x
BREAKING NEWS

Rabu, 18 November 2020

Kebiasaan Ikut-ikutan

Oleh : Muhammad Farid Iskandar

Mengikuti sebuah tren adalah normal bagi manusia. Manusia mempunya sifat ingin mengikuti apa yang dilakukan atau dimiliki mayoritas orang, seperti halnya banyaknya pengguna aplikasi Instagram yang membuat orang-orang ingin menggunakannya juga. Dalam ilmu Psikologi, sifat manusia yang cenderung suka ikut-ikutan tren disebut Bandwagon effect.

Bandwagon effect merupakan fenomena di mana tindakan atau keyakinan individu dipengaruhi oleh popularitas besar-besaran dari tindakan atau keyakinan serupa di antara individu atau kelompok, terlepas dari kerpercayaan atau prinsip dan nilai-nilai yang dianut. Semakin banyak orang yang melakukannya maka semakin tinggi kecenderungan seseorang untuk ikutan hal tersebut. Apalagi jika yang memulainya adalah orang yang berpengaruh atau terkenal.

Contoh dari Bandwagon effect atau efek ikut-ikutan adalah dalam tren musik, busana, media sosial, dan lain sebagainya. Dalam musik misalnya orang-orang akan mendengarkan lagu yang disukai oleh orang banyak ataupun lagu lawas yang dipopulerkan kembali oleh orang yang berpengaruh. Busana menjadi banyak digunakan karena banyak penggemarnya atau orang-orang yang terkenal turut menggunakannya. Penggunaan media sosial pun akan dipilih orang jika banyak yang menggunakannya, karena mereka dapat menjangkau hal yang lebih luas.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang ikut-ikutan, di antaranya adanya teman dekat yang turut melakukan tren tersebut sehingga membuat kita merasa tidak enak jika tidak ikutan, merasa takut jika dianggap kurang gaul atau kurang seru oleh orang sekitar, ingin menjaga citra dihadapan orang lain, dan adanya faktor bias yakni prasangka dengan apa yang dilakukan banyak orang adalah sesuatu yang baik dan positif.

Lalu apakah baik jika ikut-ikutan tren yang ada? Semuanya akan baik jika kita memahami substansinya sebelum kita bicara atau bertindak. Ikut-ikutan tren yang ada tidak selamanya baik, kita harus memikirkan apakah tren itu berdampak baik atau buruk bagi diri maupun sekitar. Seperti adanya suatu tempat di pedesaan yang sedang tren dikunjungi orang kota, mengunjungi tempat itu memang baik selama tidak meninggalkan hal buruk di tempat tersebut seperti membuang sampah sembarangan atau merusak fasilitas yang ada.

Muhammad Farid Iskandar, Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia