Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengambil Nilai Hijrah untuk Hidup Secara Dinamis

Selasa, 26 Oktober 2021 | Oktober 26, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-10-26T02:24:01Z

Dakwahpos.com, Bandung – DKM Ikomah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Melaksanakan kultum di masjid ikomah yang diisi oleh Ustadzah Prof.Hj.Nina Nurmala,Ph.D. Dengan mengangkat tema "Mengambil Nilai Hijrah untuk Hidup Secara Dinamis."

Dalam Kultum Ustadzah Nina Nurmala, mengungkapkan bahwa Nabi Ibrahim AS menentang tunduk pada ayahnya yang meminta untuk menyembah berhala. Tetapi Nabi Ibrahim AS lebih memilih agama Allah SWT. Ini adalah bentuk suatu hijrah dengan meninggalkan jalan yang bertentangan dengan jalan Allah menuju jalan yang lurus yang memang di ridhoi oleh Allah SWT.

Dalam kultum Ustadzah Nina Nurmala juga mengungkapkan lebih lanjut mengenai hijrah .

Mengambil Nilai Hijrah untuk Hidup Secara Dinamis memang sangat penting bagi kita, tentunya dengan mengambil nilai yang benar-benar menguntungkan. Kalimat hijrah ini berarti pindah, lebih jelasnya berpindah dari yang awalnya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat islam menuju ajaran-ajaran sesuai dengan syariat islam. Bisa di katakan juga orang yang melakukan hijrah adalah orang yang mendapatkan hidayah (petunjuk). 

Dalam firman allah swt yang menceritakan sejarah Nabi Ibrahim AS. Yang mana, Nabi ibrahim AS menolak dan menentang ajakan ayahnya untuk menyembah berhala, bahkan cara menentang Nabi Ibrahim AS adalah dengan menghancurkan berhala berhala yang di buat oleh ayahnya sendiri, dan meninggalkan satu patung besar begitu saja, lalu orang-orang yang bertanya siapa yang menhacurkan berhala-berhala ini, Nabi Ibrahim AS menjawab, yang menhacurkan berhala berhala itu adalah patung yang besar itu, yaitu patung yang tidak di hancurkan oleh Nabi Ibrahim AS, sebenarnya pada masalah ini Nabi Ibrahim mengejek terhadap yang nyembah berhala.

Ustadzah Nina Nurmala juga menceritakan kisah maryam dalam al-quran, bahwa islam itu menentang budaya patriarki, yaitu kisah maryam yang mana maryam lahir dari keluarga imron ini berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai anak dan pada akhirnya di kabulkan, Sangking senangnya, keluarga imron bernazar bahwa kalau aku memiliki anak maka aku akan menyerahkan dia hanya untuk menyembah Allah SWT. Tapi dalam sejarah ini ternyata keluarga imron menginginkan anak laki-laki tetapi yang yang lahir malah perempuan, yaitu maryam. Maryam di rawat oleh Nabi Zakaria AS, pada zaman itu anak laki-laki lebih di hargai ketimbang anak perempuan, walaupun demikian Nabi Zakaria AS tetap menghargai anak perempuan (maryam) dan mengizinkan untuk berdoa di masjid. Dalam sejarah ini, membahas suatu hijrah, tidak membandingkan jenis kelamin, bahkan dalam al-quran juga di jelaskan bahwa setiap manusia harus menghargai perempuan.  

Jangan pernah membandinkan satu kelamin lalu melemahkan satu kelamin lagi. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Al-hujurat ayat 13 yang artinya 
"Sesungguhnya yang paling tinggi derajat diantara manusia itu adalah yang paling bertakwa, penjelasannya dalam ayat tersebut tidak di jelaskan bahwa kelamin suatu tolak ukur atas tingginya derajat melainkan yang lebih bertakwa kepada allah swt."

Kesimpulan dari kultum ustadzah nina nurmala ini, bahwasanya hijrah lah ke jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT, Tinggalkan lah ajaran-ajaran yang bertolak belakang dari ajaran islam.
Pelajaran yang dapat diambil dari kesimpulan sejarah Nabi Ibrahim AS itu adalah agar kita menyembah dan menyakini Allah SWT. Tidak Ada tuhan selain Allah. Allah lah yang menciptakan dunia dan seisinya.
Kesimpulan dari cerita yang kedua, yaitu maryam. Bahwa agama islam itu tidak memuliakan hanya satu jenis saja, sejatinya tolak ukur seseorang itu dimuliakan dan ditinggikan derajatnya adalah siapa yang lebih bertakwa kepada Allah SWT.

Reporter:
Hanifah Destiani 
Bandung, Antapani
UIN SGD Bandung
×
Berita Terbaru Update