Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Algoritma Kebhinekaan

Selasa, 14 Desember 2021 | Desember 14, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-12-13T18:51:20Z

Indonesia merupakan negara kepulauan, karena memiliki kurang lebih 17.000 pulau. Dapat kita hipotesiskan dari jumlah 17.000 pulau ini pula, akan ada ribuan kebudayaan yang lain mewarnai ke-Bhineka Tunggal Ika. Dari Sabang sampai Merauke, merupakan gambaran dari betapa indahnya Indonesia dengan berbagai keberagaman pesona wisata, suku, bahasa serta agama. 255 juta penghuni di tanah Republik harga mati. Angka ini juga mengimplikasikan bahwa banyak keanekaragaman budaya, etnis, agama maupun linguistik yang dapat ditemukan di dalam negara ini. Budaya tersebut sangat bervariasi, dari ritual Hindu yang dipraktekkan sehari-hari di pulau Bali, sampai pemberlakuan (parsial) hukum syariah di Aceh dan gaya hidup pemburu-pengumpul orang.

Tapi tentu saja, tidak mudah untuk kami semua menerima perbedaan. Jangankan dengan yang berbeda bahasa atau daerah, sesama daerah yang memiliki perbedaan dalam pola pikir pun kadang menjadi alasan untuk bersitegang satu sama lain. Maka sangat lazim akan adanya sedikit kerusuhan yang terjadi bagi para pelanggar SARA.

Solusi yang diberikan pemerintah dalam menjalankan toleransi antar suku budaya atau agama adalah dengan menekankan warganya akan pendidikan yang baik. Orang yang berpendidikan tidak akan terlalu mengambil pusing akan perbedaan. Orang yang berpendidikan akan lebih menghormati dan menghargai terhadap konsep pemiikiran atau materil seseorang yang berbeda.

Pemantapan ideologi Pancasila juga harus tetap dilaksanakan, sebagaimana yang tertuang dari Sila ke-5, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya khusus Suku Sunda, Suku Jawa, atau bahkan suku-suku tertentu yang ada di Kepulauan Indonesia. Algoritma Bhineka Tunggal Ika sendiri sudah mempunyai perundang-undangannya, seharusnya tidak akan ada lagi penistaan terhadap agama, suku dan budaya masing-masing.

Maka oleh karena itu, kita sebagai Warga Negara Indonesia, jangan terlalu diambil pusing akan adanya perbedaan. Justru seharusnya kita bersyukur, di tempatkan dalam sebuah negara yang paripurna keindahannya dalam keberagaman. Mari kita sama-sama melestarikan toleransi terhadap perbedaan.

Banafsha Saffa, Mahasiwi KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jawa Barat.
×
Berita Terbaru Update