kurang lebih 47 korban jiwa, dan lebih naasnya lagi, para pekerja disini dilakukan seperti budak karena status pekerja mereka tidak jelas. Mereka memperkerjakan siapa saja yang mau tanpa ada syarat kualifikasi.  Para pekerja disini  tidak memiliki jaminan keselamatan kerja dan tanpa pengamanan (safety-red), yang penting target tercapai. Dan yang lebih parahnya lagi, mereka mempekerjakan anak dibawah umur.

Status perizinan usaha ini patut diselidiki lagi, karena usaha ini memiliki resiko yang sangat berbahaya. Apalagi jika benar izinnya untuk pembuatan mercon, tentunya ini memerlukan proses perizinan yang begitu berlapis dan super ketat, karena bisnis ini memproduksi produk yang berbahaya bagi keselamatan dan sangat rawan untuk disalah gunakan. 

Kejadian ini merupakan tantangan bagi Polri untuk membereskan dan mengungkapkan secara tuntas dan transparan sehingga para pelaku negara ataupun negara yang seharusnya bertanggung jawab bisa dituntut di depan hukum.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kejadian ini sudah terjadi. Dan kita semua harus belajar dari kesalahan, jangan sampai kejadian sepert ini terulang kembali. Untuk itu kita semua harus bisa mencegahnya, apalagi dari aparat keamanan pemerintah seharusnya bisa lebih mengkontrol  dan memperketat jika ada perusahaan yang meminta perizinan untuk membuat suatu bisnis.

Agar kejadian tidak terulang lagi, perusahaan ini harus dibenahi lagi. Mulai dari proses perizinan, apakah memang benar mereka sudah mengantongi perizinanan dari pemerintah dan aparat keamanan. Kemudian tempat, seharusnya dalam bisnis yang berbahaya ini, yang bisa membahayakan nyawa di tempatkan jauh dari pemukiman warga, karena ini demi kenyamanan warga sekitar. Lalu masalah pekerja, seharusnya mereka diberi perlindungan dan ada jaminan keselamatan saat bekerja, juga upah mereka yang sangat minim tidak sesuai dengan kerja mereka. 

Kaum kapitalis. Hanya memikirkan keuntungan sendiri. Membuat pekerja sengsara.para buruh dipaksa bekerja selama 9 jam dengan waktu istirahat hanya setengah jam dengan suasana panas dan pengap yang hanya di upah sebesar 40.000 perhari. Mereka dirampas hak nya.

Tragedi mercon di Kosambi ini harus membangunkan kesadaran akan kewajiban negara untuk melindungi HAM. Karena banyak bisnis  berpotensi terjadinya pelanggaran HAM, karena minim keselamatan dan perlindungan para pekerja, tidak transparan, ketidaksesuaian tempat, serta tidak mempunya mekanisme dalam menghormati hak-hak pekerja.

Jangan sampai terjadi lagi sebuah kasus bisnis berisiko tinggi seperti produksi mercon beroperasi di wilayah yang padat penduduk dan pemerintahnya seolah olah tidak tahu dan tidak peduli.

Mahasiswa KPI UIN Bandung

Kiat Atasi Tragedi Kosambi Berulang

Fitria Nazilatullail

Tragedi ledakan kembang api di pabrik petasan di Kompleks Pergudangan 99, Jalan Raya Selembara, Cengklong, Kosambi, Kabupaten Tangerang, menjadi tragedi yang sangat memprihatinkan. Betapa tidak, tragedi ledakan itu  memakan korban jiwa hingga 47 orang  dari 103 orang  karyawan yang bekerja pada saat ledakan itu terjadi, dan puluhan pekerja lainnya korban luka-luka. Dari sekian banyak korban yang ada,  Komisioner Komnas HAM Siane Indriane menemukan ada salah satu korban luka bakar dengan keparahan 90 persen yang masih berusia 15 tahun di RSU Kabupaten Tangerang. 

Dilihat dari jumlah korban yang ada, musibah itu merupakan salah satu peristiwa yang membutuhkan perhatian dan penanganan penuh dari semua pihak, baik dari pemerintah, masyarakat, khususnya pemilik perusahan termasuk dari pihak kepolisian yang harus menuntaskan seluruh persoalan.

Banyak pihak yang dirugikan akibat terjadinya peristiwa itu. Mengingat banyaknya keluarga korban yang ditinggalkan oleh orang-orang yang menjadi tulang punggung mereka. Dari peristiwa itu, banyak cara yang harus dilakukan untuk mencegah agar tidak terulang kembali peristiwa seperti itu. Pertama, dilihat dari  UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan Pasal 68 yang berbunyi bahwa pengusaha dilarang mempekerjakan anak. Maka, PT. Panca Buana Cahaya tidak menaati Undang-Undang yang telah ada karena perusahaan telah mempekerjakan anak di bawah umur. Disini, pemerintahan yang memiliki peran penting untuk memberantas atau memberi tindakan tegas terhadap perusahan yang melanggar peraturan yang telah ada.

Kedua, perusahan harus melakukan pengawasan ketat terhadap para pekerja agar mereka bekerja sesuai dengan keahliannya. Agar memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan dalam memproduksi. Ketiga, dilihat dari korban yang ada dalam tragedi itu, diduga mereka mengalami kesulitan saat berusaha untuk  menyelamatkan diri pergi kebagian luar pabrik. Maka dari itu, pemilik perusahaan harus menjamin keamanan dan keselamatan karyawannya. Selain itu, perusahaan wajib menyediakan pintu darurat agar tidak ada pekerja yang kesulitan untuk melarikan diri dari pabrik ketika ada insiden yang tidak diduga akan terjadi sebelumnya. 


Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.



Kumandang Adzan di Mesjid Ash-Sholawat Tumbuhkan Kepercayaan Diri Anak



DAKWAHPOS.COM, CIBIRU. Adzan merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya salat fardu. Adzan dikumandangkan lima kali sehari oleh muadzin. Di Masjid Ash-Sholawat, selepas sholat magrib anak-anak diajarkan oleh para ustadnya untuk menjadi muadzin.

"Membiasakan anak mengumandangkan adzan merupakan awal dari mereka untuk selalu berkata baik selain itu juga berguna untuk melatih meningkatkan kepercayaan diri", ujar Asep Mahasiswa UIN SGD selaku ustadz di Masjid Ash-Sholawat. Kamis (12/10/2017)

Kegiatan ini dilaksanakan agar anak-anak mengetahui keutamaan adzan mengingat adzan merupakan salah satu syariat Islam yang penting untuk diketahui setiap Muslim.  "Para murid diajarkan bagaimana mengumandangkan adzan dengan benar mulai dari kalimat awal sampai kalimat akhir adzan", kata Asep, Kamis (12/10/2017)

Sebelumnya, ustadz memberikan contoh bagaimana mengumandangkan adzan dengan benar yang kemudian diikiuti oleh anak-anak. Hasil yang dicapai berjalan efektif. Hal ini terlihat dari pengetahuan anak-anak tentang keutamaan adzan telah meningkat dan mereka sudah tahu mengumandangkan adzan dengan benar.

Faktor pendukung terlaksananya kegiatan ini adalah antusias yang tinggi dari anak-anak, Sebagian anak yang merasa malu dan kurang percaya diri pun kian berkurang mengingat keberanian mereka yang semakin hari semakin bertambah untuk terus belajar meningkatkan kemampuan mereka dalam mengumandangkan adzan.

Reporter : M. Bagja Aditya, KPI/3C

Pasang Surut Kepemimpinan Jokowi-JK

Oleh: Muhammad Bagja Aditya


Tiga tahun sudah kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Banyak yang sudah mereka dedikasikan terhadap Negara ini dalam berbagai bidang namun perjuangan mereka tidak cukup sampai disini, masih ada 2 tahun lagi untuk membuktikkan kualitas mereka kepada negeri ini. Selama menjabat banyak perkembangan yang telah terjadi,  mulai dari pembelian saham Freeport yang kini sudah mencapai 51% dimiliki oleh Indonesia, keamanan wilayah laut dalam menjaga potensi ikan Indonesia serta blusukan blusukannya itu yang mampu merebut hati rakyat Indonesia.

Progam Nawacita memberikan progres yang baik terhadap kemajuan Indonesia. Seperti diketahui Nawa Cita atau Nawacita diserap dari bahasa Sanskerta, nawa (sembilan) dan cita (harapan, agenda, keinginan). Dalam konteks perpolitikan Indonesia menjelang Pemilu Presiden 2014, istilah ini merujuk pada visi-misi pasangan calon presiden/calon wakil presiden Joko Widodo/Jusuf Kalla yang berisi agenda pemerintahan pasangan itu. Dalam visi-misi tersebut dipaparkan sembilan agenda pokok untuk melanjutkan semangat perjuangan dan cita-cita Soekarno yang dikenal dengan istilah Trisakti, yakni berdaulat secara politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Adapun yang menjadi sorotan pemerintahan saat ini adalah bertambahnya hutang Negara karena pengeluaran APBN yang besar di sektor-sektor tertentu, sehingga terjadi ketidakmerataan diantara sektor-sektor lain. Hal ini juga tidak diimbangi dengan pendapatan Negara yang tidak seimbang antara pengeluaran dan pendapatan, seperti pepatah mengatakan lebih besar pasak daripada tiang.

Praktek korupsi yang semakin hari kian menjamur harus menjadi perhatian para pemimpin di Negara ini terutama bagi Presiden dan lembaga pengadilnya yakni KPK untuk mengatasi kasus korupsi agar di kemudian hari uang Negara kita aman dan bisa dipergunakan untuk kepentingan Negara/khalayak umum bukan untuk kepentingan pribadi semata. Sejatinya pemerintah dapat melakukan evaluasi hasil kinerja mereka dengan melihat kondisi negeri ini sesuai yang dirasakan oleh rakyat Indonesia.

Sebagai kaum intelektual, mahasiswa sudah seharusnya memiliki integritas dan daya kritis yang tinggi dalam menanggapi setiap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar, karenanya dengan kemampuan ini akan banyak aspirasi yang berguna untuk memperbaiki Negara ini pada masa yang akan datang.

Bentengi Diri dari Rayuan Narkoba

Oleh : Suci Arumaisa Murni

Tragis, maraknya kasus narkoba di Indonesia saat ini tidak ada habisnya. Badan Narkotika Nasional (BNN) telah mencatat 423 kasus yang sudah ditangani. Kasus tersebut dari Januari hingga Juli 2017, jumlah tersebut belum bisa diprediksi apakah akan mengalami peningkatan dari tahun lalu atau tidak.

Agar kasus tersebut tidak naik setiap tahunnya, tentu kita karus membentengi diri dari rayuan narkoba. Ada banyak cara untuk melawan rayuan tersebut. Yang pertama, belajar katakan "TIDAK" kepada diri sendiri maupun kepada orang yang menawarkan barang haram tersebut. Tak perlu terpancing dibilang kuper (kurang pergaulan) karena tidak mau mencoba, tak usah ingin selalu dianggap hebat, berani, gaul atau sebagainya.

Yang kedua, selektif dalam pergaulan. Memilih teman itu penting karena tidak semua teman dapat mengarahkan kepada hal yang positif, bahkan dapat menjerumuskan kepada hal yang negatif. Pepetah mengatakan, siapa temanmu hari ini akan menentukan siapa dirimu kelak.

Yang ketiga, jangan pernah coba-coba. Sekali mencoba narkoba maka akan sengsara seumur hidup. Pikirlah bahwa narkoba akan mengakibatkan penderitaan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain terutama keluarga.

Yang keempat, isilah hari-harimu dengan kegiatan yang positif, misalnya berolah raga, mengikuti organisasi, mengikuti pengajian, dan sebagainya. 

Dan yang terpenting yaitu membentengi diri dari narkoba dengan pendekatan agama. Hal tersebut dirasa cukup efektif karena dengan menyentuh sisi kerohanian, hal ini akan mampu membuat seseorang memiliki mental dan keimanan yang lebih tangguh dan kuat untuk melawan rayuan narkoba.

Mahasiswi KPI UIN SGD Bandung.

Jakarta: Tidak Hanya Pribumi Tapi Aku Butuh Indonesia


Isu indonesia, lagi-lagi masalah pengucapan pejabat negeri menjadi obrolan publik. Setelah sebelummnya ramai dengan kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan penistaan agamanya, kali kini Anies Baswedan yang mendapat perhatian publik lantaran ucapannya yang dinilai terlalu mendominasi asal-usul penduduk di indonesia. Anies dan "pribumi"nya mendapat banyak pro dan kontra masyarakat khususnya kota Jakarta.

Prihal maraknya argumentasi dari pidato pribumi yang dianggap tidak pantas apalagi mengingat jika Anies sendiri berasal dari peranakan arab. Anies menanggapi jika pidato yang ia sampaikan adalah maksud pada era kolonianisme adalah benar. Ibukota Jakarta bukan hanya masalah siapa namun bagaimana ia dapat dibangun dan menjadi target kebanggaan dari Ikon Indonesia.

Banyak tanggapan miring pengertian dari pribumi yang di cetuskan dipidato pelantikan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta saat ini. permasalahan ini berkaitan dengan siapa yang akan menguasai dan menjadi tuan rumah khususnya di Jakarta namun istilah Pribumi banyak diartikan sebagai siapa warga asli keturunan indonesia bukan siapa yang akan membela indonesia sampai akhir.

Peran penting disini bukanlah non-pribumi yang disalahkan namun pribumi yang kembali diragukan. Politik-politik disetiap negara akan terus didukung jika itu tetap di atas namakan dengan negara. Tidak peduli siapa yang menjadi pahlawan asalkan ia mengatas namakan dirinya dengan negaranya.

Tanggapan pribumi menjadi lebih serius dengan desas desus sosial media yang berargumentasi secara opini. Secara tidak langsung mengobjekkan jika kepemimpinan oleh non-pribumi adalah kesalahan. Lalu apakah Indonesia yang hanya mengandalkan dari pribumi yang belum tentu berjaya akankan bisa lebih maju dibanding non-pribumi yang berjuang untuk indonesia khususnya Jakarta.

Malikhatul Farida KPI/3C

Pertama Kali Yasinan Rutin Di Masjid Al-Hasan II Sepi Jamaah


Dakwahpos.com, Bandung-Kegiatan yasinan malam jum'at di Masjid Al-hasan terlihat sepi jamaah. Alasan ketidakhadiran masyarakat untuk tidak mengikuti yasinan ini banyak diantaranya  adalah alasan adanya kesibukan pribadi. Padahal biasanya yasinan rutin ini selalu ramai dan penuh oleh jamaah yasinan. Jumat (13/10/2017).

"biasanya lumayan ramai, ibu-ibu maupun bapak-bapaknya banyak yang datang. Tapi mungkin malam ini enggak karena pada sibuk dan berpergian jadi tidak bisa hadir". ujar ilah, jamaah yasinan Masjid Al-Hasan II.

Ilah juga menambahkan, bahwa biasanya jamaah yang selalu aktif di Masjid Al-Hasan II adalah warga dari blog F dan G. Selain yasinan, seperti rapat DKM atau silahturahmi di masjid biasanya lumanyan banyak jamaah yang datang ditambah acara makan-makanan ringan yang biasanya sudah disiapkan selesai  yasinan, rapat dan lainnya.

Masjid Al-Hasan II memang terbilang cukup ramai, selain dari jamaah ibu-ibu dan bapak-bapak banyak diantaranya jamaah anak-anak. Kebanyak anak-anak yang mengikuti kegiatan malam di masjid adalah mereka yang sekolah di TKQ (Taman Kanak-kanak Al-Qur'an), (TPQ) Taman Pendidikan Al-Qur'an dan (DTA) Diniyah Takmiliyah Awaliyah Al-Hasan II.

Reporter : Malikhatul Farida KPI/3/C

Negara Yang Kekurangan Bukan Dwi Hartanto Yang Berlebihan


Nama Dwi Hartanto memang pantas untuk dipublikasikan dan bicarakan khususnya pada bidang prestasi yang sangat luar biasa, baik dalam kacah nasional maupun internasional. Namun baru-baru ini publik diributkan dengan kehadiran Dwi Hartanto dan kebohongan tentang prestasi-prestasi yang dia buat. Benarkan ini sepenuhnya adalah salahnya?

Negara kita memang butuh seorang Ilmuwan yang nantinya bisa sangat dielu-elukan dan panutan generasi muda mendatang. Tak khayal jika sekali naik maka media akan semakin naik mencari isu untuk menyanjungkan dan jika sempat sekaligus untuk menjatuhkan. Dan kali ini, nama Dwi Hartanto benar-benar jatuh oleh fakta kebohongannya sendiri.

Julukan "The Next Habibie" ini mengklaim bahwa dia Dwi adalah lulusan Universitas Tokyo Jepang dan statusnya adalah calon profesor. Dia juga mengatakan bahwa proyek roketnya adalah proyek antariksa Belanda. Selain itu, Dwi ternyata tak pernah memenangi lomba riset dirgantara karena papan hadiah uang 15 ribu euro hanyalah properti foto. Itulah kebohongan Dwi Hartanto namun fakta yang tidak di umbar adalah bawa ia memang mahasiswa yang cerdas.

Sebenarnya Dwi Hartanto adalah orang cukup hebat dan berprestasi. Ia dikabarkan mendapat nilai IPK 3,88 cumlaude ketika ia menempuh studi S1 Jurusan Teknologi Informasi di IST Akprind Yogyakarta dan latar belakang pendidikan akademiknya yang lain. Soal kebohongan yang dia publikasikan atas nama dia, bukan untuk negara.

Pertama, fakta bahwa ia awalnya berbohong karena bullying atas dirinya, namun tak sadar jika itu dapat membuatnya terus berbohong karena prestasinya yang tidak biasa dan sangat berlebihan untuk status anak negeri ia pun dianggap sangat hebat dan langsung viral.

Kedua, bisa saja kebohongan yang ia publikasikan di media sosial hanya faktor keinginannya untuk tidak dibully lagi. Namun tak sengaja kebohongannya menjadikannya penjahat nasional untuk negerinya sendiri. Karena bagi kita, bangsa kita cukup minim yang berprestasi jadi sekali berlebihan akan prestasi bersiaplah untuk digali informasi.

Malikhatul Farida

"Tulisan Pernah dimuat di koran Republika dengan ganti judul mahasiswa yang cerdas tanggal 19/10/2017"

Ustad Miftah : Diskomunikasi Kolonialisme




Bicara kolonialisme  bila dikaitkan dengan isu yang sedang hangat terkait pembicaraan dari salah satu gubernur terpilih Anies Baswedan yang menyatakan dalam pidatonya "Karena itu bila kita merdeka maka janji-janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta. Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri".

Sebenarnya ini adalah kesalah pahaman anatara Anies Baswedan dengan masyarakatnya. Yang menimbulkan perbincangan dimana-mana, sehingga memang kalau dipikirkan kembali akan berdampak dan berkaitan dengan masalah keyakinan, ekomoni, politik dan kesenjangan sosial lainnya, seperti hal layaknya pada saat kolonialisme dulu.

Kalau kita melihat dari sudut pandang masyarakat awam sebenarnya ini tidak perlu diperbesar-besarkan, karena memang sekarang bukanlah yang dulu lagi, Anies Baswedan seperti belum move on dari jaman penjajahan dahulu. Meski memang sekarang kita sedang di jajah dalam segi keyakinan dan ekonomi, isalam meyakini bagi mulah agamamu dan bagikulah agamaku, jangan sampai dalam satu negera kita masih terpecah belah akibat banyaknya penjajah berupa paham dari luar. Begitupun dengan ketimpangan sosial yang semakin mencekam dinegeri ini terutama dengan mereka keturunan China, yang kuat tuk bertahan yang lemah semakain berantakan, mungkin ini yang dirasakan bangsa indonesia kalai ini.

Dengan adanya kejadian ini, gairah keagamaan yang harus semakin meningkat para ustad dan masyarkat harus saling bersinergis dan semangat dalam syiar islam, jangan sampai kita di jajah kembali seperti halnya pada jaman kolonialisme, aqidah dan ketaqwaan kita terhadap Allah SWT, harus dijaga dan di bina dengan baik.

Kesenjangan ekonomi yang dirasakanpun haruslah di perbaiki, tata kembali ekonomi yang saat ini antara pribumi dan non pribumi haruslah merata agar tidak ada kesenjangan diantara mereka.

Reporter : Muhamad Nursubanudin Alwi

Muhammad Zamachsyari Chawarazmi: Kata Pribumi Jatuhnya Kepada Chauvinisme

Dakwahpos.com, Bandung - Pidato pertama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan setelah pelantikannya memicu percakapan di media sosial terkait keputusannya untuk menggunakan kata 'pribumi'. Ternyata satu kata tersebut memicu pendapat berbeda dari setiap orangnya.

"Setuju tidak setuju sih, tapi banyak tidak setujunya." Ujar Zamachsyari, rabu 01/11/2017 (Pagi)

Anies mengawali penggunaan kata pribumi tersebut dari konteks kolonialisme, bahwa Jakarta merupakan satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat selama ratusan tahun.

"Ya emang rasis menurut saya. Jatuhnya nanti malah chauvinisme. Meninggi—ninggikan rasnya sendiri dan melemahkan ras yang lain. Di Jakarta itu bukan hanya orang Jakarta saja. Tapi kesannya dia itu terlalu meninggi-ninggikan derajat orang asli Jakarta, dan sebetulnya itu udah rasis banget. Secara kan dia orang yang terdidik dan sekarang sudah menjabat sebagai Gubernur. Ya walaupun saya orang asli Jakarta, saya tetap tidak setuju dengan statement itu, karena jatuhnya nanti akan mengotak-ngotakkan orang yang tinggal di Jakarta." Lanjut Zamachsyari.

Berbeda kepala pasti berbeda pendapat, maka dari itu kepada siapapun setiap ucapan yang akan dikeluarkan semestinya dipertimbangkan kembali.

Reporter: Titin Rosidah, KPI 3D UIN Bandung

Efektivitas Pelaksanaan Kebijakan Mudahkan Pengelolaan KTP Elektronik

Oleh : Nur Fauziah Sugianingrum

Tiada hentinya permasalahan di negeri kita yang muncul terus-menerus membuat masyarakat mengalami kerugian terhadap permasalahannya.

Pada saat ini kita telah digemparkan dengan permasalahan pelayanan pembuatan e-KTP, bahkan tidak hanya di negara Indonesia saja di luar negeri pun seperti di Thailand mengalami permasalahan yang sama. Permasalahan ini terjadi karena kurangnya blangko KTP, pelayan yang kurang maksimal, kualitas kartu dibawah standar, basis data ganda, adanya isu bahwa server e-KTP berada diluar negeri, serta terinduksi bahwa adanya kasus korupsi pada program pembuatan e-KTP. Hal ini menyebabkan terjadinya keributan atas kesenjangan antara warga satu dengan yang lain.

Sebagian warga harus rela mengambil cuti kerja hanya untuk menunggu antrean proses pembuatan e-KTP tersebut. Karena soal KTP ini memang urusan penting, segala hal mulai dari perbankan sampai perizinan mesti ada KTP, tentu menjadi persoalan bila proses pembuatannya lama dan warga sangat membutuhkanm KTP untuk digunakan kepentingan yang lain. Sebuah permasalahan yang dialami oleh warga ketika warga harus mengurusi surat-surat yang persyaratannya menggunakan e-KTP, meskipun memberikan resi akan tetapi ada sebagian perusahaan yang tidak menerima resi tersebut dan permasalahan ini menimbulkan kericuhan antara warga dan pengurus pengelola e-KTP.

Adapun solusi agar tidak terjadi penghambatan pada program e-KTP maka pemerintah harus membenahi sistem yang dipakai pada saat ini. Pertama pemerintah memiiki persediaan blangko yang memadai untuk memenuhi kebutuhan warga dalam pembuatan e-KTP, kedua menyelidiki adanya kasus korupsi pada program e-KTP oleh hak yang berwenang yaitu Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), ketiga meningkatkan keamanan dan antisipasi penyelewangan data ketika ada calo nasabah yang ingin mendaftarkan diri dan mengikuti berbagai program yang ditawarkan bank,  dan yang terakhir memaksimalkan fungsi program e-KTP dengan cara saling bekerjasama antar masing-masing kecamatan dan kelurahan untuk proses verifikasi data yang masuk. Dengan itu maka akan menimbulkan  proses pembuatan e-KTP berlangsung dengan cepat sehingga tercipta kondisi Indonesia yang kondusif dan memberikan kenyamanan bagi warga Indonesia.

Nur Fauziah Sugianingrum, Mahasiswa KPI UIN SGD Bandung

Ketelitian Saat Bekerja Cegah Taragedi Kosambi Terulang

Eneng Siti Hardianti

Tragedi kosambi yang saat ini menjadi viral di Indonesia menjadi contoh untuk para pekerja buruh lainnya bahwa ketelitian pada  saat bekerja tidak untuk menjadi main-main, apalagi pekerjaan yang bisa di bilang berbahaya. Pegawai pabrik apapun juga harus lebih hati-hati tentang keselamatan semua terutama keselamtan sendiri, karena kelalaian yang terjadi akan membuat malapetaka bagi banyak orang maupun diri sendiri.

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan tetapi setidaknya bisa meminimalisir kesalahan dengan focus dan teliti ketika bekerja. Saling memperhatikan dan mengingatkan satu sama lain itu penting dan jangan sampai memaksakan tubuh yang sudah Lelah dan fikiran yang sudah tidak focus untuk bekerja sehingga kecerobahan dan kelalaianpun terjadi dan mengakibatkan kesalahan fatal yang dapat merugikan keselamatan orang lain.

Tragedi kosambi yang dikabarkan telah memakan puluhan korban diakibatkan karena kebakaran pabrik kembang api, menjadi kenyataan pahit bagi keluarga korban dan juga pemilik pabrik, karena harus kehilangan keluarga pada saat bekerja dan kerugian yang harus ditanggung oleh pemilik pabrik. Tidak secara langsung ini menjadi teguran bagi semua masyarakat yang sudah bekerja terutama di pabrik bahwa pekerjaan bukanlah hal yang bisa disepelekan sehingga dapat di permainkan dan asal-asalan kerja dan pada akhirnya berujung pada malapetaka.

Untuk mencegah tragedi kosambi terulang maka diperlukan pengawasan ketat terhadap tenaga kerja dan juga menjadi tanggungjawab masing-masing pribadi pegawai yang bekerja agar lebih hati-hati dan teliti akan tugasnya masing-masing.

Mahasiswa Jurusan KPI UIN SGD Bandung

Seharusnya Pemerintah Menghapus Adanya Pabrik Petasan



Mungkin kita sudah mengetahui apa itu "Petasan"ialah peledak berupa bubuk yang dikemas dalam beberapa lapis kertas, biasanya bersumbu, digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa, seperti perayaan tahun baru, perkawinan, dan sebagainya. Benda ini berdaya ledak rendah atau low explosive. Bubuk yang digunakan sebagai isi petasan merupakan bahan peledak kimia yang membuatnya dapat meledak pada kondisi tertentu.

Pembuatan Petasan atau dengan adanya pabrik petasan seharusnya tidak diperbolehkan, karena akan menimbulkan efek yang sangat fatal, namun kenyataannya banyak kendala yang masih terjadi, antara lain masih banyak masyarakat yang membeli petasan yanh digunakan di acara menyambut tahun baru. Hal ini disebabkan karena adanya pabrik- pabrik petasan dimana saja, Padahal dana yang dijadikan untuk pembuatannya lumayan cukup besar, menurut saya lebih baik di gunakan untuk membuat hal-hal yang bermanfaat yang tidak akan mengakibatkan ke malapetakaan apalagi untuk anak kecil, seperti kasus kebakaran ini tidak terjadi satu kali atau dua kali saja .

Pemerintah seharusnya lebih berorientasi pada kebutuhan masyarakat yang bermanfaat, yakni menciptakan kualitas yang baik. Bukan membuat masyarakat menjadi miskin karena dengan membeli produk-produk yang kurang bermanfaat. Untuk itu masyarakat yang masih awam hanya menikmati nya saja . 

Disisi lain pemerintah mempunyai kewenangan untuk tidak menyetujui adanya pabrik petasan tersebut. Upaya nya untuk lebih bisa mengatur kenyamanan masyarakat dan lebih mengutamakan hal yang lebih berfaedah, pemerintah juga harus lebih terbuka pada masyarakat dan progres program sehingga bisa menuntaskan pabrik-pabrik petasan di indonesia.

Tragedi Kosambi Butuh Perhatian Serius Dari Pemerintah



Kasus kebakaran yang terjadi di Indonesia memang sudah tak asing lagi
didengar oleh telinga kita. Kasus kebakaran selalu saja menimbulkan
kerugian baik itu harta, benda atau bahkan nyawa sekalipun. Seperti
kasus yang baru-baru ini terjadi, yaitu kasus kebakaran pabrik petasan
di kosambi, Tanggerang, Banten.

Kasus yang sudah menewaskan 47 korban jiwa, saat ini sedang menjadi
sorotan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri bahkan dari
Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).

Hal ini tentunya menjadi peringatan untuk pemerintah dalam
memperhatikan keamanan kondisi kerja di Indonesia. Seperti yang
diberitakan, bahwa tragedi kebakaran pabrik di Kosambi ini di duga
adanya pelanggaran keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Dalam hal ini
berkaitan dengan sarana dan prasarana K3 di lingkungan pabrik seperti
sirine peringatan kebakaran, pintu evakuasi dan lain sebagainya.

Tentunya perusahaan juga harus bertanggung jawab atas keselamatan
pekerjanya. Karena lingkungan kerja yang aman dan sehat adalah hak
setiap pekerja.

Oleh karena itu perlu sekali dorongan dari pemerintah dalam menegaskan
peraturan dan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Untuk itu, dibutuhkan kerjasama antara pemerintah, perusahaan juga
para pekerja dalam mengeksplorasi bagaimana sebaiknya meningkatkan
tindakan keselamatan kerja untuk mencegah insiden Kosambi yang serupa
di masa yang akan datang.



Kintan Reski Pratiwi
Mahasiswi KPI yang aktif di ukm Paduan Suara Mahasiswa UIN Sunan
Gunung Djati Bandung

Ustadz Ii : Menjaga Lisan Itu Penting, Sebagai Bentuk Keimanan


Dakwahpos.com, Bandung- DKM Baeturrahmah mengadakan kegiatan pengajian rutinan setiap sabtu dan minggu setelah shalat subuh berjamaah. Masyarakat komplek Pinus Regency sangat antusias berdatangan ke masjid Baeturrahmah. Ada sekitar 65 jamaah yang hadir dalam kegiatan pengajian tersebut. Pengajian itu diisi oleh ustadz Ii Rohimtah selaku pengurus DKM Baeturrahmah.Tema dari ceramah ustadz Ii yakni tentang menjaga lisan.

"Menjaga lisan itu merupakan hal yang sangat penting, sebagai bentuk keimanan kita dalam segi lahiryah. Sebab apabila kita sebagai orang yang beriman mengakui keesaan Allah tetapi tidak diungkapkan lewat lisan, maka keimanan kita itu tidak sah dalam persfektif kemanusiaan. Artinya, orang lain tetap akan menganggap kita sebagai orang yang tidak beriman." Tutur Ustadz Ii dalam kutipan ceramahnya, Jumat (21/10/17).

Setiap orang yang beriman wajib memelihara lisan dengan sebaik-baiknya. Di dalam hadits, Rasulullah SAW telah bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berbicaralah yang baik, atau diam." Maksudnya, jika memang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka harus berkata baik, jika memang tidak bisa lebih baik diam. Daripada perkataan yang dikeluarkan dari mulut itu bersifat menyakiti orang lain dan juga merusak keimanan.

"Oleh karena itu kita harus senantiasa menjaga lisan kita dlam kehidupan sehari-hari. Baik dilingkungan keluarga, masyarakat, ataupun di tempat kerja. Supaya dapat meningkatkan keimanan kita dihadapan Allah Swt. Mudah-mudahan kita selalu berada pada jalan yang diridhoi oleh AllahSwt. Amiin." Tutup Ustadz Ii dalam ceramahnya, Jumat (21/10/17).

Dalam kesimpulan ceramahnya, ustadz Ii mengajak jamaah untuk selalu menjaga lisan, karena itu merupakan hal yang sangat penting. Supaya terciptanya keharmonisan dalam berkeluarga, bertetangga, ataupun bersosialisasi dimanapun berada. Dengan menjaga lisan akan meningkatkan pula keimanan seseorang.

Reporter : Reja Anwar Fauzi, KPI/3D

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Skumfuk Design Studio