Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perlunya Milenial Bertoleransi di Dunia Maya

Sabtu, 11 Desember 2021 | Desember 11, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-12-11T01:16:18Z

Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki semboyan "Bhineka Tunggal Ika", walaupun berbeda-beda namun kita tetap satu jua. Keanekaragaman suku, agama, ras, dan kebudayaan adalah anugerah yang diberikan Tuhan untuk negara Indonesia yang wajib kita syukuri sebagai bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, kita harus menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan Indonesia.

Toleransi menurut Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ("UUD 1945"): "Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali."

Dengan harapan ruh "Bhinneka tunggal Ika" pun masyarakat Indonesia masih belum kompeten dalam menghayati dan mengamalkan sikap toleransi ini. Selain perbedaan dalam agama, ras, suku, dan kebudayaan, di sosial media pun masyarakat masih belum bersikap toleransi terhadap sesamanya salah satu contohnya dalam bahasa yang umum digunakan oleh anak muda zaman sekarang yaitu julid/nyinyir.

Sikap tersebut di sosial media sangat tidak asing lagi, karena memang disosial media pun setiap orangnya memiliki perbedaan karakteristik, dan mereka cenderung lebih berani dalam berucap hal tersebut.

Misal ketika di sosial media ada seseorang yang mempublish tentang suatu hal, pasti ada saja beberapa orang yang berkomentar negatif namun ada pula yang berkomentar positif. Hal ini dikerenakan hanya perbedaan pendapat dari setiap orangnya, sehingga mereka berani berkomentar negatif dengan bersikap julid/nyinyir.

Padahal walau berbeda persepsi dari setiap individu, kita sangat perlu menanamkan rasa empati untuk menjaga toleransi antar sesama makhluk dan sesama generasi muda Indonesia yang menjadi gerbang Indonesia menuju lebih baik.

Untuk itu perlunya rasa tenggang rasa dan empati untuk menghindari nyinyir/julid dalam diri, karena hal tersebut bisa jadi menyakiti hati seseorang yang diberi komentar buruk tersebut atau kepada suatu kelompok lainnya.

Menjaga ucapan di sosial media sama halnya dengan menjaga diri sendiri dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan, karena dizaman sekarang apabila kita menyakiti seseorang walaupun melalui tulisan di sosial media, bisa dilaporkan ke pihak yang berwajib. Maka dari itu mari kita sama-sama saling meningkatkan kualitas diri dengan tidak mencaci orang lain, apabila ada yang tidak sependapat dengan kita, janganlah di caci, cukup diam saja atau berkomentar pun yang tidak membuat pihak lain tidak merasa dirugikan.

Oleh: Wafiq Nur Agniati.

Mahasiswa KPI III D, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

×
Berita Terbaru Update