Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemerintah Desa Tunggulpayung Adakan Adat Desa Sedekah Bumi

Minggu, 24 Oktober 2021 | Oktober 24, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-10-24T05:49:23Z

Dakwahpos.com, Indramayu- Pemerintah Desa Tunggulpayung Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu mengadakan kegiatan Adat Desa Sedekah Bumi, Rabu (20/10/2021). Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Tunggulpayung Blok Sukanta, Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Suwarno, Ketua pelaksana Adat Desa Sedekah Bumi Suwarno mengatakan pelaksanaan dari Adat Desa Sedekah Bumi yaitu menjelang musim tanam atau setelah musim panen, bentuk kegiatan Adat Desa Sedekah Bumi adalah berdoa bersama-sama, bersedekah berupa nasi tumpeng dan ayam bekakak dan Nguras Sumur Candi peninggalan leluhur.

"Kegiatan ini namanya Adat Desa Sedekah Bumi, kegiatannya dilaksanakan pada awal musim bercocok tanam, adapun kegiatannya meliputi berdoa bersama, bersedekah nasi tumpeng dan ayam bebakak dan Nguras Sumur Candi peninggalan leluhur," kata Suwarno.

H. Muslimin selaku Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Tunggulpayung mengatakan kegiatan Adat Desa Sedekah Bumi ini merupakan adat yang terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Tunggulpayung, berdasarkan adat yang diyakini oleh masyarakat setempat, setiap tahunnya pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu dan selalu bertempat ditengah-tengah sawah milik warga yang baru selesai dipanen.

"Kegiatan Adat Desa Sedekah Bumi ini selalu dilaksanakan setiap tahunnya di hari Rabu, penetapan hari pelaksanaan kegiatan ini berdasarkan adat dari leluhur, selain itu juga pelaksanaan kegiatan ini selalu ditengah-tengah sawah milik warga yang selesai dipanen," kata H. Muslimin.

Pelaksanaan kegiatan Adat Desa Sedekah Bumi ini sudah dipersiapkan secara matang oleh penyelenggara yaitu pemerintah Desa Tunggulpayung dengan melakukan sosialisasi kegiatan melalui pengeras suara di masjid-masjid Desa Tunggulpayung.

"Untuk sosialisasinya, dari pemerintah Desa Tunggulpayung mensosialisasikan kegiatan Adat Desa Sedekah Bumi ini lewat pengeras suara masjid yang ada di Desa Tunggulpayung," ujarnya.

Suwarno mengakatan susunan acara dan teknis kegiatan Adat Desa Sedekah Bumi ini meliputi sambutan dari sesepuh Desa Tunggulpayung dan sambutan Kepala Desa Tunggulpayung, kemudian disambung dengan tahlil bersama-sama, lalu pengumpulan nasi dan ayam oleh pihak panitia, dan yang terakhir Nguras Sumur Candi peninggalan leluhur.

"Sebenarnya inti dari kegiatannya itu tahlil atau berdoa bersama-sama dan bersedekah berupa nasi dan ayam, nanti dari  panitia akan keliling untuk mengumpulkan nasi dan ayamnya, akan tetapi karena ini acara formal pasti ada sambutan-sambutan terlebih dahulu, setelah itu disambung dengan Nguras Sumur Candi peninggalan leluhur," ujarnya.

Nasi tumpeng dan ayam yang sudah dikumpulkan nantinya akan dibagikan kepada masyarakat yang kurang mampu sebagai bentuk kepedulian dan saling tolong menolong.

"Nantinya nasi tumpeng dan ayam yang sudah dikumpulkan oleh panitia akan disalurkan kepada masyarakat miskin atau kurang mampu, sebagai bentuk kepedulian kepada sesama," ujarnya.

Suwarno mengatakan bahwa Desa Tunggulpayung memiliki 7 Sumur Candi, Nguras Sumur Candi merupakan bentuk syukur masyarakat setempat atas adanya sumber mata air sumur yang digunakan petani dalam bercocok tanam.

"Sumur Candi yang ada di Desa Tunggulpayung ada 7, kegiatan ini dimaksudkan sebagai bentuk syukur mayarakat terhadap adanya sumber mata air yang digunakan dalam bercocok tanam oleh para petani," ujarnya.

Masyarakat Desa Tunggulpayung sangat antusias dalam mengikuti kegiatan Adat Desa Sedekah Bumi, dari keseluruhan masyarakat Desa Tunggulpayung ada sekitar 70% masyarakat yang hadir di acara ini, mayoritas yang hadir adalah Petani.

"Masyarakat Desa Tunggulpayung yang ikut serta dalam kegiatan ini sekitar 70% khususnya para Petani dari keseluruhan masyarakat Desa Tunggulpayung," kata Suwarno.

Suwarno mengatakan bahwa tujuan dari kegiatan Adat Desa Sedekah Bumi ini yaitu untuk bersilaturahmi antar masyarakat, kemudian agar diberikan keselamatan bagi setiap masyarakat, lalu berhasil dalam bercocok tanam dan terhindar dari hal-hal buruk ketika bercocok tanam nanti.

"Biasanya kalo ada kegiatan adat seperti ini masyarakat yang merantau sengaja pulang dengan tujuan kumpul bareng-bareng, selain itu juga masyarakat Desa Tunggulpayung berharap dengan adanya kegiatan ini bisa diberi keselamatan dan berhasil dalam bercocok tanam," ujarnya.

Reporter: Ade Ainur Rohmah, Mahasiswa KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
×
Berita Terbaru Update