Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gas Air Mata Timbulkan Air Mata Keluarga

Sabtu, 24 Desember 2022 | Desember 24, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-12-24T11:56:51Z

Oleh Dwi Rahayu Prihatin

            Tragedi Kanjuruhan adalah insiden saling injak yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, pada tanggal 1 Oktober 2022. Tragedi ini menjadi musibah sepak bola yang terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia dan Asia, dan menjadi yang kedua dalam sejarah sepak bola dunia.

Pertandingan sepak bola dimulai pada pukul 20.00 wib dengan jumlah penonton diperkirakan sebanyak 40.000 orang. Pertandingan sepak bola antara Arema dan Persebaya berjalan lancar dengan semestinya, kedua tim bertanding dengan baik dan saling mengejar skor untuk memenangkan pertandingan. Disimpulkan bahwa selama pertandingan berlangsung situasi aman, tanpa insiden apapun.

            Setelah pertandingan selesai yang diberi tanda dengan tiupan pluit yang panjang, ada dua orang dari fans club Arema atau biasa disebut Aremania turun ke lapangan untuk bertemu dengan pemain Arema FC. Awalnya tidak disetujui oleh petugas, tapi karena paksaan yang terus menerus akhirnya mereka diperbolehkan untuk turun ke lapangan. Hal itu menjadi pemicu terjadinya kerusuhan dan saling bentrok antar supporter.

            Polisi yang menjaga keamanan melihat banyaknya supporter yang turun ke lapangan, ingin membubarkan kerusuhan tersebut dengan menembakkan gas air mata. Namun, gas air mata itu mengarah pada supporter yang berada di tribun, yang artinya mereka tidak ikut turun ke lapangan seperti yang lain. Karena gas air mata tersebut, membuat para supporter panik dan semakin ricuh karena ingin menyelamatkan diri sendiri dan keluarga.

            Gas air mata yang ditembak oleh tiga orang polisi tersebut membuat semua orang berhambur untuk mencari jalan keluar, dan pada saat itu jalan keluar yang seharusnya terbuka karena pertandingan telah usai, tetapi ternyata terhalang oleh tiang hingga membuat semua orang terinjak dan sesak. Tindakan polisi seharusnya memisahkan massa yang terdapat dilapangan terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan besar yang membuat semua orang terkena imbasnya.

Penembakkan gas air mata kearah tribun juga menjadi kesalahan karena kerusuhan terjadi di lapangan bukan di tribun yang masih dipenuhi oleh supporter. Kejadian ini membuat banyak orang kecewa dengan sepak bola Indonesia juga dengan etos kerja polisi yang dianggap terlalu frontal. Kekecewaan terbesar dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan, akibat kejadian itu banyak memakan korban yang meninggal dan terluka. 

×
Berita Terbaru Update