Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Belajar Berkomunikasi Melalui Media

Sabtu, 11 Desember 2021 | Desember 11, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-12-11T16:48:11Z

Kehadiran media sosial di tengah kemajuan teknologi informasi seolah menjadi potret kecanggihan manusia modern dalam menciptakan layanan inovatif yang bermanfaat bagi kelancaran relasi diantara individu manusia di berbagai belahan dunia. Pemanfaatan media sosial dalam konteks masa kini merupakan instrumen penting untuk mempermudah interaksi dan jaringan dalam berbagai aspek kehidupan. Manusia modern sekarang ini seolah tidak bisa lepas dari media sosial yang dipergunakan untuk berbagai kepentingan, baik kepentingan bisnis, media aspirasi, kritik, maupun kepentingan politik demi memperoleh dukungan dari rakyat.

Melalui media sosial, manusia dengan mudah berkomunikasi dengan sejawatnya tanpa hambatan apa pun. Bisa dikatakan, bahwa saat ini umat manusia telah sampai pada penjajahan global (global colonizing), sebuah petualangan jagat alam raya maya yang melampaui realitas. Dari kemajuan inilah, muncul berbagai harapan, euforia, dan optimisme dalam menyambut datangnya sebuah era baru (new age) yang tidak terbungkus oleh sekat-sekat geografis, ideologis, dan batasan-batasan normatif-etis dalam menjelajahi dunia realitas.
Fenomena merebaknya media sosial ini, oleh Erich Fromm (1977), disebut dengan hiperrealitas (hyperreality) atau sebuah realitas virtual (virtual reality).

 Perkembangan media sosial telah memungkinkan manusia hidup dalam dunia yang disebut  "desa global" (global village), sebuah dunia yang tak lebih besar dari layar kaca atau sebuah disket dengan perangkat lunaknya yang mampu mengkalkulasi, memproduksi, dan me-replay segala bentuk komunikasi media yang digunakan. Realitas virtual inilah, yang akan memberikan jaminan yang lebih dari sekadar "nihilisme" atau "realitas kosong" (vacum reality) untuk memenuhi hasrat utilitarian manusia. Utilitarianisme adalah suatu sikap yang menunjukkan bahwa kebenaran dan kesalahan ditentukan oleh banyaknya kesenangan dan ketidaksenangan yang diakibatkannya. (Astar Hadi, 2005).


Resta Komalasari
Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
×
Berita Terbaru Update