Tingkatkan Kualitas Ibadah, Ustaz Enceng Sutisna Ajak Jamaah Pahami Rukun Fiqih

Klik untuk membaca artikel.

 

Dakwahpos.com, Bandung – Ustaz Enceng Sutisna menyampaikan materi pengajian subuh mengenai pentingnya pemahaman rukun serta tata cara niat salat yang benar menurut kajian kitab Fiqih di Masjid Al-Muhajirin Palasari, Senin (21/09/2026). 

Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa pengajian fiqih salat ini bertujuan untuk mengingat kembali serta memperdalam pemahaman ibadah. Beliau merujuk pada beberapa kitab keagamaan seperti Fathul Mu'in, Bidayatul Hidayah, dan At-Takriratus Sadidah. 

"Fungsi sim abdi mung sekedar wasilatul khoir minal ghoir ila khoir, ngadugikeun kasaean tentang salat. Mengaji agama itu harus ada gurunya, karena kalau tanpa guru bisa berbahaya dan pendapatnya tidak jelas," ujarnya. 

Selanjutnya, ia memaparkan mengenai perbedaan pendapat para ulama terkait rukun salat. Sebagian ulama menyebutkan rukun salat ada 13, 14, hingga 17, termasuk di antaranya adalah syarat khusyuk dan melaksanakannya di masjid. 

"Upami urang bumina caket masjid bari teu aya halangan, maka lebih utama salat itu di masjid. Namun, jika di masjid tidak bisa khusyuk karena ada gangguan, ada pendapat ulama yang memperbolehkan mencari tempat yang bisa membuat khusyuk," ujarnya. 

Beliau juga mengingatkan seluruh jamaah dan pengurus DKM agar senantiasa saling menjaga kenyamanan bersama saat berada di masjid. Hal-hal kecil seperti bau badan, pakaian bergambar yang mencolok, atau teguran imam yang kurang fleksibel bisa mengganggu fokus ibadah jamaah lain. 

"Maka ciptakan masjid ini supaya kita masing-masing bisa khusyuk. Kedah dirapikan dan ditutup hatinya dari hal-hal yang matak ngaganggu dina nalika engke parantos takbiratul ihram," ujarnya. 

Lebih lanjut, Ustaz Enceng Sutisna menguraikan pembagian rukun salat yang terdiri dari qauliyah (ucapan), fi'liyah (gerakan), maknawi (tertib), dan qolbiyah (hati/niat). Ia menyoroti tiga komponen utama dalam niat salat fardhu, yaitu qosdun (menyengaja), ta'yin (menentukan salatnya), dan ta'arud/fardhiyah (menegaskan status hukum fardunya). 

"Dina salat wajib kedah kumpul anu tilu eta dina hate nalika takbiratul ihram. Lamun teu kumpul, teu sah niatna menurut ukuran fiqih," ujarnya. 

Di akhir ceramahnya, beliau mengajak jamaah untuk terus belajar agar tidak tergolong ke dalam kelompok orang awam yang tidak mau menuntut ilmu. Beliau berharap kajian rutin ini dapat memberikan manfaat nyata bagi perbaikan kualitas salat jamaah sehari-hari. 

"Mudah-mudahan urang mah kalebetkeun kana jahil mahdur, nyaeta jalmi awam tapi dihampura ku Allah subhanahu wa ta'ala kusabab kersa ngapalkeun sareng ngaderes ibadah salat," ujarnya sekaligus mengakhiri pengajian subuh itu. 

Reporter: Tasya Ainurrahmah, KPI/3D

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos