Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ciri-ciri Orang Munafik, Simak Penjelasannya

Minggu, 24 Oktober 2021 | Oktober 24, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-10-24T16:36:55Z

dakwahpos.com-Bandung, Selain berdusta jika berbicara, mengingkari janji, dan tidak amanah ketika mendapat kepercayaan -sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis shahih-, tanda dan kriteria orang munafik juga banyak disebutkan dalam Al-Qur'an. Salah satunya dalam surat Al-Baqarah ayat 16-18
orang2 munafik itu menyerahkan petunjuk yang dengan nya nabi muhammad saw diutus sebagai biaya/ harga untuk membeli kesesatan
Allah menyampaikan nya dengan menggunakan model transaksi jual beli
jadi untuk menunjukan bahwa ada sesuatu yang berharga yang kemudian ditukar oleh mereka ( orang2 kafir ) atau dijadikan harga untuk memberikan kesesatan jadi seperti di proses jual beli kemudian dia mengganti apa yang hina dengan sesuatu yang lebih baik yaitu petunjuk
perumpamaan orang-orang munafik seperti orang yang menyalakan api , ketika api itu menerangi kemudian allah menghilangkan cahaya itu dan allah meninggalkan mereka di kegelapan yang berlipat ganda
perumpamaan orang- orang munafik itu seperti orang dalam kegelapan yang pekat
banyak sekali perumpamaan- perumpamaan dalam islam tujuan nya adalah agar sesuatu yang abstrak terkadang itu diumpakan sesuatu yang konkrit yang kita hadapi sehari-hari ini
orang munafik itu karena dia menyatakan keislaman nya untuk sementara dia selamat di dunia seperti dia dapat manfaat dari api yang dinyalakan buktinya yaitu darahnya dipelihara dan hartanya juga terpelihara
orang munafik itu tidak bisa mendengar tidak bisa melihat dan pintu-pintu masuk kebenaran itu sudah hilang

Jadi sejatinya orang munafik itu sudah punya petunjuk dari allah kemudian petunjuknya itu ia tukar dengan kesesatan yang ia beli dan yang mereka senangi
mereka lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk

Ibnu Katsir menuturkan bahwa yang dimaksud dengan nifaq (sifat munafik) adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejelekan. Ibnu Juraij menambahkan bahwa orang munafik adalah ia yang perkataannya tidak sesuai dengan perbuatannya, dan yang disembunyikan tidak sesuai dengan apa yang ditampakkan. Allah mulai menjelaskan bahwa ada golongan atau kelompok manusia yang secara dzahir atau secara lisan ia beriman kepada Allah dan hari akhir namun dalam hatinya tetap kafir dan ingkar kepada-Nya.

Mereka dengan kebodohannya lalu menganggap telah menipu dan mengecoh Allah padahal tanpa disadari mereka telah menipu diri sendiri, dan balasannya juga kembali ke diri sendiri yaitu adanya penyakit (maradhun) dalam hatinya. Menurut Ibnu Abbas maksud dari penyakit ini adalah keraguan (syakk) tentang Islam dan sifat kemunafikan, sedangkan Ikrimah menafsirkannya sebagai riya', sehingga maksud penyakit di sini adalah penyakit dalam agama bukan penyakit yang menyerang tubuh/badan. Allah juga menambah penyakitnya tersebut sebagai balasan di dunia serta telah menyiapkan azab yang pedih kelak di akhirat karena kekafiran dan keingkarannya
Allah menjelaskan bahwa orang munafik jika diperingatkan oleh orang-orang mukmin agar tidak berbuat onar dan kerusakan di muka bumi, mereka menentang dan bersikeras bahwa justru mereka telah berbuat benar bahkan telah membuat suatu perbaikan. Allah kemudian menampik anggapan keliru mereka, karena pada dasarnya tanpa mereka sadari, perbuatan mereka adalah sebab kehancuran. Mereka tidak merasa karena hatinya telah tertutup kebodohan dan kekafirannya kepada Allah.

Menurut Ibnu Katsir mengutip perkataan Ibnu Mas'ud dari salah seorang sahabat Nabi saw, kerusakan (al-fasad) di sini bermakna kufur dan perbuatan maksiat. Sedangkan menurut Imam Al-Baidhowi dalam tafsirnya Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Takwil mengatakan bahwa hakikat dari kerusakan adalah tidak adanya kebenaran pada suatu hal, adapun kerusakan yang ditimbulkan oleh orang-orang munafik berupa peperangan, fitnah di antara kaum muslim, maraknya perbuatan maksiat, serta peghinaan terhadap agama.

ketika orang-orang munafik diperintahkan untuk beriman seperti imannya Abdullah bin Salam dan pengikutnya, yaitu iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, kebangkitan setelah kematian, surga, neraka, senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya, maka mereka menolaknya dengan alasan tidak mau beriman seperti golongan tersebut yang dianggap bodoh dan kurang berakal.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa Sufaha (sufahaa') merupakan bentuk jamak dari safih (safiih) yang berarti kurang dan lemahnya akal, sedikitnya pengetahuan tentang mana yang baik dan buruk, serta tidak bagus perbuatan dan perangainya. Allah juga kemudian menampiknya dan menyatakan bahwa justru merekalah yang kurang akal dan memiliki sifat-sifat tersebut, namun mereka tidak menyadari kebodohan dan kesesatannya karena mereka buta dan jauh dari petunjuk Allah.

Allah juga menjelaskan bahwa mereka para munafik ketika berhadapan dengan orang beriman akan ikut menampakkan keimanannya kepada Allah, Rasul-Nya dan semua ajaran Islam. Akan tetapi ketika pergi dan menemui para pemimpinnya, mereka malah mengaku mengikuti para pemimpin dengan kekafiran dan kesesatannya dan tidak pernah mengakui keimanannya kepada Allah. Perbuatan mereka ini semata-mata hanya mengolok-olok, mengejek, serta mempermainkan orang-orang mukmin. Imam Al-Jazairi menuturkan bahwa arti dari syaithan adalah segala sesuatu yang jauh dari kebaikan, dekat pada keburukan, menimbulkan kerusakan bukan perbaikan, baik dari golongan manusia maupun jin. Adapun yang dimaksud syayathin di sini adalah para pemimpin dan punggawa mereka dalam hal keburukan dan kekafiran.

Allah kemudian balik mengejek dan mengolok-olok mereka, yaitu dengan menampakkan kenikmatan di dunia berupa terjaminnya jiwa dan harta mereka, namun akan sangat berlawanan dengan keadaan di akhirat nanti dimana mereka akan ditimpa azab dan siksa yang pedih. Mereka juga dibiarkan terombang-ambing dalam kesesatan dan kekafiran mereka, karena Allah telah menutup hati mereka sehingga tertutup dari petunjuk dan hidayah-Nya. Orang-orang munafik dengan kriteria-kriteria tersebut pada dasarnya telah mengganti petunjuk dengan kesesatan, atau memilih kesesatan lalu meninggalkan petunjuk Allah. Perdagangan mereka sebagai perumpaman transaksi menjual iman untuk membeli kekafiran dengan harapan mendapat keuntungan di dunia, juga pasti rugi karena mereka tidak mendapat keuntungan melainkan akan tersesat dan mendapat azab Allah sebab kekafiran dan keingkarannya.

orang2 munafik itu menyerahkan petunjuk yang dengan nya nabi muhammad saw diutus sebagai biaya/ harga untuk membeli kesesatan

jadi sejatinya orang munafik itu sudah punya petunjuk dari allah kemudian petunjuknya itu ia tukar dengan kesesatan yang ia beli dan yang mereka senangi
mereka lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk", ujar Prof Dr.H.Rosihon Anwar, M.Ag.

Reporter : Astuti nasution
Mahasiswa Uin Sunan Gunung Djati Bandung
×
Berita Terbaru Update