x
BREAKING NEWS

Kamis, 26 Desember 2019

Sebab Bahaya Intoleransi Diantara Masyarakat Majemuk

'dakwaspos.com, - Bandung - Toleransi adalah salah satu sikap saling menghormati oleh individu terhadap individu lainnya dalam menyikapi perbedaan yang ada. Perbedaan ini muncul di lingkungan yang didalamnya hidup masyarakat majemuk. Kemajemukan yang ada terdiri dari dari agama, ekonomi, bahasa, suku, ras dan lainnya. Dari beberapa hal tersebut, ada satu hal yang kemudian memiliki frekuensi paling tinggi dalam memunculkan intoleransi yakni perihal agama. Selain karena memang Indonesia adalah Negara yang mengakui adanya kemajemukan agama, intoleransi dalam hal agama juga terjadi karena berkembangnya stigma buruk diantara masyarakat, yang kadang timbul sebagai konflik politik ataupun kepentingan beberapa pihak.

Contoh stigma buruk yang berkembang diantara masyarakat majemuk perihal agama hari ini adalah bahwa munculnya keyakinan bahwa agama yang dianut oleh diri sendiri adalah yang paling benar dan tidak bisa mengakui kebenaran dari agama yang dianut oleh diri yang lain. Dalam kata lain, merasa agama sendiri paling benar dan menganggap agama yang dianut orang lain adalah yang paling salah. Dari stigma semacam ini, munculah intoleransi dalam hal peribadatan beragama. Misal, ketika peribadatan ataupun ritual agama orang lain tidak sesuai dengan ritual kita, kita akan mencemooh, menganggapnya haram, menjelek-jelekkan atau sikap buruk lainnya. 

Salah satu konflik intoleransi yang terjadi sebagai akibat dari berkembangnya stigma buruk diantara masyarakat majemuk ditandai dengan munculnya pro-kontra pengucapan selamat natal dari masyarakat muslim kepada yang non-muslim. Muncul anggapan bilamana seorang muslim mengucapkan "Selamat Natal" kepada non-muslim, maka ia dicap sebagai orang kafir (keluar dari Islam). Bukankah hal semacam ini sudah termasuk konflik intoleransi yang sangat akut? Bukankah keislaman seseorang itu diukur dari ketauhidan dan ibadahnya pada Tuhan dan bagaimana ia mampu berhubungan baik dengan manusia lainnya? Lalu mengapa, hanya dari sebuah ucapan selamat sebagai bentuk toleransi beragama, seseorang dicap berdosa? Apa bedanya pengucapan tersebut dengan selamat pagi? Selamat datang? Dan lainnya? Satu hal lagi, bukankah keimanan seseorang tidak akan goyah hanya karena mengucapkan selamat natal?

Jika memang konflik intoleransi sekecil ini pun masih dikisruhkan dan tidak segera dibersihkan. Maka, dikhawatirkan dari konflik intoleransi seperti ini akan muncul ujaran kebencian antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, lalu timbul konflik kekerasan dan lebih parahnya lagi konflik pembunuhan. Untuk menghindari hal tersebut, maka penanaman nilai-nilai toleransi diantara masyarakat majemuk harus segera dilakukan, sekecil apapun itu. Mereka harus saling menghargai segala bentuk perbedaan yang ada dan meyakini bahwa perbedaan adalah anugerah dari Tuhan. Dengan begitu, stigma buruk yang menyebar secara perlahan dapat terminimalisir.

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia