Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

6T dalam Menata Hati dan Perilaku

Minggu, 24 Oktober 2021 | Oktober 24, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-10-24T12:39:29Z
Dakwahpos.com, Bandung- Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ikomah UIN Sunan Gunung Djati Bandung secara konsisten menebarkan pesan dakwah melalui banyak media, salah satunya dari YouTube. Dengan nama channel Masjid Ikomah dan subscribers yang mencapai lebih dari 1000, menandakan banyaknya masyarakat yang suka dengan konten dakwah dari Masjid Ikomah UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Konten dakwah yang disebarkan biasanya adalah kultum setelah salat wajib di Masjid Ikomah. 

Dalam kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai pesan dakwah dari kultum episode 186 dengan judul "Menata Hati dan Perilaku". Kultum yang dilakukan pada hari Senin, 6 September 2021 dan diunggah di channel YouTube pada 9 September 2021 ini diisi oleha Dr. Cecep Anwar, M. Ag sebagai salah satu dosen tetap di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

Dalam kesempatannya berbagi ilmu, beliau menyampaikan tema dengan 6T. Tema 6T yang harus diperhatikan dalam kerangka menata hati dan menata perilaku kehidupan kita sehari-hari. 6T ini dibagi menjadi dua bagian. 3T yang pertama berkaitan dengan penataan hati atau penataan jiwa kita. T yang pertama adalah Takhalli. Takhalli merupakan sebuah istilah dalam dunia tasawuf yang bisa diartikan sebagai upaya mengosongkan hati kita, mengosongkan jiwa kita dari sifat-sifat yang tercela atau biasa disebut Al-Akhlakul Madzmumah. Sebagaimana pun juga hati manusia, hati kita punya peluang untuk menjadi kotor dan menjadi tidak bersih. Kenapa? Bisa karena faktor bisikkan dan godaan setan sebab setan senantiasa berusaha untuk menggoda dan merusak kondisi hati manusia atau karena memang faktor perilaku manusia itu sendiri.

Setelah itu, T yang kedua adalah Tahalli yang mengisi hati kita dengan sifat-sifat yang terpuji. Jadi, ketika dibersihkan kesalahan kita diisikan ikhlasnya beribadah hanya mengharap ridho Allah SWT, memurnikan keesaan-Nya. Ketika dibersihkan sifat hasudnya, sifat hasud diisikan sifat rahman dan rahimnya, memiliki kasih sayang kepada sesama makhluk Allah, tidak ada keinginan untuk mencelakakan orang lain ataupun merugikan orang lain. Tahalli menghiasi hati kita dengan sikap yang terpuji. 

Kemudian T yang ketiga adalah Tajalli. Tajalli berarti penampakan perilaku yang agung, yang baik dalam kerangka beribadah kepada Allah SWT, maupun kerangka ibadah sosial yaitu hubungan dengan sesama manusia lain. Nah, dalam proses memperbaiki hati dan membersihkan hati dengan 3T tadi, maka ada 3T lainnya yang lebih berkaitan dengan bagaimana mewarnai perilaku dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan bermanfaat maupun berbangsa dan bernegara.

3T yang pertama di bagian kedua adalah, tasawuth. Tasawuth yaitu pertengahan. Orang menyebutnya sikap yang moderat, tidak terlalu condong ke ekstrem kanan, tidak pula condong ke ekstrem kiri. Tidak condong ke arah fundamentalis ekstremis yang nantinya melahirkan tindakan-tindakan kekerasan dan tidak pula condong ke perilaku liberalis yang sekularis dan lain sebagainya. 

Yang kedua, ada tawazun. Tawazun adalah menyeimbangkan diri seseorang saat memilih sesuatu sesuai kebutuhan. Sikap seimbang ini dijalankan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam beragama maupun bermasyarakat. Sebab firman Allah mengatakan "Carilah kebahagiaan di akhirat tapi jangan lupa memperhatikan nasib kehidupanmu di dunia". Dalam sebuah hadis juga menyatakan "Tidak dikatakan orang baik kalau terlalu mementingkan salah satunya, bisa jadi akhirat saja namun mengabaikan dunia, atau dunia saja namun mengabaikan akhirat tapi dilaksanakan secara seimbang". 

T yang ketiga bagian kedua, atau T keenam alias yang terakhir adalah tasamuh. Tasamuh yaitu memiliki sifat toleran yang dilaksanakan dalam bertoleransi dengan siapa saja, dengan orang yang berbeda keyakinan, pendapat, agama, dan yang lainnya. Toleransi yang ditunjukkan adalah dengan tidak menunjukkan sikap bahwa kita paling benar dan orang lain salah, tetapi sikap menghargai sesama umat beragama. Toleransi yang kita tunjukkan adalah toleransi terukur yang tidak berlebih-lebihan dalam mencampurkan ajaran agama dan lain sebagainya. 

Itu adalah 6T yang dapat terwujud dalam kehidupan beragama serta kehidupan sosial bermasyarakat secara damai dan harmonis. Semoga kita bisa mengambil manfaat dan menerapkan di kehidupan sehari-hari. 

Reporter: Jihan Nur Setyo Rahmadani
Mahasiswa UIN SGD Bandung


×
Berita Terbaru Update