x
BREAKING NEWS

Kamis, 19 November 2020

Literasi, Diskusi, Baru Aksi

Oleh: Sabila Fadhilah

Disahkannya Omnibus Law pada 5 Oktober 2020 lalu, membuat banyak masyarakat yang mayoritas mahasiswa dan buruh turun ke jalan. Ini dikarenakan banyak isi dari Omnibus Law yang dianggap menyulitkan masyarakat dan pengesahannya yang terkesan terburu-buru. Mengingat Indonesia saat ini sedang mengalami 'masa gawat darurat Covid-19', dimana seharusnya DPR fokus terhadap penyelesaian pandemi saat ini, bukan hanya memikirkan golongannya sendiri. Itu semua menjadikan masyarakat geram sehingga membuat mereka turun ke jalan dan melupakan protokol kesehatan karena dianggap negara sudah kelewatan. Tindakan anarkis pun terjadi karena banyaknya massa yang semuanya sedang diluar kendali.

Namun, banyaknya massa yang ikut aksi tidak menjamin bahwa mereka paham isi dari persoalan Omnibus Law tersebut. Karena, tidak sedikit diantara mereka yang hanya sekedar ikut-ikutan bahkan ada pula massa aksi bayaran yang artinya mereka sama sekali tidak paham karena mereka hanya ditunggangi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Maka dari itu, ketika ikut aksi janganlah dengan otak kosong, tetapi harus diisi dengan literasi, diskusi, baru aksi. Supaya ketika kita turun ke jalan bukan hanya menjadi perusuh saja, tetapi mengerti dan dapat menyuarakan masalah yang didapati.

Hal pertama yang harus dilakukan sebelum aksi adalah literasi. Pentingnya literasi agar kita dapat mengetahui masalah apa yang sedang terjadi dan dapat menelaah hal-hal yang dianggap salah dan merugikan masyarakat. Dalam contoh kemarin, berarti diharuskannya kita membaca draft Omnibus Law terlebih dahulu, lalu dipahami, dan selanjutnya diteliti apa saja pasal-pasal yang dianggap merugikan masyarakat.

Setelah literasi, dilanjut dengan diskusi supaya pikiran kita tidak sempit dan dapat mengetahui dari sudut pandang orang lain. Perlu diperhatikan juga orang yang kita ajak diskusi adalah orang yang telah melakukan literasi terlebih dahulu. Supaya bisa saling mengemukakan pendapat dan saling mengoreksi. Diskusi dapat dilakukan dengan teman atau keluarga bahkan dengan teman di dunia maya. Dengan dilakukannya diskusi, dapat menghasilkan kesimpulan atas permasalahan tersebut.

Terakhir, setelah tahap literasi dan diskusi sudah dilakukan, maka aksi pun bisa dijalankan. Karena aksi adalah puncak dari perjuangan dalam menyuarakan aspirasi, maka perlu bekal yang matang yang didapat dari literasi dan diskusi sebelumnya. Jangan turun aksi hanya sebagai formalitas, tetapi harus dengan niat memperjuangkan hak-hak masyarakat yang tertindas. Jangan melakukan aksi dengan anarkis, tetapi ikutilah aturan dan norma yang berlaku supaya apa yang diperjuangkan tidak sia-sia.

Tiga tahap tersebut penting dilakukan dengan bertahap supaya menjadi bekal yang matang ketika melakukan aksi. Jangan asal bersuara tanpa mengetahui maknanya atau paham isinya, karena itu bisa menjadi kesesatan bagi orang lain yang mendengarnya. Janganlah seperti peribahasa "Tong kosong nyaring bunyinya" yang artinya banyak bicara tapi tidak mengerti apa yang dibicarakan.

Mahasiswi KPI UIN SGD Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia