Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Penyampaian yang Tidak Tuntas Bisa Timbul Fitnah.

Minggu, 24 Oktober 2021 | Oktober 24, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-10-24T05:40:53Z

Dakwahpon.com, Bandung - UIN Sunan Gunung Djati Bandung  selalu menyediakan kajian virtual yang dipublikasikan pada akun youtube yakni bernama masjid ikomah, seperti halnya video kultum yang dirilis pada hari kamis (7/10/2021)  mengenai "Penjelasan Dalil Naqli harus Tuntas" yang disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Mujiyo Nurkholis, M. Ag.

Selaku khatib, ustadz mujiyo berkesempatan menjelaskan serta mengingatkan bahwasanya kita bukan hanya sekedar menyampaikan atau memberi kebaikan, tetapi juga harus menerima kebaikan.

" .. disini tentu muncul pertanyaan, diantara kita ada juga yang mampu berdakwah tapi masih perlu diarahkan kepada yang baik. Nah, maka tawalsobilhaq tawashabis sabr apabila kita mengklaim diri kita atau tidaknya kita terbiasa berdakwah. Namun, sadarilah bahwa kita selain menyampaikan Amar ma'ruf nahi mungkar kepada orang lain, kita juga harus menerima peringatan atau nasehat wasiat dari orang lain" ujarnya

Ustadz Dr. H. Mujiyo Nurkholis, M. Ag. Juga menerangkan bahwa berdakwah bukan sekedar menyampaikan saja, tatapi memerlukan pesan yang terbukti.

"Dalam berdakwah kita senantiasa mengungkapkan dalil-dalil terutama dalil naqli Alquran maupun hadis karena itu merupakan senjata utama kita ketika kita akan menyampaikan atau akan memberikan peringatan kepada masyarakat"

Beliau juga menambahkan apabila kita menyampaikan kebaikan kepada masyarakat harus dengan tuntas, jangan setengah-setengah apalagi jika sama sekali tidak ditafsirkan. Biasanya  kita hanya mengungkapkan hal-hal seputar ayat itu, namun ayat itu sendiri atau hadis yang bersangkutan tidak dijelaskan, maka bisa menimbulkan fitnah dikalangan  masyarakat muslim

"Kalau perbedaan itu muncul akibat dari ayat yang kita sampaikan atau hadis yang kita sampaikan maka itu akan menjadi perbedaan yang mungkin sangat berat dibandingkan dengan pemahaman-pemahaman atau perbedaan-perbedaan yang sudah dipahami oleh masyarakat karena perbedaan di antara suatu kelompok atau madzhab dan lain sebagainya." Ujarnya lagi.

Dosen Fakultas Ushuluddin ini juga mengingatkan bagi orang yang berakal untuk senantiasa mengasah pikirannya dengan pemikiran yang haus akan ilmu.

" Sebaiknya kita sebagai orang yang terdidik, orang yang terpelajar tentu kita harus kritis terhadap redaksi ayat maupun hadis, kritis dalam arti memahami  sedetail-detailnya, kritis juga kita terhadap penerjemahan karena seringkali terjemahan itu menggunakan makna umum menggunakan kalimat umum atau kalimat populer yang dikenal hari ini kadang-kadang  tidak benar-benar merujuk kepada  makna dasar dari Alquran maupun sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam." pungkasnya

 

Repoter : Hafadlah Triananda

Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

×
Berita Terbaru Update