x
BREAKING NEWS

Minggu, 08 Oktober 2017

Stop Kasus Bullying Yang Merajalela

Oleh : Nadiya Afidhah

Bullying? Apasih bullying itu, mungkin kita sering denger kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Arti kata bully atau bullying yang merujuk pada kamus bahasa Indonesia ke bahsa Inggris adalah rundung atau perundungan. Kata perundungan mungkin jarang terdengar dan jarang sekali digunakan oleh kita dalam kehidupan sehari-hari,  Perundungan merupakan suatu perlakuan kasar, mengganggu, mengusik secara terus-menerus dan juga menyusahkan. 

Perundungan atau yang lebih dikenal dengan bullying ini biasanya dilakukan untuk mempersepsikan dirinya lebih kuat. Dengan maksud mengerjai, membahayakan korban secara fisik, mental atau emosional melalui pelecehan dan penyerangan terhadap seseorang untuk mempermalukan orang lain.

Tak sedikit kasus bullying di Tanah Air yang menimbulkan trauma, luka, bahkan hingga merenggut nyawa seseorang . Kebiasaan buruk itu tentu akan merugikan orang lain jika tidak segera ditangani dengan baik.

Bahkan kasus bullying di tahun ini meningkat begitu pesat, dari berbagai media yang saya baca ada sekitar 84 persen. Bullying ataupun kekerasan lainnya terjadi pada anak usia 12 tahun hingga 17 tahun. Pada tahun 2014 mengalami kenaikan, dan pada tahun 2014 kasus tersebut meningkat, sementara pada tahun 2015 dan 2016 mengalami penurunan, di sayangkan pada tahun ini (2017) mengalami kenaikan kembali. Sejak Januari hingga Juli tercatat 976 pengaduan dan 17 adalah kasus bullying.

Bullying bisa terjadi dimana pun, dari mulai anak TK, SD, SMP, bahkan di Universitas, di lingkungan rumah pun bisa saja terjadi. Di dalam sekolah maupun di kampus sering terjadi. Mungkin akibat sistem pendidikan yang kurang baik an kurangnya pengawasan oleh pihak sekolah, univeristas maupun pemerintah. Padahal sistem bisa driubah. Kenapa tidak ? Di sinilah peran sekolah, universitas dan pemerintah sangat penting. Karena di sekolah maupun di universitas yang mengetahui kegiatan hanyalah para kepala sekolah, guru, rektor, dosen dan jajarannya.

Mereka seharusnya mengawasi, mengontrol, menyediakan apa saja di butuhkan para siswa, mahasiswa terkait kegiatan apa saja yang di lakukan dari pihak sekolah, universitas yang intra maupun ekstra. Peran orang  tua juga sangat penting  pada saat tahun ajaran baru akan berlangsung sangat. Karena di awal tahun inilah kegiatan pertama siswa atau mahasiswa biasanya dilaksanakan yaitu masa orientasi siswa. Bahkan bukan hanya kegiatan saja, biasanya di kelas semisal ada satu orang yang tingkahnya aneh (difabel) mereka juga sering dibully bahkan secara fisik.

Hal pertama yang harus di perhatikan pastikan dari kepala sekolah adalah tidak ada kegiatan yang mengarah terhadap kekerasan maupun tindak kejahatan lainnya terhadap peserta orientasi mapun temannya. Untuk itu, kepala sekolah dan guru-guru mengawasi program yang dilakukan anak-anak OSIS maupun senior-seniornya di kampus kepada junior-juniornya kelas.

Hal kedua adalah segala pernak-pernik yang dibawa anak-anak. Perihal tujuan, alasan, dan hukuman jika tidak membawa. Semisal, anak-anak diwajibkan menggunakan tas dari kantong keresek, topi dari kertas karton, tali sepatu dari tali rapia? Menurut saya itu kurang mendidik, karena kita dateng ke sekolah maupun kampus itu niatnya bukan untuk disuruh membawa hal-hal yang kurang berguna tersebut. Kita juga bukan orang-orang seperti pengemis, pengamen diluar sana. Kita kan siswa maupun mahasiswa yang berpendidikan, setidaknya dalam hal pakaian lebih rapih dan sopan.

Satu sisi ketika terjadi hal pembullyan jawaban dari pihal kepala sekolah maupun pihak kampus adalah pasti untuk kesamaan dan kesederhanaan dan selalu tidak tahu menau atas apa yang terjadi. Tapi di sisi lain, inilah waktu yang tepat melihat kepedulian sekolah terhadap lingkungan sekitar.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk menghentikan bully adalah memperbaiki kuantitas dan kualitas komunikasi antara siswa, guru, manajemen sekolah, rektor, dosen dan jajarannya serta mahasiswa dan orang tua, dan bahkan komunikasi yang terjadi antara mereka yang terkait. Jika ini berlangsung baik, maka diharapkan tidak ada lagi agenda tersembunyi yang dilakukan senior terhadap juniornya termasuk di luar sekolah. Orang tua bisa juga memberitahukan anaknya kepada siapa dia harus mengadu jika bully ternyata diterimanya di sekolah. Komunikasi menjadi penguat yang penting bagi anak untuk bisa menghentikan bully. Orang tua juga harus tegas kepada anaknya, harus peka terhadap apa yang terjai pada anaknya, mengontrol anaknya dimanapun ia berada.

Maka dari itu, seharusnya semua pihak harus memperhatikan dengan baik, kegiatan apa saja yang ada di sekolah, di kampus dan dimana saja. Karena hal tersebut tak dapat di pungkiri oleh siapapun.

Nadiya Afidhah, Mahasiswa KPI UIN SGD Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Incsomnia Project