Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Seasonal Affective Disorder Saat Pancaroba

Jumat, 17 Desember 2021 | Desember 17, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-12-17T13:32:15Z

Seperti  yang kita ketahui, musim yang ada di Indonesia terbagi menjadi 2 jenis, musim Kemarau dan musim hujan. Musim Pancaroba adalah Peralihan dari kedua musim tersebut, yang biasanya ditandai dengan adanya cuaca ekstrim dan hujan lebat yang mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit.

Bagi sebagian orang, pergantian musim atau musim pancaroba bisa memicu perubahan mood. Dikutip dari Mayo Clinic, kondisi ini ternyata salah satu bentuk depresi yang disebut Seasonal Affective Disorder (SAD).

SAD seperti menghisap seluruh energi, sehingga pasiennya mudah mengalami perubahan mood. (SAD) merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan episodik depresi yang terjadi secara musiman dan berulang. Selain depresi, SAD juga bisa menggambarkan keluhan afektif lainnya. Misalnya mania atau hipomania, yang terjadi musiman.

Sering kali, keadaan ini muncul pada bulan-bulan di mana paparan sinar matahari berkurang. Misalnya saat musim gugur atau musim dingin dan membaik kembali saat musim semi tiba. Meski demikian, keadaan ini juga dapat ditemukan saat musim panas, di mana paparan sinar matahari cukup banyak –walaupun kasus ini cukup jarang.

Penyebab SAD belum dapat dipahami sepenuhnya. Diperkirakan, terdapat berbagai faktor yang turut berkontribusi terhadap kemunculan SAD. Beberapa di antaranya adalah faktor psikologi, genetik, dan lingkungan.

Perubahan musim dapat menyebabkan kurangnya paparan sinar matahari, di mana malam hari menjadi lebih lama dan siang hari lebih pendek. Hal ini bisa memengaruhi ritme sirkadian manusia yang kemudian berpengaruh terhadap timbulnya SAD. Selanjutnya, penyimpangan dari ritme sirkadian ini dapat memengaruhi produksi hormon melatonin dalam tubuh. Hormon ini berpengaruh terhadap pola tidur dan mood seseorang.

Pendapat lain menyatakan bahwa kekurangan vitamin D juga berkontribusi terhadap munculnya SAD. Vitamin D turut berpengaruh terhadap produksi neurotransmitter serotonin, yang memiliki pengaruh terhadap mood.

Mahasiswa KPI Semester 3 UIN Bandung

 

×
Berita Terbaru Update