x
BREAKING NEWS

Rabu, 18 November 2020

Nabi digambarkan sebagai kartun, umat muslim marah?

Oleh : Tubagus Maulana Fauzi

Gelombang protes atas tindakan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW terus muncul. Termasuk dari kalangan pemuka agama dan pesohor tanah air.

Seperti umat lainnya, muslim juga menolak kekerasan dan hukum bisa berlaku sesuai ketentuan yang ada. Namun bentuk kekerasan ada banyak, salah satunya menghina Rasulullah SAW yang merupakan perbuatan sangat keji.

Menggambarkan Nabi Muhammad SAW lewat kartun atau penilaian buruk lainnya merupakan suatu bentuk kekerasan. Saat ini ada berbagai bentuk kekerasan yang tidak hanya terbatas pada fisik dan verbal.

Terkait anggapan satu orang Islam buruk maka semuanya buruk, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan dengan mencontohkan peci. Jika ada satu peci yang tidak cocok dengan ukuran kepala, maka jangan salahkan bentuk penutup kepala atau calon pengguna.

Peci tidak lantas berkualitas buruk hanya karena tak cocok dengan ukuran kepala. Sama dengan ukuran kepala yang tak perlu disalahkan karena tidak cukup dalam peci. Cukup cari peci lain yang lebih cocok dengan ukuran kepala atau sebaliknya.

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa sebegitu marahnya? Bukankan kartun sebenarnya hanya salah satu bentuk kebebasan berekspresi dan kebebasan media? Jawabannya adalah: Cinta. Dalam Islam, Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam adalah junjungan tertinggi umat Islam, manusia pilihan, suri tauladan yang sempurna. Namun dia tetap manusia biasa yang tidak boleh disembah. Itu sebabnya setiap penggambaran Nabi dilarang dalam Islam, demi mencegah penyembahan.

Tidak ada larangan yang gamblang di al-Quran soal hal ini, namun disebutkan dalam hadits—perkataan dan perbuatan Nabi, yang merupakan rujukan selain kitab suci. Umat Islam wajib mencintai Nabinya. Bahkan disebutkan bahwa mencintai Nabi adalah salah satu bentuk kesempurnaan iman, sebuah perilaku yang telah dicontohkan oleh para Sahabat dan orang soleh terdahulu (Salafush Sholih).

Karenanya ketika muncul kemarahan jika ada yang melecehkan orangtua, istri atau anak, bagi ummat Islam akan lebih marah lagi jika ada yang menghina Nabi Muhammad. Bahkan di beberapa negara yang menganut hukum Islam, penghina Nabi diancam dengan hukuman mati.

Namun apakah kemarahan ini harus diluapkan dengan kekerasan, pembunuhan? Tentu tidak. Syeikh Fauzan memberi cara untuk menyikapi kartun Nabi yang menurut anggota Hai'ah Kibaril 'Ulama Saudi Arabia ini, adalah dengan berdialog, berdiskusi, menjelaskan pada penggambar soal apa yang mereka gambar. "Cara menentang mereka adalah dengan membantah syubhat (keraguan) dan menjelaskan perbuatan mereka yang sangat memalukan tersebut."

Dalam Islam pembelaan Nabi dengan tangan hanya bisa dilakukan oleh pemimpin sebuah negara, tidak sembarang orang. Bisa juga melalui jihad, namun ini pun memiliki beberapa syarat yang wajib dipenuhi, salah satunya adalah atas izin pemimpin negara.

Jika pemerintah setempat tidak bisa turun tangan menghentikan penggambaran Nabi, dan umat Muslim tidak punya kuasa dan dilarang menggunakan kekerasan untuk menghentikannya, maka Nabi shallalahu alaihi wassalam memberikan kita solusi, yaitu mengingkarinya dengan hati:

"Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman."

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia