Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tak Ada Bola Seharga Nyawa, PSSI Harus Bertanggung jawab

Kamis, 22 Desember 2022 | Desember 22, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-12-22T08:22:39Z

PSSI tidak boleh lepas tangan atas Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orang. Federasi harus bertanggung jawab menuntaskan kasus ini.
Tragedi Kanjuruhan menjadi perhatian dunia, sebab ada 125 orang tewas akibat kericuhan seusai laga pekan ke-11 Liga 1 2022 antara Arema Vs Persebaya Surabaya. Banyak tokoh dan football family yang mengucapkan belasungkawa atas terjadinya insiden ini.
Tak terkecuali FIFA yang merupakan badan sepakbola dunia, di mana PSSI merupakan salah satu anggotanya. PSSI saat ini tengah menjalin komunikasi dengan FIFA terkait insiden di Stadion Kanjuruhan, Malang.PSSI sebagai induk sepak bola Indonesia justru terkesan lepas tangan dari tanggungjawabnya, ada upaya untuk melimpahkan kesalahan hanya kepada panitia pelaksana dan LIB. Tentu ini sikap yang keliru, tidak patut dipertontonkan PSSI.
Semestinya pada saat tragedi, PSSI tampil terdepan dan menggelar konferensi pers menegaskan bahwa selain panitia dan LIB maka PSSI juga pihak yang bertanggungjawab atas kejadian tersebut, ini namanya baru sifat ksatria, regulasi sepak bola Indonesia semuanya berada di bawah kendali PSSI, oleh sebab itu semua kejadian dalam dunia sepak bola tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab PSSI.
PSSI nampaknya masih perlu belajar cara untuk tampil di masa sulit, bukan hanya belajar tampil di masa gembira, bahkan PSSI tak perlu lagi belajar tampil di masa gembira, mereka sudah sangat menguasainya. Pekerjaan rumah PSSI adalah tampil terdepan di masa sulit, tragedi Kanjuruhan mengonfirmasi bahwa PSSI belum bisa tampil di masa sulit..
Rakyat Indonesia menaruh harapan besar kepada PSSI, khususnya para penggila bola, espektasi itu semestinya bisa dicerna dengan baik oleh federasi. Jika ingin menata total wajah sepak bola Indonesia, maka perlu melakukan penataan kebijakan yang serius secara menyeluruh hingga pada tingkat praktik di lapangan, kebijakan tidak cukup dikeluarkan tapi juga dipastikan harus diterapkan di lapangan.
Penataan kebijakan ini pasti akan memakan korban, yang akan menjadi korban adalah mereka yang selama ini mendapat untung dari pengelolaan sepak bola yang ala kadarnya, kelompok ini tidak tertarik untuk merubah wajah sepak bola Indonesia menjadi lebih baik, tapi tak apa, mereka memang harus dikorbankan untuk menaikkan kualitas dunia sepak bola tanah air.

Angga Rizinida Fauzan, Mahasiswa KPI UIN Bandung 
×
Berita Terbaru Update