x
BREAKING NEWS

Minggu, 04 Desember 2016

Awasi Media


Oleh: Uwes Fatoni

Di era teknologi internet 2.0, agenda setting media yang meyakini pemilihan berita itu hak media, berita yang disiarkan media akan dianggap penting dan diikuti oleh masyarakat (agenda masyarakat) sudah tidak berlaku lagi. Sebaliknya, medialah yang harus waspada dengan framing beritanya sendiri. Masyarakat bisa langsung membongkar langsung kebohongannya apalagi sekarang era citizen journalism, masyarakat bisa menyiarkan kejadian yang terjadi di lingkungannya sama denga yang dilakukan para wartawan profesional.



Harold D. Laswell menyebutkan bahwa media massa memiliki 3 fungsi utama : Surveillance of the environment (pengawasan lingkungan), Correlation of the parts of society in responding to the environment (menghubungkan bagian-bagian dari masyarakat agar sesuai dengan lingkungan), Transmission of the social heritage from one generation to the next. (pewarisan sosial dari satu generasi ke generasi selanjutnya)

Bila media sudah menyimpang dari fungsi ideal tersebut, malah jatuh terjerumus menjadi media perekayasa berita sesuai titipan pemilik atau pemegang saham, maka tidak salah yang terjadi sebaliknya, medialah yang akan diawasi masyarakat.

Metro TV contoh media yang distigma tercitrakan buruk di mata umat Islam. Dalam liputannya reporter menyebut masa aksi hanya 50.000 orang, padahal jumlah massa jauh lebih banyak berpuluh kali lipat. Demikian juga kompas.com yang memberitakan aksi bela islam jilid 1 yang hanya diikuti puluhan massa ormas. Judulnya kemudian diralat setelah ada protes dari pembaca.

Media yang memframing berita seperti itu yang tidak sesuai dengan kenyataan akan rugi sendiri, anjlok citranya di mata audiens. Yang kasihan para reporternya, mereka jadi korban bulan-bulanan masyarakat yang mengawasi siaran langsungnya di lapangan seperti dialami reporter metro tv di bawah ini atau ketika aksi bela Islam jilid 2 di Medan.

Segeralah bertaubat wahai para pemilik media, penonton sekarang sudah melek, mereka yang mengawasi anda, bukan sebaliknya. Kepada para wartawan ikuti hati nurani, kalau menurut Bill Kovack ikuti kebenaran, sampaikan berita sesuai fakta, jangan direkayasa, mengikuti titipan misi pemilik media. Jadilah Anda wartawan ideal yang menjalankan tugas pokok media seperti yang disampaikan Lasswell di atas. Jangan takut dipecat. Anda wartawan yang tugasnya dilindungi UU, bukan dilindungi pemilik media. Anda bisa bekerja di media lain yang lebih baik. Kecuali kalau Anda sudah merasa hidup mapan di media tersebut dan menyetujui cara peliputan gaya tersebut. Terserah. Hidup itu pilihan. Iya kan? Tapi ingat, Anda sedang diawasi masyarakat.






Penulis, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Skumfuk Design Studio