Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bencana Alam dan Squid Game

Selasa, 21 Desember 2021 | Desember 21, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-12-21T03:27:18Z

Meski sudah tiga tahun berlalu. Gempa Donggala dan tsunami Palu yang terjadi 28 September 2018 silam masih membekas dalam ingatan. Lebih dari 2.000 orang meninggal akibat bencana yang disebut dalam Nature Geoscience dan Frontiers in Earth Science sebagai gempa Supershear.

Sebuah jenis gempa bumi langka, yakni kecepatan rekahannya melebihi kecepatan gelombang geser seismik dan menyebabkan ledakan sonik. Gempa bumi jenis ini juga, yang kemudian dituduh sebagai dalang bencana yang melanda San Francisco pada 1906 dan menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Banyak ilmuwan dunia yang penasaran dengan fenomena yang terjadi di Palu, lalu berlomba-lomba mengkajinya secara ilmiah. Alasannya, gempa dengan magnitudo 7.4 tersebut tidak hanya membangkitkan tsunami, tapi juga memunculkan fenomena likuefaksi di Petobo dan Balaroa, Palu.

Hasilnya, Persatuan Ahli Geofisika Amerika di Washington DC pada Desember 2018 menyebut, telah menemukan adanya penurunan signifikan di dasar laut. Temuan ini didapat dari survei di pesisir pantai kota Palu. Penurunan inilah yang diyakini ikut menyebabkan air bergerak secara tiba-tiba yang kemudian menerjang daratan.

Penemuan lainnya menunjukkan adanya beberapa longsor bawah laut yang kemungkinan besar juga menjadi penyebab hantaman gelombang tsunami. BMKG sendiri, mengidentifikasi gempa dan tsunami yang terjadi di Palu akibat adanya patahan aktif Palu Koro dengan mekanisme pergerakan mendatar mengiri (sinistral strike-slip) yang memicu longsor laut pembangkit tsunami.

Sejarah mencatat bencana alam tsunami nontektonik yang menelan korban jiwa sangat besar pernah terjadi sekitar 8 kali, yaitu tsunami G Gamkonora (1673), tsunami G Gamalama (1763), tsunami G Gamalama (1840), tsunami Gunung Awu (1856), tsunami Gunung Ruang (1871), lalu tsunami G Krakatau (1883), tsunami G Rokatenda (1928), dan tsunami Waiteba NTT akibat longsor tebing pantai (1979).

BMKG bersama Kementerian/Lembaga terkait, saat ini tengah berupaya melakukan penyempurnaan, dan pengembangan lanjut Sistem Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami (InaTEWS). Penyempurnaan dilakukan berbasis kajian ilmiah dan keilmuan dengan terus berkejaran dengan waktu. Menjadi pekerjaan rumah berat, mengingat hingga saat ini belum ada satupun negara yang memiliki pemodelan dan teknologi peringatan dini yang cepat, tepat dan akurat untuk tsunami yang dibangkitkan oleh aktivitas nontektonik.

Tidak berkecil hati, BMKG lalu mengubah materi sosialisasi dalam mengedukasi masyarakat, khususnya yang bertempat tinggal disepanjang pesisir pantai rawan tsunami. Pesan sederhananya, jika merasakan guncangan gempa, segera lari menjauhi pantai menuju tempat tinggi, tanpa perlu menunggu peringatan dini atau sirine. Perkara terjadi tsunami atau tidak itu urusan belakangan, yang penting menyelamatkan diri terlebih dulu.

Pesan ini sekaligus sebagai upaya kita dalam membangun budaya selamat, dengan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk melakukan evakuasi mandiri. Konsep evakuasi mandiri ini akan sangat efektif dalam melindungi warga masyarakat pesisir dari tsunami, seperti yang telah terjadi di masyarakat Jepang, Aceh, dan Nias.

Hal lain, yang tidak kalah penting adalah, membangun infrastruktur jaringan komunikasi yang andal. Yang tidak tumbang saat bencana menerjang. Yang tidak lumpuh, saat bencana bertalu-talu. Tidak hanya vital dalam menyebarluaskan pesan peringatan dini, tetapi jaringan komunikasi juga vital dalam bencana. Baik bagi posko bencana, relawan dalam mengatur koordinasi dan logistik, dan komunikasi pengungsi dengan keluarga.

Tidak ada yang dapat memprediksi kapan gempa bumi dan tsunami akan terjadi, namun dengan keterlibatan semua pihak penta-helix (Pemerintah Pusat dan Daerah, Masyarakat, Akademisi, Swasta dan peran Media) edukasi yang menyeluruh, literasi yang tidak setengahsetengah, dan mitigasi yang kuat, maka Indonesia dapat hidup harmonis berdampingan dengan bencana. Ibarat Squid Game, Indonesia saat ini tengah berlomba dengan waktu, yakni setiap detiknya begitu berharga.

Muhammad Ramadhani

Mahasiswa KPI UIN

Sunan Gunung Djati

Bandung, Jawa Barat

×
Berita Terbaru Update