Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Karantina Bikin Males Ngurus Badan

Selasa, 21 Desember 2021 | Desember 21, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-12-21T03:28:39Z

Selama masa karantina, hidup terkesan jadi enggak ada aturan. Waktu yang terjadwal di hari-hari sebelum pandemi, secara tiba-tiba juga tidak beraturan. Mulai dari jam kerja, tidur, sampai makan sekali pun. Kita bisa saja meeting dengan teman kerja sambil rebahan, masak kue, atau bahkan mandi. Sampai pada akhirnya kita menyadari, kalau kita tidak harus mematuhi sebagian besar norma sosial yang berlaku dalam suatu lingkungan masyarakat. Dan mandi adalah satu dari sekian banyak norma tersebut.

Hari demi hari datang silih berganti, tapi kondisi masih dalam isolasi. Di rumah aja. Enggak ada tuh, yang namanya motivasi buat mandi. Dan kalau aja kita tidak berolahraga atau pergi keluar, makin kuat deh alasan kita buat bilang: "Kayaknya ndak perlu mandi sesering sebelum karantina".

Gue termasuk orang yang jarang mandi selama karantina. Apalagi menurut Centers for Disease Control (CDC), virus baru akan menyebar kalau kita melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi, terutama melalui tetesan cairan pernapasan yang keluar ketika orang tersebut batuk, bersin, atau bahkan berbicara. Jadi semakin jarang kita pergi ke luar rumah dan interaksi sama orang, semakin kecil pula kemungkinan kita tertular. Tapi walau bagaimana pun juga, mandi adalah kegiatan 'eskapisme' yang menghasilkan perasaan nyaman karena sudah terlihat lebih bersih dibanding sebelumnya, setidaknya bagi sebagian orang.

Karantina bikin kita enggak kemana-mana. Enggak ketemu keringat pas desek-desekan di dalam kereta, polusi pas naik ojek online, atau variabel-variabel lain yang bisa bikin kita jadi bau. Makanya, banyak dari kita yang memilih buat enggak mandi sesering pas masih work from office. Jangan terlena dulu cuma karena enggak kemana-mana, bukan berarti kita bisa tetap bersih tanpa harus mandi.

Salah satu perubahan paling terasa sebelum dan sesudah karantina, mau enggak mau, kamar jadi bau. Penyebabnya mudah ditebak: kita tidak pernah meninggalkan rumah, kita menghabiskan sebagian besar hari pakai baju tidur, mandi lebih sedikit, plus kebanyakan nyemil bikin banyak sampah pilus nyempil di sela-sela lemari. Tapi lama kelamaan bau itu menjadi biasa dan kita tidak menganggap itu menjadi sesuatu yang mengganggu.

Lupakan bau kamar dan bau badan, mari cari solusi. Apakah ada alasan praktis untuk menentukan jumlah intensitas mandi yang ideal untuk situasi seperti sekarang ini? Apakah seharusnya cuci tangan saja yang lebih sering daripada mandi?

Perlu diketahui bahwa: Pertama, kita tidak bisa tertular virus corona jika kita (dan orang yang tinggal bersama kita) tidak pergi keluar. Sesederhana itu. Mandi cuma jadi opsional dalam hal itu. Artinya mandi sedikit mengubah keadaan dengan jadi kegiatan wajib yang harus dilakukan jika kita terpaksa harus pergi keluar rumah. Lantas air yang digunakan haruskah yang panas agar virus-virus mati?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mandi air panas atau apa pun sebelum keluar rumah tidak akan berdampak pada pencegahan penyebaran Covid-19. Ada beberapa spekulasi bahwa mandi air panas sebelum pergi akan meningkatkan kekebalan atau dapat membunuh bakteri, tetapi itu tidak benar, jadi tidak ada kebutuhan terkait virus corona untuk mandi sebelum meninggalkan rumah.

Namun, mandi di rumah saat pulang dari luar adalah ide yang bagus. Mandi dengan sabun dan air akan menghilangkan bakteri dari kulit dengan cara yang sama seperti mencuci tangan. Virus hanya dapat ditularkan melalui mata, hidung, dan mulut. Studi yang dilakukan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) juga merekomendasikan agar kita mencuci pakaian atau menaruh mantel dan sepatu di bawah sinar matahari usai keluar rumah.

Tetapi mandi juga berdampak pada aspek lain dalam kesehatan. Mandi terlalu sering, terutama dengan sabun dan air panas, bisa jadi pemicu kulit kering. Hal tersebut tidak hanya menyakitkan dan gatal, tetapi juga dapat mengakibatkan penyakit kulit seperti psoriasis atau eksim. Sedangkan tidak mandi juga dapat memiliki efek yang sama dan menyebabkan penyakit seperti dermatitis neglecta, yang disebabkan oleh penumpukan sel kulit mati. Ini biasanya jika lebih dari seminggu tidak mandi.

Pada akhirnya terserah kalian (dan mungkin orang-orang yang berbagi ruang dengan kalian) seberapa sering harus mandi untuk menjaga kulit agar nyaman. Jika merasa perlu mandi beberapa kali sehari, itu adalah pilihan kalian. Semakin sering mandi, kulit akan semakin lembab dan tidak kering. Ini merupakan masalah preferensi dan seberapa aware seseorang dengan kebersihan diri tanpa dilihat oleh orang lain. Kita semua terpaku pada kenyataan bahwa tidak ada yang bisa mencium bau melalui webcam.

Muhammad Ramadhani

Mahasiswa KPI UIN

Sunan Gunung Djati

Bandung, Jawa Barat

×
Berita Terbaru Update