x
BREAKING NEWS

Kamis, 19 November 2020

Dalami Sebelum Kritis

Oleh : Siti Sayidatul Wafa

Manusia  sebagai  makhluk  sosial  tentunya  membutuhkan  hubungan  dan komunikasi dengan  yang  lainnya.  Apalagi  kita  sebagai  mahasiswa  yang notabene  merupakan  insan akademik  kampus,  pemimpin  dimasa  yanga akan  datang.  Mahasiswa  sangat  membutuhkan relasi  yang  luas  guna memperdalam  keilmuan,  agar  nantinya  bisa  menjadi  bekal  untuk kehidupannya.  Dikehidupan  kita,  pastinya  selalu  menerima  atau  bahkan memberikan kritik kepada  orang  lain.  Tentunya  kritik  dalam kehidupan  kita menjadi  hal  yang  lumrah terjadi. Kritik  bisa  diartikan  sebagai  ungkapan kata-kata  atas  kekurangan  atau  hal  yang  dinilai  si pengkritik tidak setuju. Di lapangan, kritik rata-rata berorientasi pada unsur negatif.

Kritik dalam berbagai bidang kehidupan sangat  dibutuhkan sekali.  Kenapa demikian? karena dengan kritik, kita bisa mengetahui sisi sudut pandang lain dari diri kita yang dikritisi. Adagium hukum mengatakan Testimonium de auditu, artinya kesaksian dapat didengar dari orang lain. Jadi jelaslah saat-saat tertentu membutuhkan akan kritik dari orang lain. Kalaupun merupakan ungkapan atas kelemahan dan kekurangan sesuatu pada kita, itu bisa kita jadikan sebagai
ibrah atau  pelajaran untuk  kehidupan selanjutnya.  Namun demikian,  pada faktanya tidak sedikit  dari kita ketika  menerima kritik dari orang  lain  itu, tidak diterima dengan hati yang  lapang,  melainkan dengan  hati yang  panas  atau emosi,  bahkan kebencian terhadap  si pengkritik. Tentunya jikalau dikritik responnya seperti itu, memang manusiawi juga. Tetapi kita  harus  ingat  juga adagium  hukum  mengatakan  Errare  humanum  est,  turpe  in  errore perseverrare,   artinya   membuat   kekeliruan   itu   manusiawi,   namun   tidaklah   baik   untuk mempertahankan  terus  kekeliruan  tersebut.  Pastinya ada  hal  lain  yang  tidak  kita  ketahui kenapa kita bisa dikritik. Dan kita harus memahami keadaan seperti itu.

Kemudian selanjutnya  ketika  kita  berada  diposisi sebagai pengkritik  yang melakukan kritik  terhadap  orang  lain,  kita  harus  bisa  menjaga  dan memfilter  terhadap  ungkapan  yang kita  keliarkan  untuk  mengkritisi  orang lain.tentunya  dengan  etika  yang  baik  dan  benar. Seperti dalam bahasa atau redaksi ungkapan kritisi kita dengan cara menyampaikan ungkapan dengan tegas,  tetapi  secara  sopan  dan  lembut.  Seperti  pepatah  arab  mengatakan, "adabul mar‟I  khairun  min  dzahabihi."  Artinya  kebaikan  budi pekerti seseorang  itu  lebih  baik  dari pada  emasnya.  Apalagi  dalam  pemilihan intonasinya,  sangan  sampai  melontarkan  kalimat sindiran.  Karena  dengan ungkapan  sindiran,  dapat  mengakibatkan  salah  sasaran  dan  justru membuat  segala  sesuatu  menjadi  makin  nambah  masalah,  bukan menyelesaikan  masalah. Kemudian  ketika   kita   menyampaikan  kritik   terhadap   orangg   lain,   pertama   kali   harus sampaikan  dulu  hal-hal  yang baik  mengenai  dirinya,  baru  setelah  itu  ke poin  kritiknya. Kenapa seperti itu? karena sangat penting sekali untuk mencairkan suasana agar orang yang kita  kritisi  bisa  mengurangi  resiko  sakit hati.  Karena  menurut  penelitian menyebutkan bahwasanya  pujian  akan  membuat  orang  lebih  kuat menerima kritik. Tentunya,  ketika mengkritisi orang lain, lebih baik disampaikan secara empat mata. Jangan sampai mengkritisi didepan  banyak  orang,  karena  akan membuat  harga  diri  orang  yang  kita  kritisi  menjadi tercemarkan.

Yang  lebih penting  bagi kita  yang akan mengkritisi orang  lain adalah  pelajari dengan lebih  dalam  mengenai  bahasan  yang  akan  kita  kritisi  tersebut. jangan  sampai  ketika  kita mengkritisi seseorang atau siapapun itu tanpa adanya pengetahuan dan ilmu yang mendalam. Karena ketika tanpa adanya substansi dari hal yang kita kritisi itu seperti pulpen yang tidak ada  tintanya. Dan dalam sebuah  pepatah arab  mengatakan "Laulal ilmu  lakaanannaasi  kal bahaaimi." Seandainya tidak ada  ilmu  niscaya  manusia seperti binatang. Artinya, substansi atau  isi  sangat  penting  sekali  dalam  sebuah  tindakan  dan  prilaku  kita.  Jangan  sampai  kita disamakan  dengan  binatang  seperti kata  pepatah  arab  tersebut.  Sama  seperti kita  berbicara didepan  umum mengenai  banyak  hal,  tetapi  dirinya  sendiri  tidak  faham  bahkan  tidak mengamalkan atas sesuatu  yang disampaikan ke orang lain  itu. contoh lainnya seperti yang kita  ketahui bersama,  bangsa  Indonesia  saat  ini tengah diributkan dengan berita  yang  viral mengenai pengesahan Omnibus Law, dalam hal ini Undang-Undang Cipta Kerja.

Undang-Undang  ini menjadi topic  yang panas disemua kalangan  masyarakat. Banyak perdebatan  dikalangan  praktisi  dan  akademisi.  Bahkan  masyarakat dalam  hal  ini  buruh sebagai  objek  dari  undang-undang  ini  sangat menentangnya.  Akibatnya  aksi  unjuk  rasa terjadi dimana-mana. Mengenai hal ini, ketika undang-undang telah disahkan, tetapi banyak pihak  menentang dengan  alasan  sangat  merugikan  berbagai  pihak,  maka  ketika  kita  akan melawan kebijakan ini, kita harus dalami dulu substansi dari isu tersebut. dalam hal ini,kita harus membaca dan memahami dari semua isi naskah akademik undang-undang ini. Memang tidak salah ketika kita melakukan aksi unjuk rasa karena keprihatinan, dan rasa empati kita terhadap  pihak  yang  dirugikan. Tetapi  alangkah  lebih  baik  ketika  kita  memahami  dulu seluruh  dari  isi naskah  akademik  itu.  jangan  sampai  karena  informasi  tidak  valid,  mejadi termakan  isu  hoax.  Dan  itu  sangat  disayangkan  sekali  apalagi  kepada seorang  akademisi. Apalagi  kalau  permasalahan  dalam  ranah  kajian  hukum,  tidak  bisa  kita  memahami  secara general,  harus  secara  spesifik dan  mendalam.  Pun dalam  bidang  kajian  ilmu  yang  lainnya. Intinya,  kritik itu  diperlukan  untuk  memperbaiki  kesalahan  dan  kekurangan  sebelumnya. Apalagi sangat  disarankan ktitik  yang  membangun. Dan tidak  lupa  hal yang paling penting dalam hal ini semua, yaitu pelajari dan perdalam substansi dari permasalahan yang akan kita kritisi. Dengan harapan setelah dikritisi, bisa merubah keadaan menjadi lebih baik.

Masiswa Aktif KPI UIN Sunan Gunung Djati bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia