x
BREAKING NEWS

Info Masjid

Islam Nasional

Info Kampus

Islam Internasional

Info Bandung

Kolom

Minggu, 23 September 2018

Belajar ngaji Anak, Di Masjid Jami Miftahul Huda

DakwahPos.com, Bandung –  Belajar ngaji anak, di Masjid Jami Miftahul Huda tersebut. Karena keinginan masyarakat setempat, agar anaknya mengetahui agama sejak dini. Selasa (18/10/2018).

"Belajar ngaji ini, memang keinginan dari masyarakat disini. Iya, banyak orang tua yang ingin anaknya, menjadi lebih baik agar mengetahui agama sejak dini dan terhindar dari pergaulan yang bebas". Ucap Reza, Pengajar ngaji di Masjid Jami Miftahul Huda.

Reza menambahkan, pelajaran yang sudah diajarkan seperti, membaca Al – quran, Belajar Tajwid, dan sejarah Islam. Rata – rata anak yang hadir, mulai dari Kelas 3 SD sampai Kelas 6 SD.

Belajar ngaji tersebut, dilaksanakan setelah melaksanakan sholat maghrib berjamaah.

Selain itu,  Belajar ngaji tersebut, Harus membayar  dengan infaq Rp. 25.000,. Karena, sudah ada kesepakatan dari pihak DKM (Dewan Ketua Masjid) dan Masyarakat.

Reporter : Mohamad Hafidin Nurhakim KPI/3B

Masjid Fathul Muin Adakan Pelerek

Rasa gotong royong yang masih kental di daerah sekitaran masjid Fathul Muin dan pondok pesantren membuat ketua DKM dan ketua RW membuat program/kegiatan pelerek atau bisa di sebut kotak sumbangan sukarela, secara tidak langsung program ini mendasarkan kepada system demokratis. Karena program ini bisa di bilang mengumpulkan segelintir uang recehan yang nantinya akan di gunakan oleh warga setempat lagi. Seperti halnya warga yang kurang mampu ketika ada musibah atau apapun uang pelerek ini bisa di gunakan karena semua warga mempunyai hak untuk menggunakannya.
Namun untuk saat ini warga setempat sepakat untuk terlebih dahulu merenovasi atau memperindah suatu pondok yang ada di sekitaran sana. Program atau kegiatan ini akan dimulai nanti minggu depan sedangkan untuk saat ini para warga masih dalam proses membuat pelereknya tersebut, dan antusias dari pembuatan pelerek sendiri sudah hampir rampung 100%. 

Dan yang lebih menariknya setiap pelerek ini mempunyai corak dan warna yang berbeda, dan itu bisa membuat para warga di yang usia belia atau anak anak kecil mengisi serta membentuk karakter untuk saling berbagi seksama dengan sendirinya terbentuk karena adanya pelerek ini.

Tidak hanya mendapat materi dari mengisi perelek ini juga menabung pahala di akhirat nanti. Karena dengan pelerek ini saling membahagiakan dan saling menolong sesama saudara, kerabat maupun tetangga, dalam islam ini di sebut di sebut sodaqoh atau lebih spesifik nya tempat sodaqoh yang memang di sediakan oleh ketua DKM dan Ketua Rw.  

Sistem pelerek sendiri nantinya disimpan di setiap rumah warga dan di isi oleh warga setempat dengan uang recehan atau seikhlasnya, dan nantinya akan di ambil oleh setiap satu minggu sekali oleh petugas dari setiap RT. Bisa di sebut juga program perelek ini adalah koperasi bagi warga setempat. Dengan begitu mempermudah dalam mengolah uang dan memberikan kontribusi untuk memakmurkan daerah. "ujar salah satu jamaah Masjid Fahtul Muin"
Fahrijal Nasri Alghifari Rabu (
19, september 2018) 

Ketua DKM Masjid Jami Al-Hikmah Berharap Warga Ikuti Pengajian Rutin


Mungkin sebagian kalangan ibu-ibu pengajian dan warga sekitar selalu mengikuti pengajian rutin. 
Tetapi tidak halnya dengan di sekitaran masjid jami al-hikmah yang warganya begitu berdekatan.
 Mereka jarang sekali mengikuti pengajian rutin.

Adapun pengajian rutin yang selalu diadakan di masjid jami al-hikmah itu warga dari berbagai daerah. 
Padahal masjid jami al-Hikmah dalam lokasi didalam gang. Kebanyakan yang mengikuti pengajiannya pun selalu kewalahan kareana posisi untuk bisa memarkirkan mobil dan kendaraan yang susah diposisikannya harus dimana.

"Pengajian yang diadakan di masjid jami al-hikmah banyak-banyaknya pun sampai 80-50, karena susahnya untuk sarana parkir dan mereka harus parkir dijarak yang jauh untuk bisa mengikuti pengajian." Ujar Hj.Yadi , jumat(11/11/2017).

Ketua DKM masjid jami al-hikmah menginginkan sekali agar warga sekitar bisa mengikuti pengajian rutin,karena itu semua kembali lagi ke orangnya sendiri


  Reporter : Fitriani Rahmawati KPI/3B

100 Tahun Masjid Agung UjungBerung Berdiri

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid  Agung Ujungberung adalah mesjid yang terletak di Bandung Timur. Berdiri sejak tahun 1918 yang berada diantara 7 kecamatan. Keberadaan masjid ini sangat pelik sekali, silsilah tanah pada awalnya telah disengketakan sejak dulu. Mulailah dari masa itu kepemilikan mesjid menjadi simpang siur, hingga pada akhirnya 1952, keturunan dari R.H. Muhammad Djarkasih menggugat kepemilikan dari tanah serta masjid Ujungberung tersebut, tingkat banding lewat keputusan pengadilan tinggi Jkarta 5 Desember 1961 diputuskan bahwa tanah Masjid Agung Ujungberung tersebut merupakan tanah hakkulah (wakaf negara).

Menurut ketua DKM Khoeruman, Pada awal tahun 1870 bangunan mesjid diperluas menjadi 10x10 m. Tahun 1953, bangunan mesjid mengalami peluasan lagi menjadi berukuran 80x117 m atauu 9360 m (sampai saat ini luas ukuran tanah tidak berubah) dengan dinding bangunan terbuat dari batu bata dan atap genting serta lantai jubin. Seperti bangunan mesjid lainya yang dibangun semasa kolonial, maka kemungkinan besar pada awal pengembangannya tahun 1870 memiliki kemiripan bangunan dasar seperti mesjid yang ada di Bandung.

"Nama mesjid ini pada mulanya dinamakan masjid An-Nur dalam bahasa arab berarti cahaya dan dalam bahasa sunda caang karena pada tahun 1810 R. Mukisan mendirikan sebuah mesjid di atas tanah sendiri yang jaraknya hanya 30m dari rumahnya. Masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi saat 2016 dan beberpa tahun sebelumnya, hingga saat ini sedang berlangsung proses pembangunan lantai 2 dibelakang sebelah kiri masjid juga penambahan 10 keran untuk berwudhu." Ujar ketua DKM, Senin (17/09/2018)

Disebelah Barat masjid Agung disediakan juga perpustakaan kecil. Buku-buku keagamaan, al-qur'an, kita-kitab kuning, tafsir dan sedikit buku umum lainya. Kehadiran perpustakaan di kawasan ini akan meningkatkan budaya literasi jamaah juga akan membuat masjid memiliki ruang publik yang lebih meningkatkan kualitasnya. Barangkali dapat diibaratkan sebagai hadiah bagi alun-alun yang berdekatan dengan masjid Agung sebagai hadiah atas peranya dalam sejarah.

"Setelah dibangun alun-alun Ujungberung ini memiliki pengaruh positif khususnya dalam finansial dari kerjasama dengan pengelola alun-alun dan semakin banyaknya jamaah karena daya tarik dari alun-alun terhadap kegiatan-kegiatan dimesjid yang 97 tahun lalu ini untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yag diadakan." Ucapnya.


Reporter: Maya Dewi Krisdiani, KPI 3/B

Tanpa Pengajar Belajar Libur

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-Barokah mempunyai Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) untuk belajar agama Islam bagi anak-anak yang berada di lingkungan sekitarnya. Semenjak Idul Fitri 2018 pembelajaran Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Al-Barokah yang berada di kampung Gudangsikat terpaksa diliburkan. Sebab, tidak ada pengajar menjadi faktor utama. 

Kegiatan belajar mengajar di Madrasah Al-Barokah pada tahun-tahun sebelumnya sudah berjalan. Pembelajarannya mengenai hal-hal yang paling dasar dalam agama Islam, seperti: baca tulis al-Quran, setoran hafalan surat-surat pendek (juz 30), cara wudlu, cara salat, dan lain sebagainya. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari senin sampai hari sabtu, dimulai setelah Salat Magrib sampai Salat Isya untuk anak-anak kelas 1 (satu) dan kelas 3 (tiga). Untuk kelas 4 (empat) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) dilanjutkan sampai jam 9 (sembilan) malam. Para pengajarnya dari mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tetapi, akibat kesibukan masing-masing dari mahasiswa itu akhirnya kegiatan belajar mengajar tidak berjalan sampai sekarang.

Dewan Kemakmuran Masjid, Duden Anwarudin, mempunyai tanggung jawab besar dalam menjalankan kembali kegiatan belajar mengajar di Madrasah tersebut. Menurutnya, perlu banyak bantuan dalam menjalankan kembali kegiatan belajar mengajar baik mahasiswa maupun masyarakat umum yang mempunyai pengetahuan basic agama Islam.

"Ada beberapa Mahasiswa yang menawarkan menjadi pengajar. Tetapi, entah mengapa sampai sekarang tidak ada kabar. Padahal banyak mahasiswa di sekitar masjid ini, tetapi mereka tidak mempunyai keinginan dalam memajukan agama. Karena dalam hal ini harus ada kesadaran sendiri. Bapak juga tidak menafikan masyarakat yang ada di lingkungan sekitar, mereka banyak yang mempunyai basic pesantren, tetapi mereka juga mempunyai kesibukan masing-masing. Jadi bapak juga tidak mempunyai wewenang untuk memaksanya." Ungkap Duden Anwarudin, Selasa (18/09/2018)

Harapan ketua DKM Masjid Al-Barokah saat ini ingin ada yang mengajar kembali anak-anak di Madrasah Diniyah Takmiliyah Al-Barokah. Ketua DKM dan bendahara Masjid Al-Barokah sempat berbincang mengenai masalah ini. Akhirnya, bendahara Masjid Al-Barokah akan memberikan fasilitas kosan bagi mahasiswa yang bersedia menjadi pengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah Al-Barokah.

Reporter: Ghenni Trias Asysyifa KPI/3B

Belajar ngaji anak, di Masjid Jami Miftahul Huda

DakwahPos.com, Bandung –  Belajar ngaji anak, di Masjid Jami Miftahul Huda tersebut. Karena keinginan masyarakat setempat, agar anaknya mengetahui agama sejak dini. Selasa (18/10/2018).

"Belajar ngaji ini, memang keinginan dari masyarakat disini. Iya, banyak orang tua yang ingin anaknya, menjadi lebih baik agar mengetahui agama sejak dini dan terhindar dari pergaulan yang bebas". Ucap Reza, Pengajar ngaji di Masjid Jami Miftahul Huda.
Reza menambahkan, pelajaran yang sudah diajarkan seperti, membaca Al – quran, Belajar Tajwid, dan sejarah Islam. Rata – rata anak yang hadir, mulai dari Kelas 3 SD sampai Kelas 6 SD.
Belajar ngaji tersebut, dilaksanakan setelah melaksanakan sholat maghrib berjamaah.
Selain itu, Belajar ngaji tersebut, Harus membayar dengan infaq Rp. 25.000,. Setiap orangnya. Sudah kesepakatan dari pihak DKM (Dewan Ketua Masjid) dan Masyarakat.

Reporter : Mohamad Hafidin Nurhakim KPI/3B

Jumat, 21 September 2018

Kegiatan P3B Ramaikan Masjid Al-Huda

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-Huda (jl. Permai II-Cipadung) mengadakan kegiatan P3B yaitu kegiatan Pelatihan 3 Bahasa terdiri dari Pelatihan Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Selain P3B ada kegiatan Tahsin dan Tahfidz. Kegiatan P3B ini dimulai sejak tahun 2016. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai bentuk gotong royong dan kerjasama antara DKM Al-Huda, Majelis Ta'lim, serta Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dan Universitas Padjadjaran (UNPAD).

"Kita seharusnya mendobrak pemikiran masyarakat bahwa masjid hanya tempat untuk ibadah shalat, padahal kita kembali ke zaman Rasulullah semua aktivitas bersumber dan bertitik awal dari Masjid dan bahkan kalo bisa masjid itu ramai selama 24 jam dan sepi pada saat waktu waktu shalat, karena pada saat itu kita semua shalat" Ujar bu Hj.Ela, selaku pengurus kegiatan P3B Ahad(16/09/2018).

Selain bentuk kerjasama, masjid Al-Huda dipilih untuk memulai kegiatan P3B adalah adanya fasilitas yang memadai, tempat yang strategis, serta mudah dijangkau. Selain itu kegiatan ini sebagai kegiatan untuk meramaikan masjid, untuk menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan, pembelajaran dan pelatihan. Dan inilah dasar awal dibentuknya kegiatan P3B.

Kegiatan P3B dilaksanakan setiap hari Sabtu pukul 16.00 – 18.00 WIB dan hari Ahad pukul 10.00 – 14.00 WIB. Kegiatan hari Sabtu yaitu Pelatihan Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang, sedangkan hari Ahad yaitu Pelatihan Bahasa Arab dan Tahsin-Tahfidz. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Kelas Masjid Al-Huda lantai 1.

Kegiatan P3B sendiri bekerjasama dengan UIN Sunan Gunung Djati dan Universitas Padjadjaran sehingga Mahasiswanya ikut berkontribusi sebagai staf pengajar. Pengajar Pelatihan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab oleh mahasiswi dari UIN Sunan Gunung Djati, untuk Pelatihan Bahasa Jepang tenaga pengajar dari mahasiswi Universitas Padjadjaran, sedangkan untuk materi Tahsin dan Tahfidz tenaga pegajar seorang Qari dari Pondok Pesantren Al-Falah Nagreg.

Kegiatan P3B tahun 2018 diikuti oleh anak anak tingkat SD dan SMP. Kegiatan ini tidak dipungut biaya alias gratis. Pada tahun 2018 jumlah anak yang mengikuti kegiatan P3B ada 15-20 orang. 

Respon anak-anak dalam mengikuti kegiatan ini sangatlah antusias dan bersemangat. Respon orang tua terhadap kegiatan inipun cukup baik ditandai dengan diikut sertakan anak anaknya dalam kegiatan. Respon masyarakat masjid Al-Huda pun baik bahkan banyak yang merasa terbantu dalam segi ekonomi lalu hati yang merasa senang karena masjid ramai dan senang melihat anak anak yang berkumpul untuk belajar.

Harapan dari bu Hj Ela selaku pengurus kegiatan P3B bagi lapisan masyarakat Perguruan Tinggi atau Mahasiswa/I dapat lebih banyak berkontribusi dalam kegiatan P3B ini dan untuk meramaikan kembali masjid al-Huda seperti pada zaman Rasulullah. 

"Jika kamu ingin maju, ingin membuat kehidupan yang lebih gemirlang di masa depan maka jadilah pembelajar yang sungguh sungguh" Tutur bu Hj Ela, dalam penutupan wawancara Ahad(16/09/2018)

Reporter : Annisa Nurbaiti
  KPI/3A




Selayang Pandang masjid Jami Miftahus Sa’adah

Dakwahpos.com, bandung – Masjid merupakan tempat beribadah bagi umat muslim termasuk Masjid Jami Miftahus Sa'dah, yang terletak di Babakan Dangdeur RT 02/04, kel. Pasirbiru, kec.cibiru, kota Bandung.
Sebelumnya masjid ini adalah sebuah mushola. Namun seiring bertambahnya jumlah jamaah, sekitar tahun 1985 masjid ini diperluas dan menjadi masjid jami miftahus sa'adah. Masjid ini merupakan masjid milik keluarga Alm. H. Eman Syafaat.

Meskipun masjid ini masjid keluarga, namun sama seperti masjid lainnya, masjid ini boleh digunakan masyarakat untuk beribadah, dan melakukan berbagai kegiatan rutin mingguan seperti pengajian Ibu-ibu dan Bapak-bapak. Selain itu, masjid ini juga sering digunakan untuk memperingati hari-hari besar muslim setiap tahun.

Sayangnya masjid ini tidak digunakan untuk kegiatan anak-anak mengaji. "masjid ini tidak digunakan pengajian anak-anak dikarenakan dalam satu RW ada tiga masjid, maka hanya difokuskan ke masjid al-Amanah" ujar Dewan Ketua Masjid Jami Miftahus Sa'adah.

Masjid jami miftahus sa'adah juga tidak memiliki organisasi khusus remaja masjid. Meskipun demikian, warga dan pengurus masjid tetap menjaga kebersihan dan kenyamanan masjid ini.



Enung Hani Amaliah, KPI/3A

Melalui MDTA, Masjid Usman Bin Affan Tanamkan Nilai Islami pada Anak sejak Dini

DAKWAHPOS.COM, Bandung- Kegiatan belajar mengajar di Masjid Usman bin Affan sudah berjalan hampir tiga bulan. Meski terbilang baru, pengajaran yang menanamkan nilai islami pada anak-anak melalui Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) ini cukup menyita perhatian masyarakat sekitar.

"Menanamkan nilai-nilai islami sedari dini memang sangat penting menurut saya, karena anak punya pondasi awal buat berkembang". Ungkap Ihsan (21) selaku pengajar di MDTA Usman bin Affan. Rabu (19/9/18)

Cepat tanggapnya anak pada usia dini, menjadi acuan tersendiri untuk menciptakan pondasi yang islami. Hal ini menjadi sasaran utama bagi para pengajar di MDTA masjid Usman bin affan.

"Kognitif anakpun sedang berkembang pesat untuk merekam segala pembelajaran sejak kecil".  Pungkas Ihsan.

Pentingnya penanaman nilai-nilai islami sedari dini menjadi payung utama bagi pengagas akhirat, terutama orang tua yang menjadikan zaman milenial sebagai momok utama dalam perkembangan anak. Tidak heran, banyak orang tua yang mencari jalan keluar dengan mengikut sertakan anaknya dalam sekolah agama, dan banyak para subangsih pemikir akhirat terjun dalam penanaman nilai-nilai Islami sejak dini, termasuk masjid Usman bin Affan ini. 

Reporter: Hazar Islamy, KPI/3B

Tanpa Pengajar Belajar Libur


Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-Barokah mempunyai Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) untuk belajar agama Islam bagi anak-anak yang berada di lingkungan sekitarnya. Semenjak Idul Fitri 2018 pembelajaran Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Al-Barokah yang berada di kampung Gudangsikat terpaksa diliburkan. Sebab, tidak ada pengajar menjadi faktor utama. 
Kegiatan belajar mengajar di Madrasah Al-Barokah pada tahun-tahun sebelumnya sudah berjalan. Pembelajarannya mengenai hal-hal yang paling dasar dalam agama Islam, seperti: baca tulis al-Quran, setoran hafalan surat-surat pendek (juz 30), cara wudlu, cara salat, dan lain sebagainya. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari senin sampai hari sabtu, dimulai setelah Salat Magrib sampai Salat Isya untuk anak-anak kelas 1 (satu) dan kelas 3 (tiga). Untuk kelas 4 (empat) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) dilanjutkan sampai jam 9 (sembilan) malam. Para pengajarnya dari mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tetapi, akibat kesibukan masing-masing dari mahasiswa itu akhirnya kegiatan belajar mengajar tidak berjalan sampai sekarang.
Dewan Kemakmuran Masjid, Duden Anwarudin, mempunyai tanggung jawab besar dalam menjalankan kembali kegiatan belajar mengajar di Madrasah tersebut. Menurutnya, perlu banyak bantuan dalam menjalankan kembali kegiatan belajar mengajar baik mahasiswa maupun masyarakat umum yang mempunyai pengetahuan basic agama Islam.
"Ada beberapa Mahasiswa yang menawarkan menjadi pengajar. Tetapi, entah mengapa sampai sekarang tidak ada kabar. Padahal banyak mahasiswa di sekitar masjid ini, tetapi mereka tidak mempunyai keinginan dalam memajukan agama. Karena dalam hal ini harus ada kesadaran sendiri. Bapak juga tidak menafikan masyarakat yang ada di lingkungan sekitar, mereka banyak yang mempunyai basic pesantren, tetapi mereka juga mempunyai kesibukan masing-masing. Jadi bapak juga tidak mempunyai wewenang untuk memaksanya." Ungkap Duden Anwarudin, Selasa (18/09/2018)
Harapan ketua DKM Masjid Al-Barokah saat ini ingin ada yang mengajar kembali anak-anak di Madrasah Diniyah Takmiliyah Al-Barokah. Ketua DKM dan bendahara Masjid Al-Barokah sempat berbincang mengenai masalah ini. Akhirnya, bendahara Masjid Al-Barokah akan memberikan fasilitas kosan bagi mahasiswa yang bersedia menjadi pengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah Al-Barokah.
Reporter: Ghenni Trias Asysyifa KPI/3B

Santri Pesantren Mahasiswa Universal Jadi Muazdin di Masjid Al-Amanah

Dakwahpos.com, Bandung – Jenis Setiari, mengumandangkan adzan di Masjid Al-Amanah. Ia adalah santri Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Al-Islamy. Rabu (19/09/2018).
Jenis Setiari, salah seorang mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung sekaligus santri dari Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Al-Islamy rutin melaksanakan peribadahan shalat lima waktu berjamaah. Ia salah satu dari muadzin di Masjid ini.
Awal semester ganjil tahun 2019, Kikky dan Irwan, marbot masjid semakin sibuk dengan kuliah disemsester 7 dan jarang berada di masjid karena harus melaksanakan  KKN. Mereka berperan penting dalam kegiatan masjid. Ia pula yang bertanggung jawab mengumandangkan azdan.
"Muadzin di Masjid ini tidak menggunakan jadwal. Siapapun bisa menjadi muadzin. Kebetulan warga disini lebih mengandalkan santri dari Mahad Universal." ujarnya saat diwawancarai dakwahpos.com (19/09/2019).
Reporter : Cici Marlina, KPI/3A

Cerdaskan Bangsa Bertaqwa, Belajar di TPA Masjid Jami Thariqul Huda

Dakwahpos, Bandung- Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan diluar sekolah. Bedanya kegiatan belajar mengajar disini lebih mengarah kepada materi-materi agama. Mungkin setelah membaca dua kalimat diatas, anda berfikir tentang pelajaran agama seperti sejarah, fiqih, dan mengaji. Namun, di Masjid Jami Thariqul Huda, pendidikan yang diterapkan oleh guru-guru disana bukan hanya sebatas itu. Selain soal agama, anak-anak yang belajar di TPA ini juga diajarkan terkait ketrampilan-ketrampilan lain seperti menggambar dan bermain alat musik Islam.
"Jadi dulu kalo ngaji ya ngaji aja, di kampung-kampung itu dulu TPA ya ngaji biasa aja. Tapi kita kan sekarang belajar menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang semakin maju. Jadi ga monoton belajar agamanya". Ujar Kang Aziz selaku Takmir Masjid Thariqul Huda (21) Rabu(19/09/18).
Memang tidak dapat dipungkiri lagi persoalan terkait kemajuan zaman yang semakin maju ini menuntut setiap individu untuk lebih kreatif dalam berinovasi. Maka dari itu akan sangat tepat untuk mengarahkan anak-anak belajar meningkatkan kemampuan mereka sekaligus meningkatkan keimanan dengan belajar di TPA seperti yang ada di Masjid Jami Thariqul Huda ini.
"Respon masyarakat alhamdulillah positif, ya pasti karna ini juga bernilai positif. Paling hanya beberapa  anak saja yang terkadang sulit di atur, tapi seiring berjalan waktu mereka mulai terbiasa dan tidak terlihat terbebani dengan adanya TPA ini". Lanjut Kang Aziz.
Dengan adanya TPA seperti yang ada di Masjid Jami Thariqul Huda diharapkan mampu melahirkan bibit-bibit berkualitas yang mampu memajukan bangsa. Bukan hanya memimpin dan korupsi, kaya uang namun miskin hati. 
Reporter : Hamzah Anshorulloh KPI/3B

Masjid Al Hidayah Berbenah

Dakwahpos.com, Bandung- Guna memenuhui kebutuhan air saat musim kemarau, pengurus masjid Al Hidayah Cipadung, Kecamatan Panylieukan Kota Bandung membuat sebuah sumur bor. Di kawasan tersebut, kekurangan air menjadi hal yang lumrah terjadi ketika musim kemarau tiba. Hal tersebut dilakukan untuk mengatasi musim kemarau yang berkepanjangan.

Pengurus DKM AL Hidayah Sobri Yunus (43) mengatakan masjid yang terletak di Kampung Legit tersebut selalu penuh oleh Jemaah saat waktu salat tiba.  Hal ini membuat air menjadi kebutuhan utama untuk wudhu para jemaah. Terlebih selain digunakan untuk salat berjamaah, masjid Al Hidayah juga mempunyai jadwal pengajian yang padat.

"Lokasi masjid tidak memungkinkan dipasang ledenga, karena di sini tidak ada jalur saluran PDAM," tutur Sobri kepada dakwahpos.com, Selasa (18/9/2018).
Untuk memenuhi kebutuhan air, selama ini masjid Al Hidayah mengandalkan sebuah sumur milik warga. Namun, dengan kegiatan pengajian yang padat, mempunyai sumur sendiri merupakan hal yang mutlak harus dilakukan. Sehingga, pada Minggu (16/9/2018) pengurus masjid memutuskan memulai pembuatan sumur dengan biaya mencapai Rp7 juta.

"Dananya dari kas Rp2juta, sisanya dari donatur," ungkapnya.

Dengan adanya sumur tersebut, Sobri berharap kedepan masjid Al Hidayah  bisa lebih ramai lagi digunakan untuk kegiatan keagamaan, seperti pengajian maupun salat berjamaah. Walaupun masjid ini bukan masjid besar tetapi masjid Ini selalu ramai oleh warg

Usia bukanlah alasan belajar Al - Qur'an

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al - Ikhlas yang berlokasi di Desa Cipadung,Cibiru Bandung. DKM masjid Al - Ikhlas mengadakan pengajian rutin setiap hari senin.

Pengajian rutin itu tidak hanya sekedar mendengarkan kajian kajian agama, akan tetapi para jama'ah diajarkan cara membaca Al - Qur'an dengan baik dan benar , dengan metode satu persatu jama'ah berhadapan dengan guru untuk belajar Al - Qur'an, "dengan cara seperti itu dapat membantu para jama'ah untuk belajar membaca Al - Qur'an agar lebih terpantau. 

Rata - rata dari jama'ah masjid Al - Ikhlas yang selalu menghadiri pengajian yaitu ibu-ibu dan nenek-nenek yang semangatnya masih sangat besar untuk belajar Al - Qur'an, mereka sangat senang karena mendapatkan ilmu dan masih bisa belajar Al - Qur'an meski usia mereka tak lagi muda. 

"Alhamdulillah sekarang sudah mulai berkembang, dengan diadakannya pengajian rutin dan kegiatan positif " ujar bu eem . Rabu (19/09/2018)

Tak hanya pengajian saja, DKM Masjid Al - Ikhlas pun mengadakan kegiatan membaca Yasin setiap malam jum'at, dan kegiatan yang diadakan untuk menyambut hari - hari besar Islam, seperti Tabligh Akbar,Muludan,Rajaban dan masih banyak yang lainnya. 

Dengan diadakannya pengajian rutin dapat mempererat ukhuwah, selain pengajian rutin setiap hari senin dan kegiatan - kegiatan positif untuk menyambut hari besar Islam, DKM masjid Al - Ikhlas pun mengadakan pengajian rutin ba'da Maghrib ,akan tetapi yang sangat diprihatinkan yaitu tak ada remaja yang ikut serta dalam pengajian ini, hanya anak - anak kecil dan dengan suara yang lantang dan semangat yang besar untuk mengaji beserta bapak - bapak yang ikut serta dan melakukan sholat berjama'ah dimasjid. 

"Alhamdulillah sekarang sudah mulai berkembang, dengan diadakannya pengajian rutin dan kegiatan positif " pungkas bu eem. 
Usia bukanlah alasan untuk belajar ,apalagi belajar Al - Qur'an. meski mereka tak lagi muda, namun semangat mereka melebihi para remaja.

Jangan jadikan kesibukan untuk menjadi alasan, karna tak ada kata sibuk,hanya orang yang tak bisa mengatur waktu dengan baik yang menjadikan dirinya dengan kata sibuk.

Reporter: Devi Rachmawati KPI/3A

Lokasi Masjid Jadi Masalah Masyarakat
Dakwahpos.com, Bandung Indonesia sebagai Negara yang mayoritas muslim mempunyai banyak masjid. Salah satunya masjid At-Taqwa  yang berlokasi di jalan Embah Raksa  rt 03 rw 01 kelurahan cipadung  kecamatan cibiru kota bandung . Pengajian mingguan dilaksanakan pada malam jumat dan sabtu sore diisi oleh masyarakat setempat terutama ibu-ibu.
Sempitnya lahan area luar masjid membuat kendaraan susah parkir untuk melaksanakan sholat di masjid itu."kalau saya sih inginnya diperluas lagi, tapi ya namanya juga di gang jadi susah. Harus membangun keatas, kalau saya banyak uang saya juga ingin memperluasnya"  ujar pak Ahmad selaku DKM mesjid At-Taqwa .
Masjid yang berdiri sejak 1972 ini sudah beberapa kali direnovasi . tiap solat subuh pun hanya dua hingga tiga baris jamaah. Masyarakat lebih memilih solat di mesjid yang bisa dijangkau memakai kendaraan. Untuk sholat di masjid ini masyarakat susah memarkirkan motornya. 
Peranan mahasiswa di sekitar mesjid pun ikut serta beberapa kali dalam kegiatan. Mesjid At-Taqwa juga dijadikan oleh mahasiswa dalam kegiatan KKN. Kegiatan yang dilakukan diantaranya pelaksanaan PHBI .salah satunya peringatan maulid Nabi.
"harapan kedepannya masjid ini harus lebih banyak jamaah dan kegiatannya, mungkin mereka  belum mendapat hidayah" ujarnya  . peranan pemuda sangat dibutuhkan dalam kagiatan masjid. hanya   dua hinga empat pemuda yang ikut berpartisipasi pada kegiatan mesjid. (19/09/2018).
Reporter:Iip Ahmad Abdullatip KPI 3/B
 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Incsomnia Project