x
BREAKING NEWS

Info Masjid

Islam Nasional

Info Kampus

Islam Internasional

Info Bandung

Kolom

Senin, 05 November 2018

Edy Supardi, Sang Pendakwah

Laki-laki paruh baya yang bernama Edy Supardi, ia adalah lelaki yang sudah berusia 44 tahun, lahir pada 18 Juli 1974, Bandung. Dia adalah sosok yang sangat di kagumi di kalangan masyarakat di daerah Cibiru, Kota Bandung. Edy Supardi pernah menempuh pendidikan di MTS Kifayatul Akhyar, Kota Bandung, bahkan pernah mengikuti pondok pesantren di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat yang bernama pondok pesantren Surya laya.

Betapa tidak, Edy Supardi adalah salah satu tokoh laki-laki Jawa Barat yang mampu memberikan masukan-masukan tentang keagamaan di salah satu Kota Bandung. Ia pernah mengikuti perlombaan MTQ, Adzan di berbagai tingkat di daerah Kota Bandung.Berbagai penghargaan sudah banyak di dapat belia dari tingkat yang masih dasar hingga tingkat selanjutnya, sejak ia masih muda.

Bukan hanya itu, Lelaki asli kelahiran Kota Bandung ini juga merupakan ketua DKM Ar-Rahmat di daerah Cibiru. Sewaktu Rektor UIN Sunan Gunung Djati mengadakan pertemuan pada tahun 2016, dengan seluruh DKM yang ada di daerah Cibiru dan Panyilekan, Edy Supardi menjadi salah satu yang hadir pada acara pertemuan tersebut. Ia juga sabagai seorang yang aktif dalam membina dan menasihati para mahasiswa di Kota Bandung, khususnya mahasiswa dan mahasiswi Uin Sunan Gunung Djati Bandung.

Keseharian Edy Supardi adalah berwirausaha serta mengajarkan ilmu-ilmu keislaman. Ia bukan hanya sebagai wirausaha tetapi aktif juga sebagai pendakwa di tengah-tengah tantangan zaman yang makin parah pada saat ini. Edy Supardi sering memberikan tausiyah keislaman di pengajian rutinan bapak-bapak di daerah borma, masjid-masjid dan juga di pengajian lainnya.

Edy Supardy sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Anak pertama laki-laki yang sekarang sedang menempuh pendidikan di bangku perkuliahan, jurusan ilmu tasawuf di Darussalam, Garut. Sedangkan anak keduanya masih duduk di kelas 6 SD di SD Kifayatul Akhyar, Kota Bandung. Ia sangat menginginkan kelak kedua anaknya bisa bermanfaat di masyarakat luas nantinya.
Pertama kali berdakwah Edy Supardy, sudah dari usia belia ketika duduk di bangku MTS, dia sering mengisi kegiatan-kegiatan keislaman baik ceramah maupun lainnya hingga saat ini. Ia sangat berharap bisa pergi memenuhi undangan Allah swt, ke tanah suci yaitu naik haji ke Mekkah al mukarramah, tetapi keadaan yang begitu kurang mendung, ditambah lagi biaya untuk keperluar sekolah anak. 
Tapi Edy Supardy, yakin bahwa itu semua ada saatnya nanti, bisa jadi ketika anaknya lulus sekolah dan mempunyai perkerjaan, anaknya mampu memberangkatkan orangtuanya ke Mekkah, begitulah yang di harapkan dari seorang sosok yang bernama Edy Supardi. Manusia memang tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah swt.

Pak Unang Imam Masjid Miftahul Sya'adah

Dakwahpos.com, Bandung- Pak Unang adalah sapaan khas oleh warga sekitar Masjid Miftahul Sya'adah nama asli Beliau adalah Unang Rohman. Beliau adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Pria kelahiran Sukabumi, 15 November 1975, bekerja sebagai guru SD di SD Pelita 01 Bandung. Beliau adalah lulusan dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, fakultas Tarbiyah dengan di program study Pendidikan Agama Islam.

Beliau berstatus sudah menikah, dan dianugerahi tiga orang anak. Dimana salah satu anaknya sudah menginjak bangku kelas tiga SD. Dan dua anak lainnya masih kecil-kecil sehingga belum menginjakan kakinya di bangku sekolah.

Kegiatan sehari-hari beliau adalah mengajar sebagai guru SD namun selain menjadi guru SD beliau juga menjadi imam di Masjid Miftahul Sya'adah. Meskipun Beliau sibuk dengan mengajar murid-muridnya, Ia masih tetap meluangkan waktu untuk menjadi Imam sholat di Masjid Miftahul Sya'adah. Memang tidak mudah menjadi Imam di sebuah Masjid  dengan kesibukan sebagai seorang guru.

"aya rencana kapayuna bakal merehap masjid di sebelah payun amun aya danana" ungkap Bpk Unang.

Meskipun tidak mudah menjalaninya Beliau tetap terus berusaha untuk selalu bisa menjalankannya. Diusianya yang ke 43 tahun beliau selalu menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya baik untuk melakukan kewajibannya sebagai guru dan kewajibannya sebagai seorang Imam Masjid. Beliau tidak ingin ketinggalan bekal dalam berburu amal untuk bekal di akhirat kelak. Beliau selalu menjalani hari penuh dengan ikhlas.

Beliau juga sudah pernah mendapatkan beberapa penghargaan salah satunya adalah penghargaan tentang kurikulum 2013, atau yang biasa disingkat sebagai K13. Beliau aktif didalam kegiatan-kegiatan di Masjid Miftahul Sya'adah. Beliau selalu ambil bagian dalam kegiatan memperingati hari-hari besar Islam seperti satu syawal, bulan Ramadhan, Idhul Adha dan lain sebagainya. Jika di Masjid Miftahul Sya'adah mengadakan perbaikan Masjid atau bersih-bersih Beliau tidak sungkan dalam membantu entah itu tenaga ataupun material.

Djaenudin Syamsuri, Sang Pencetus Ide Pembangunan Masjid Al-Muhajirin

Pembangunan adalah upaya yang perlu dilakukan seseorang disuatu tempat untuk menciptkan sebuah lingkungan menjadi lebih tertata sehingga individu yang tinggal didalamnya bisa menikmati lingkungan tersebut. Dengan maraknya pembangunan di suatu tempat maka secara tidak langsung frame yang positif melekat padanya.

Sadar mengenai pentingnya pembangunan, Djaenudin Syamsuri Alumni Sarjana Muda IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Strata Satu Unisba mulai mencanangkan ide pembangunan terhadap Masjid Al-Muhajirin Cipadung. 

Bermodalkan pengetahuan dan pengalamannya menjadi Ketua DKM Masjid Ash-Shalihin Lengkong Bandung selama 20 tahun, Djaenudin ajukan gagasannya kepada masyarakat Cipadung RT 4/RW 4 guna mendapatkan persutujuan dari masyarakat. Hingga akhirnya gagasannya mengenai pembangunan masjid direspon baik oleh masyarakat.

Tidak hanya berhenti dengan memberikan gagasan, Djaenudin pun mulai melakukan perencanaan tahap awal pembangunan sedemikian rupa meski dengan modal yang terhitung sangat pas-pasan. Namun, minimnya modal tidak mengurangi semangat pria yang pernah menjadi Ketua Senat Fakultas Ushuluddin ini dalam upaya membangun dan melakukan pembaharuan-pembaharuan di Masjid Al-Muhajirin.

Relasi yang Djaenudin bangun selama aktif di PUI Kota Madya, NU Kota Madya, dan MUI Kecamatan sedikit membantunya dalam proses pembangunan Masjid Al-Muhajirin. Konsep pemanfaatan swadaya masyarakat (dari masyarakat, dengan masyarakat, dan untuk masyarakat) ia terapkan dalam proses pembangunan Masjid Al-Muhajirin. Hingga akhirnya pada bulan Oktober tahun 2018, pembangunan Masjid Al-Muhajirin sudah mencapai 70% dan ini merupakan sebuah proses yang cepat jika dilihat dari modal yang sangat minim.

Reporter: Ahmad Rifa'I Yusuf N KPI/3A

Tajul Arifin : Tidak Ada Diskriminasi Usia dalam Belajar Al-Quran

Dakwahpos.com, Bandung - Dengan kemeja koko panjang khasnya yang menyentuh hingga lutut, Ustaz Tajul Arifin duduk di barisan tengah depan, dengan beberapa jamaah membentuk setengah lingkaran menghadapnya. Satu rutinitasnya tiap usai memimpin jamaah shalat Isya, ia menjadi pengajar dalam majelis ilmu yang sering ia sebut tahsin. 

Meski sibuk dengan rutinitas sebagai tenaga pengajar di UIN Bandung, pria kelahiran Garut 54 tahun silam tersebut cukup aktif terlihat di Masjid Nurul Amal, Babakan Dangdeur untuk memberikan pengajaran saat tahsin. Bukan hanya sebagai ustaz pengajar, ia juga didapuk untuk menjadi ketu DKM masjid dalam beberapa tahun kebelakang. 

Meski bukan ruang belajar yang dipenuhi banyak peserta, terkadang hanya terliht delapan hingga sepuluh peserta dengan rerata ialah pria usia atas. Usia yang berbeda tetulah berbeda pula cara untuk mengajarnya, hal tersebut yang benar membuat Ustaz Tajul bekerja keras memutar otak menciptakan metode pembelajaran yang menarik dan efektif terhadap orang-orang yang dia ajar. 

Ustadz yang juga merupakan guru besar fakultas Syariah dan Hukum UIN Bandung tersebut,menemukan caranya dengan melakukan metode belajar dan membaca al-Quran secara bersama-sama. Ia mengusulkannya dengan pertimbangan banyak hal, salah satunya ialah aspek psikologis dan sosiologis peserta tahsin.

"Pembacaan al-Quran itu dibaca bareg-bareng supaya menghindari terhadap orang yang merasa kurang bisa atau bagus dibandingkan dengan temannya kemudian akan minder dan berpengaruh terhadap kehadirannya di acara yg sama pada momen berikutnya." Jelasnya, Kamis (01/11/2018)

Dengan metode tersebut, ia merasa ada hasil berupa peningkatan kemampuan masyarakat juga inisiatifnya untuk makin meramaikan tahsin. Meski begitu, Ustaz lulusan Flinders University Australia tersebut berharap agar dengan tahsin mampu membantu masyarakat agar membaca al-Quran lebih baik lagi.

"Semoga bacaan al-Quran masyarakat itu semakin baik sebagaimana kaidah  dan ilmu tajwid. Juga dengan bacaan ilmu tajwid itu semoga mereka semakin semngat membaca al-quran. Implikasi dari kebiasaan membaca al-Quran untuk persiapan akhirat nanti." Harapnya. Kamis (01/11/2018)

Pengalamannya mengelola masjid terbilang cukup panjang, hal tersebut terbukti dari panjangnya periode yang ia menjabat sebagai ketua DKM Masjid Nurul Amal. Setelah dipercayai sebagai ketua sejak awal tahun 2000an, beberapa kali pergantian ketua namun tak urung ia dicalonkan kembali dan dipercayai untuk beberapa tahun belakangan bahkan beberapa tahun kedepan.



Reporter : Abdul Azis Said, KPI 3 A

Ibu Juariyah, Inspirasi Jamaah Majlis ta'lim Masjid Al-Murtadho


Dakwahpos,comBandung Di siang hari, terlihat seorang ibu tengah menggelar karpet kemudian menyalakan microphone, memanggil ibu-ibu di sekitar untuk datang ke majlis ta'lim. Ibu itu berusia 51 tahun bernama  Ibu Juariyah, yang sering di sapa dengan panggilan Ibu Maman. Kesibukannya sebagai ibu rumah tangga yang single parent juga sebagai ketua Majlis Ta'lim tidak membuatnya mengeluh. Prinsipnya yang sangat kuat membuatnya terus bertahan sebagai ketua Majlis Ta'lim di Masjid Al-Murtadho Cibiru Wetan, Bandung.

"Yaaa neng ibu diamanahkan jadi ketua majlis ta'lim ibu-ibu disini dengan segala ketidakbisaan, sekarang ibu sebagai ibu rumah tangga biasa sekaligus ayah bagi anak-anak neng. Suami ibu dipanggil oleh Allah sekirat 7 bulan yang lalu, niatkan saja hanya karna Allah, toh hidup kita di dunia ini hanya untuk berladang dan insyaAllah nanti hasilnya di akhirat kelak baik neng" Kata Ibu Juariyah di kediamannya,Cibiru Wetan kamis (31/10/18)

Walaupun ada saja yang tidak suka kepada beliau karena dijadikan ketua Majlis Ta'lim  akan tetapi, itu tidak mengurangi semangat dakwahnya, mengajak warga sekitar untuk datang ke masjid mempelajari ilmu Allah bersama-sama. Beliau pun mengakui  bahwa perjalanan hidupnya yang tidaklah mudah untuk sampai sekarang ini, yang dulu dikenal sebagai seorang ibu rumah tangga biasa yang sangat awam dari ilmu agama. Namun, sekarang beliau dikenal sebagai ibu ustadzah ketua Majlis Ta'lim.

" ada saja yang tidak suka mah neng, bukan ibu yang pengen jadi ketua majlis ta'lim, mungkin itulah ketentuan Allah melalui lisan bu RW,  kalo liat kisah Rasulullah mah ngga sebanding dengan ibu saat ini, ibu yakin bahwa Allah tidak akan memberi ujian di batas kemampuan hambanya, itumah harus yakin neng"Kata Ibu Juariyah di kediamannya,Cibiru Wetan kamis (31/10/18)

Ditemui di kediamannya di daerah Cibiru Wetan, beliau menceritakan perjalanannya dalam mengaji, bermula dari putri sulungnya yang pada saat itu tengah mengaji bersama-sama di rumah yang sederhana. Ia membenarkan bacaan ibunya ketika mengaji yang masih terbata-bata, kemudian guru dari putrinya mengajak ibu maman untuk mengaji bersama. Beliau sama sekali tak merasa tersinggung sebagai seorang ibu, malah ia merenungi dirinya sendiri untuk kembali mempelajari Al-qur'an walau posisinya sebagai seorang ibu dari 3 orang anak pada saat itu, sampai beliau mengandung anak keempat pun beliau membawa bayinya untuk pergi mengaji.

Waktu terus berputar, sampai ditengah perjalanannya beliau mengalami sakit yang luar biasa, yang menurut seorang dokter penyakitnya itu aneh sulit di prediksi apa penyebabnya. Namun, beliau tetap saja bersemangat untuk mengaji ke berbagai masjid dengan kenyakinannya. Menurutnya, mempelajari ilmu agama itu sangatlah penting sampai kapanpun, bahkan sampai nanti dipanggil oleh pemilik-Nya. Beliau pun menuturkan, hidayah itu kita sendiri yang menjemput, Allah tidak akan merubah suatu kaum kalau kaumnya sendiri tidak mau merubahnya.

"apapun sakitnya itu semua datang dari Allah kita hanya bisa berikhtiar dan sabar neng, ibu waktu itu benar-benar udah  gak kuat  sakitnya, ibu juga pernah di oprasi. Tapi, sama sekali tidak ada perubahan, tetap masih sakit, dokter pun tidak tau penyebab penyakit itu apa neng, katanya aneh. Tapi, Alhamdulillah sekarang udah tidak ada sama sekali rasa sakit itu. masa SMP, SMA ibu itu gak seperti sekarang neng, dulu ibu itu keluyuran kemana-kemari, dugem, tapi yaa gak sampe ngerokok atau yang lainnya. Ibu hanya gitulah main-main, tapi ibu tuuh di hari minggu waktu masih suka mentoring ke salman ITB neng. Yaah Alhamdulillah Allah masih terus memberi hidayah sama ibu, dan hidayh itu kita yang menjemputnya neng tentunya dengan sungguh-sungguh, karena Allah tida akan merubah suatu kaum kaulau kaum itu tidak merubahnya"Kata Ibu Juariyah di kediamannya,Cibiru Wetan kamis (31/10/18)

Sampai akhirnya, sekarang beliau dengan mudah melafalkan ayat-ayat suci Al-qur'an, sedikit demi sedikit memahami isinya untuk beliau amalkan di dalam kehidupan. Kemudian beliau di minta untuk menjadi ketua Majlis Ta'lim. Tidak sampai disana ujian masih Allah berikan, ada saja orang yang tidak suka dengan beliau dijadikan ketua majlis ta'lim, karena ia melihat bagaimana latar belakang sosok Ibu juariyah di masa mudanya. Ujian tidak hanya datang dari luar, juga datang dari warga yang kurangnya kesadaran untuk datang ke majlis, bahkan warga yang rumahnya berdekatan dengan masjid pun tidak pernah terlihat ujung hidungnya. Menurutnya, itulah ujian yang sangat berat untuk ia hadapi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, berbagai pendekatan sudah ia lakukan terhadap warga sekitar. Namun tetap saja, warganya masih belum ada kesadaran untuk datang ke majlis dengan berbagai alasan.

Kini, beliau sudah enam tahun menjadi ketua Majlis ta'lim dengan keadaan yang berbeda pula. Sekarang  beliau tinggal hanya dengan putra bungsunya, sang suami telah lebih dulu di panggil oleh pemilik-Nya. Saat ini beliau disibukan sebagai seorang ibu sekaligus sebagai kepala rumah tangga. Untuk memenuhi kebutuhan anak bungsunya yang masih duduk di sekalah menengah pertama, beliau rajin membuat peye juga menerima pesanan catering, juga tidak lupa ia melaksanakan amanahnya sebgai ketua Majlis Ta'lim yang rutin setiap hari senin siang. Semangat dakwahnya mengajak ibu-ibu untuk datang ke majlis ta'lim akan terus berkobar di dalam diri beliau selama Allah memberi kesempatan dan dengan penuh harapan agar warna sekitar sadar akan mempelajari ilmu agama sampai liang lahat.

Reporter: Ai yulianti KPI/3A

Renovasi Masjid manunggal Dapat Donasi Rakyat

Minggu,  14 oktober 2018 – 10.00 WIB

Renovasi masjid Manunggal Vijaya, pembangunan lantai dua. 
BANDUNG – Awal Oktober 2018 Pengurus Masjid Manunggal Vijaya memutuskan untuk merenovasi Masjid Manunggal. Berdasarkan hasil musyawarah antara Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), pengurus, dan masyarakat Vijaya untuk membangun lantai dua Masjid Manunggal.
DKM Manunggal, Mustafa,Lc. Menyebutkan bahwa pembangunan Masjid Manunggal perlu dilakukan renovasi agar dapat menampung jumlah jamaah yang kian bertambah. Disebabkan berkembang pesatnya Masyarakat Vijaya. 
" Selama ini jamaah yang sholat di Masjid Manunggal sampai keluar gedung utama. InshaAllah  bila kita semua bersama, bisa terwujud pembangunan yang kedua kalinya Masjid Manunggal dengan kapasitas 500 orang jamaah yang sebelumya hanya 300 jamaah." Ujar ketua DKM Manunggal ketika di wawancarai, Minggu. (14/10/2018).
Penasehat Masjid Manunggal Bandung sekaligus tokoh masyarakat setempat, Dadan Kusuana menyatakan, sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembangunan Masjid Manunggal ini membutuhkan  biaya Rp253 juta. Dikatakan, untuk mendapatkan dana sebesar itu tidak sulit bila semua memiliki kesamaan niat membesarkan masjid Manunggal. 
Mustafa,Lc. menyatakan biaya itu merupakan donasi dari masyarakat. Ada yang memberikan secara cash, ditotalkan sejumlah Rp.50 juta. Ada pula berupa mentahan seperti semen berjumlah 150 sak, kusen-kusen, juga pasir satu trek tiga colt. Dan ada yang berupa tenaga kerja. Bahkan ibu ibu pengajian majlis ta'lim menyumbangkan konsumsi setiap harinya untuk para pekerja. Sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati, tiap rumah bergilir memberikan konsumsi, dalam sehari Rp.150 ribu.
" Masjid Manunggal ini dibangun tanggal 10 September 2018. Akan selesai pembangunan dalam waktu kurang lebih 3 bulan, terprediksi pada tanggal 20 Desember 2018. inshaAllah pembangunan tahap ketiga akan dilakukan awal Agustus 2019 untuk memperluas lantai 2 yang sekarang sedang dibangun."  jelasnya.
Sehingga dalam waktu kurang lebih 3 bulan dengan dana yang sudah dikumpulkan masjid Manunggal akan segera dirampungkan. Lalu bisa kembali digunakan kegiatan ibadah dan kegiatan ta'lim secara normal.
Reporter : Ahmad Naufan Hanif (KPI 3A)  

Perluasan Bangunan Masjid At Tarbiyatul Islamiyyah

Dakwah pos, Bandung. Masjid At-Tarbiyatul Islamiyyah yang berada di daerah Cipadung, saat ini DKM mesjid sedang melakukan pembangunan untuk memperluas bangunan masjid ke bagian atas. masjid akan di bangun menjadi dua lantai.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid At-Tarbiyatul Islamiyyah, Cipadung Bandung. Bapak Drs. Juanda sedang mengupayakan pembangunan ini agar bisa terus berjalan.   " jadi pembangunan ini awalnya tidak akan saya lakukan, karna saat ini DKM sedang tidak memiliki banyak dana yang cukup untuk pembangunan." Ujar Juanda. Jum'at (02/11/2018).

Karna banyak nya pertimbangan dari pihak DKM, namun ternyata ada seorang warga yang memang menganjurkan kepada pengurus DKM untuk terus melanjutkan pembangunan. " jadi gini disini ada bapak H.Kayat, yang sudah cukup berumur dan beliau yang menyuruh saya melanjutkan pembangunan ke atas. Dan dia yang memberi banyak bantuan terhadap pembangunan mulai dari dana, besi dan bahan-bahan bangunan lainnya." Ujar Juanda. Jum'at (02/11/2018).

Saat ini pembangunan masjid At-Tarbiyatul Islamiyyah ini sudah menghabiskan dana sampai 100 juta rupiah. Dan masjid yang sudah ada sejak tahun 1986 ini hingga sekarang selalu meningkat dalam pembangunan nya menjadi lebih luas agar masyarakat sekitar puas dengan keadaan mesjid yang semakin baik.

Setelah pembangunan mesjid semakin membaik di masjid At-Tarbiyatul Islamiyyah DKM berharap masyarakat sekitar akan semakin sering mengunjungi mesjid baik untuk melakukan shalat, dan pengajian rutin ibu-ibu yang dilakukan setiap hari sabtu pada jam 16.00.


Reporter : Nur Alfiah Agustina, KPI 3C

Masjid Punya Satpam Sendiri

Dakwahpos.com, Bandung - Sore itu, suasana Jalan Desa Cipadung, tepatnya di Cipadung atas terlihat ramai, kendaraan nampak berlalulalang melaju dengan kecepatan sedang. Di tepi jalan itu, berdiri sebuah plang nama bertuliskan Masjid Al-Amanah. Lokasinya di Jalan Desa Cipadung No.8A RW.08, tepatnya di seberang MAN 2 Bandung.

Sebuah pucuk masjid pun terlihat ketika mulai memasuki plang tersebut. Beberapa anak sedang bermain bola di parkiran luar masjid karena lokasinya memang lumayan luas untuk tempat parkir.

Selain anak-anak yang sedang bermain bola, terlihat bapak-bapak yang sedang menikmati sekitar. Pak Cecep namanya. Beliau mengatakan, banyak sekali yang memakirkan motornya disini, di halaman luar. Namun ada satu hal yang membuat ceritanya unik.

Meski jumlah motor lebih banyak terparkir di dalam area masjid yang tidak dijaga siapapun, namun tetap saja aman. Beda dengan tempat parkir yang berada di luar masjid yang tetap saja maling tak bisa berdiam diri dirumah.

"Ada penjaga nya sendiri kalau di masjid, wallahualam," ujar Pak Cecep, Kamis (1/11/2018).

Reporter : Rahma Dwi Abadianti, KPI/3C

Sebelum magrib,anak-anak ikut pengajian dan sholat bersama.

Dakwahpos.com,Bandung -DKM Nurul Karim Cipadung ,sering sekali mengadakan kegiatan bermanfaat seperti pengajian anak-anak sebelum magrib.
Aji Wicaksono adalah salah satu guru di kegiatan pengajian anak-anak,Beliau orang asli Bandung. Dia bekerja dia salah satu pabrik di Bandung, dahulu Aji adalah anak pesantren sehingga dia mau berbagi ilmu kepada anak-anak di sekitar lingkungan dirumahnya.
"yah,menurut saya di masjid ini juga tadinya belum ada pengajian anak-anak. Ya jadi saya coba aja kasih ilmu saya ke mereka dan tadinya responnya sedikit yang mau ikut ngaji. Karna mereka tau juga dari mulut kemulut ya akhirnya jadi banyak yang mau ikut mengaji" ungkap Aji pada saat selesai mengajar anak-anak.
Pada saat itu memang Aji tidak ada niat untuk mengajar pengajian di masjid itu,kebetulan anaknya yang bernama indah selalu rajin mengaji di rumahnya.sehingga, banyak tetangga yang melihat dan ingin anaknya ikut mengaji pada Aji. Akhirnya Aji memutuskan untuk mengusulkan kepada DKM di masjid nurul karim untuk mengadakan pengajian dan sholat magrib bersama. Yang mengikuti pengajian itu rata-rata anak-anak SD usia 5-10 tahun. Dan dilaksanakan setian senin-jumat jam 17.00-19:35.
Tidak ada kendala dalam mengajar anak-anak mengaji. Karna seusia mereka masih mau mengikuti aturan mengaji tersebut. Ditambah pesan orang tua mereka yang di berikan oleh Aji sebagai guru ngaji. "anak-anak masih mau mengikuti aturan mengaji di sini, dan orangtuanya tidak banyak protes karna mereka mengikuti aturan pengajian di masjid nurul karim selama aturan itu benar dan baik untuk anak-anak mereka" ungkapnya.

Reporter : Oktaviani ulfa KPI 3C

Kurangnya Antusias Pemuda di Mesjid Baitul Muttaqien, Inilah harapan DKM

Dakwah pos. Bandung-  Mesjid Baitul Muttaqien berada di Komplek Permata Biru blok B RW 19 RT 04, Cinunuk, Kabupaten Bandung. Mesjid ini mempunyai kegitan-kegiatan rutin, diantaranya Majelis Ta'lim yang dilaksankan setiap hari selasa dan sabtu setelah shalat asar, dan Pengajian anak-anak yang dilakukan setiap hari.

Setiap mesjid pasti mempunyai kegiatan rutinan supaya warga bisa mengaji dan bersilaturahmi dengan tetangga yang lainnya. Kegiatan itu ada yang berupa majelis ta'lim jadi warga hanya duduk dan mendengarkan penceramah, dan ada juga kegiatan yang berupa seni misalnya diadakannya latihan qasidahan.

Tentu saja semua kegiatan yang ada di mesjid tidak akan berjalan dengan efektif  jika tidak ada orang yang memulai dan mengurusinya. Bapa Asep Sodiqin adalah ketua DKM Baitul Muttaqien dan juga salah satu dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung, yang berharap pemuda-pemuda di daerahnya ikut serta dalam semua kegiatan mesjid.

"Saya berharap adanya kesadaran dengan pemuda-pemuda yang ada di lingkungan mesjid ini, supaya mesjid ini punya penerus ketika saya dan pengurus DKM yang lain sudah tidak bisa lagi pergi kemesjid." Ujar kepala DKM, Jum'at (02/11/2018).

Tapi terlepas dari itu ada juga marbot-marbot, dan guru pengajian anak-anak yang berstatus mahasiswa UIN Bandung yang selalu membantu kegiatan-kegiatan di mesjid. Tapi sayangnya Pemuda asli yang bertempat tinggal disana kurang berantusias dengan mesjid.

Reporter: Ranti Daryanti/ KPI 3C

Penggolongan manusia Dalam Kebaikan Dilihat dari Tingkatan Keikhlasan


Dakwahpos, Bandung- Mesjid Agung Ujung Berung melaksanakan pengajian yang dihadiri para jemaah KMKT ( Kelompok Kerja Majelis Ta'lim) kecamatan Ujung Berung dan sesepuh KMKT. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi sesama umat Nabi.

Kegiatan yang dimulai pada pukul 08.00 WIB yang dimulai dengan lantunan-lantunan shalawat dari sesepuh KMKT. Pengajian diisi dengan tauziah yang disampaikan oleh K.H. Zainal Arifin yang berlangsung secara khidmat. Pada kesempatan tersebut, beliau  menyampaikan tauziah dengan inti materi bahwa ada 4 tingkatan ikhlas diantaranya mubtadi'in, 'abidin, muhibbin, dan yang terakhir 'arifin.

Pengajian ini menambah silaturahmi antar sesame daerah, sebab jamaah dari KMKT disini bukan hanya dari warga ujung berung saja. Akan tetapi, dari berbagai kelurahan yang ada di kecamatan Ujung Berung dan sekitarnya. " pengajian ini terbuka untuk umum. Jadi, siapa saja boleh mengikuti pengajian ini bahkan acaraa ini gratis," ungkap ketua KMKT.

Ustadz Arifin menyampaikan bahwa dengan kita memahami 4 tingkatan ikhlas kita akan mengetahui kalau kita sedang meklakukan suatu kebajikan kita berada pada bagian tingkatan yang mana," jelasnya Sabtu (03/11).

Dalam menjalankan kebaikan tidak selamanya kebajikan tersebut diketahui oleh orang lain. Oleh karena itu dalam melakukan segala sesuatu didasari dengan keikhlasan. Kehidupan dijadikan sebagai berkah, melakukan ibadah, meningal dalam husnul khatimah," ungkapnya mengenai hakikat kehidupan manusia.

Reporter: Siti Patma Deli, KPI 3D



Masjid Jami Attaufiq Berperan sebagai Taman Ilmu

Dakwah Pos,Bandung-. Masjid Jami Attaufiq saat ini sangat berikatan dengan Yayasan Pondok Pesantrennya, yaitu "Pondok Pesantren Assalafy Miftahuttaufiq" yang terletak di Kelurahan Pasir Biru Kecamatan Cibiru Rt 02 Rw 09.

"Para santri wajib mengharumkan nama baik pesantren, begitu pula memakmurkan Masjidnya. Disini santri-santri yang mayoritasnya Mahasiswa dan anak-anak sekolah (SMA), tentu mereka sebagai pelajar punya cara masing-masing untuk melakukan itu". ujar Nunu, selaku santri Attaufiq (4/11/2018).

Begitu juga keadaan masjid, yang selalu digunakan dan diurus oleh para santri. Dari mulai kebersihan masjid, acara PHBI dimasjid, adzan masjid, petugas Sholat Jumat dan lain-lain.

Dan pada kegiatan yayasannya, santri sering mengajar di kelas-kelas yang sudah di tentukan oleh guru di pesantren. Dari mulai anak-anak TK, DTA, kelas malam, kelas Tamyiz. Guru pesantren memberikan tugas itu karna para santri supaya terbiasa dan mempunyai pengalaman yang luas ketika kelak ia akan terjun di masyarakat.

" Santri perlu pengalaman yang lebih, terlebih dalam mengajar. Karna setelah keluar dari sini, santri harus membuka pengajian sendiri di rumah masing-masing, dalam bentuk pengamalan ilmu" ujar Ahmad, selaku guru pesantren ketika kegiatan pengajian rutinan.

Reporter : Muhammad Raihan Anwar KPI/III/C

DKM Inginkan Kegiatan Remaja


Dakwahpos.com,Bandung- Mesjid Jami AL-Huda adalah mesjid yang terletak di Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten, Bandung. Letaknya cukup strategis karena berada di pinggir Jalan Raya Cinunuk, sehingga mesjid ini banyak yang mengunjungi. Kegiatan pun banyak dilakukan di mesjid ini. Namun diantara banyak kegiatan tidak banyak kegiatan untuk remaja.

"Kegiatan mesjid ini cukup banyak, seperti pengajian anak-anak TPA selepas maghrib, pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak setiap malam jumat juga rutin dilakukan. Namun tidak ada kegiatan yang dkhususkan untuk remaja" Ujar Pak Miftah anggota DKM (03/11/2018) .

Anggota DKM bukannya tidak ingin ada kegiatan remaja, namun tampaknya kegiatan remaja akan lebih sulit dilakukan dibanding kegiatan anak-anak atau orang tua. Karena remaja banyak sekali kesibukan yang lain.

"Sulit untuk mengumpulkan dan mengordinasikan para remaja, lebih sulit dari orang dewasa. Makanya mesjid ini belum punya kegiatan yang focus untuk remaja". Tukas Pak Miftah.

Membimbing anak-anak memang sulit, namun ternyata lebih sulit lagi membimbing remaja karena sudah memiliki pola pikir yang tidak bisa kita paksakan. Jadi perlu orang yang benar-benar bisa membimbing agar remaja tak salah jalan.


Reporter: Renawati Maulani KPI/3C

Aktivitas di Masjid Al-Amanah

Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al-Amanah, Jumat (02/10/2018). Masjid Al-Amanah merupakan masjid yang berada di Jl. Manisi No.2, Cipadung, Cibiru, Kota Bandung. Masjid ini sering diisi dengan berbagai kegiatan.

Hampir setiap harinya Masjid Al-Amanah ini digunakan sebagai tempat pengajian rutinan yang dilaksanakan pada hari senin – sabtu. Saat bada maghrib tiba, dilaksanakan pengajian anak anak, adapun kegiatan pengajian campuran di hari jum'at, dan kajian yang dilaksanakan pada sabtu sore yang diisi oleh salah satu mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Selain kegiatan pengajian rutinan, adapun kegiatan lain yang dilaksanakan di Masjid Al-Amanah ini, contohnya seperti peringatan hari besar Islam, pemotongan hewan qurban, kegiatan pesantren kilat yang diselenggarakan oleh mahasiswa jurusan PMI UIN Sunan Gunung Djati Bandung tiap tahunnya, dan masih banyak lagi.

"Kita sering kerjasama dengan beberapa mahasiswa, apalagi jurusan PMI. Dan kalau mahasiswa ngadain kegiatan, anak-anak yang suka ngaji disini antusias banget, bahkan sampe nungguin kalau kegiatannya agak telat mulainya" ujar Ibu Mamay, istri dari ketua DKM Masjid Al-Amanah, Jumat (02/10/2018). 

Masjid Al-Amanah sendiri belum menjadi masjid jami' dikarenakan pada daerah tersebut sudah ada dua masjid  yang sudah lebih dulu menjadi masjid jami'. Walaupun begitu aktivitas di masjid ini terkelola dengan baik oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Selain dikelola oleh DKM, bapak ketua RT nya pun ikut andil dalam pengelolaan masjid agar orang-orang, khususnya warga di sana ikut meramaikan kegiatan di masjid.


Reporter : Najma Tasya Ilahy, KPI/3C

Masjid Al-Anshori Fasilitasi Anak-Aanak Sarana TPQ

Dakwahpos.com, Bandung- pada sore hari ini telah diadakan nya kegiatan ngaji-mengaji anak usia dini dari usia 4-8 tahun yang di sarana kan oleh mesjid Al-Anshori di Jl Desa Cipadung Gg Pelita. Kegiatan ini berlangsung dengan lancar, anak-anak sangat berinteraktif dan pengajar yang sangat ramah, hal ini sangat membantu agar anak-anak dapat memahami pelajaran lebih lanjut.

Masjid Al-Anshori sudah lama telah dijadikan sarana mengaji bagi anak usia dini, karena dorongan orang tua lah yang membuat anak-anak tetap mengikuti kegiatan ini, kegiatan TPQ di masjid ini di selenggarakan setiap hari kecuali hari minggu pada jam 16.00-17.00 WIB. Tidak hanya kegiatan mengaji saja anak anak juga diajarkan ilmu pengetahuan yang berbasis agama.

Anak-anak yang mengikuti kegiatan TPQ ini berjumlah 45 orang dari berbagai usia, TPQ ini dibuka untuk umum bahkan murid yang mengaji di Masjid Al-Anshori lebih dominan dari luar daerah sekitar, hanya bisa terhitung anak-anak yang berasal dari Gg pelita.

Merubah mood anak kecil sangatlah susah terkadang ada yang lebih suka bermain, diam, bahkan menangis. Maka dari itu para pengajar mempunyai sistem dalam pembelajarannya agar anak-anak dapat belajar dengan senang dan tidak bosan "sistem belajarnya baca iqra, menulis, hafalan, dan materi tentang keislaman. Tiap harinya berbeda dalam materinya" ujar aida,guru mengaji Masjid Al-Anshori (3/11/2018).

jika sudah pembagian raport para pengajar pun mengadakan refreshing diadakannya kegiatan ini untuk menghilangkan rasa jenuh dan tentunya untuk memberi apresiasi murid-murid yang tetap semangat belajar mengaji. 



Reporter : Rebecca Safayona Kpi 3/C


 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Incsomnia Project