Kiai Syamsudin Ajak Jemaah Jumat Tinggalkan Keinginan Dipuji

Klik untuk membaca artikel.

 

Dakwahpos.com, Bandung - Khutbah Jumat berlangsung khidmat di Masjid Jami Syarief Hidayatullah (Syahida), Bandung, pada Jumat (11/09/2026). Khutbah yang disampaikan oleh Kiai Syamsudin, M.Ag. tersebut mengajak para jemaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. serta meninggalkan kebiasaan mengharapkan pujian dan penghormatan dari orang lain. Dalam khutbahnya, Kiai Syamsudin membahas makna Alhamdulillahi rabbil ‘alamin sebagai pengingat bahwa segala pujian pada hakikatnya hanya milik Allah Swt. Pesan tersebut disampaikan untuk mengingatkan umat Islam agar senantiasa berbuat baik dengan ikhlas tanpa menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama.

Kiai Syamsudin mengawali khutbah dengan mengingatkan jemaah mengenai berbagai nikmat yang masih diberikan Allah Swt., seperti nikmat usia, kesehatan, kekuatan, kemampuan, serta kemauan untuk melaksanakan ibadah. Menurutnya, seluruh nikmat tersebut seharusnya menjadi dorongan bagi umat Islam untuk terus meningkatkan amal dan ketakwaan. Selain itu, ia menyampaikan bahwa manusia perlu memahami makna Alhamdulillahi rabbil ‘alamin agar tidak mudah terjebak dalam keinginan untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Hal tersebut menjadi pembahasan yang kemudian disampaikan dalam khutbah mengenai pentingnya keikhlasan dalam berbuat baik.

Dalam khutbahnya, Kiai Syamsudin menjelaskan bahwa kalimat Alhamdulillahi rabbil ‘alamin mengandung makna bahwa segala pujian pada hakikatnya hanya milik Allah Swt. Manusia sering kali mendapatkan berbagai nikmat dalam kehidupannya, tetapi terkadang lupa bahwa nikmat tersebut berasal dari Allah Swt. Oleh karena itu, rasa syukur seharusnya diwujudkan dengan meningkatkan ibadah dan melakukan berbagai kebaikan.

Kiai Syamsudin juga menjelaskan bahwa manusia sering terjebak dalam keinginan untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Keinginan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti ingin dipuji karena penampilan, tulisan, amal, maupun pemberian yang dilakukan kepada orang lain. Menurutnya, kebiasaan menjadikan pujian sebagai tujuan dapat membuat seseorang merasa gelisah dan sulit memperoleh ketenangan dalam kehidupan.

“Wajah kita bagus, ingin disebut bagus. Tulisan kita bagus, ingin disebut bagus. Amaliah kita bagus, ingin juga disebut bagus. Maka orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tidak akan mendapatkan kebahagiaan,” tutur Kiai Syamsudin di hadapan para Jemaah.

Ia kemudian mengingatkan bahwa manusia seharusnya tidak menjadikan penghargaan dari orang lain sebagai ukuran utama dalam melakukan kebaikan. Sebaliknya, manusia dianjurkan untuk menghargai, menghormati, dan memuliakan orang lain tanpa terus menuntut perlakuan yang sama kepada dirinya. Menurutnya, seseorang yang ingin menjadi pribadi terpuji tidak perlu sibuk mengejar pujian. Hal yang lebih penting adalah terus melakukan kebaikan dengan niat yang benar.

Kiai Syamsudin juga menyampaikan ungkapan dalam bahasa Sunda, “Tong jadi jalma nu hayang dipuji,” dalam bahasa Indonesia berarti “Jangan jadi orang yang ingin dipuji,” sebagai nasihat agar seseorang tidak menjadi pribadi yang selalu mengharapkan pujian atas setiap kebaikan yang dilakukannya.

“Jika kita ingin menjadi orang yang terpuji, terpuji baik di hadapan manusia ataupun di hadapan Allah Swt., cukup saja satu, berbuat baik. Tanpa berharap pun pasti kita akan menjadi orang yang terpuji,” jelasnya.

Selain membahas tentang pujian, Kiai Syamsudin menekankan pentingnya keikhlasan dalam setiap amal. Menurutnya, setiap perbuatan yang dilakukan dengan menyebut nama Allah Swt. harus diarahkan semata-mata untuk mendapatkan rida-Nya, bukan untuk memperoleh sanjungan dari manusia. Ia mengajak jemaah untuk memperbanyak membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil serta meningkatkan amal kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Kiai Syamsudin, orang yang berbuat baik belum tentu selalu mendapatkan pujian dari manusia. Namun, hal tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti melakukan kebaikan. Nilai suatu amal tidak ditentukan oleh banyaknya pujian yang diterima, melainkan oleh keikhlasan dan niat seseorang dalam melakukannya.
“Yakin, orang yang berbuat baik pasti terpuji. Akan tetapi, tidak semua orang yang berbuat baik akan dipuji oleh manusia yang lain,” ungkapnya.

Dapat disimpulkan bahwa makna Alhamdulillahi rabbil ‘alamin tidak hanya mengajarkan manusia untuk mengucapkan syukur kepada Allah Swt., tetapi juga mengingatkan bahwa segala pujian pada hakikatnya adalah milik-Nya. Oleh karena itu, manusia seharusnya tidak menjadikan pujian dan penghargaan dari orang lain sebagai tujuan utama dalam melakukan kebaikan. Berbuat baik dengan ikhlas menjadi salah satu bentuk ketakwaan yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan yang disampaikan Kiai Syamsudin sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Di tengah lingkungan sosial yang sering memberikan perhatian terhadap penampilan, pencapaian, dan pengakuan orang lain, seseorang dapat dengan mudah terjebak dalam keinginan untuk mendapatkan pujian. Padahal, terlalu bergantung pada penilaian manusia dapat membuat seseorang kecewa ketika kebaikan yang dilakukannya tidak mendapatkan penghargaan.

Nasihat untuk tidak menjadi pribadi yang selalu mengharapkan pujian merupakan pengingat yang penting. Berbuat baik seharusnya dilakukan karena kesadaran dan keikhlasan, bukan semata-mata agar mendapatkan pengakuan dari orang lain. Ketika seseorang mampu melakukan kebaikan tanpa menunggu pujian, ia akan lebih mudah menjaga keikhlasan dan ketenangan dalam menjalani kehidupan.

Pada akhirnya, khutbah tersebut mengingatkan para jemaah bahwa ketakwaan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah, tetapi juga tercermin dalam seluruh aktivitas kehidupan. Pikiran, ucapan, penglihatan, pendengaran, hingga perbuatan hendaknya diarahkan pada hal-hal yang diridai Allah Swt. Dengan membiasakan diri berbuat baik tanpa mengharapkan pujian, seseorang dapat belajar menjadi pribadi yang lebih ikhlas dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt.

Reporter: Zanwar Abdul Muhsin Hidayat / KPI 3.A


Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos