x
BREAKING NEWS

Rabu, 25 Desember 2019

Radikalisme yang di Salah Artikan

Oleh : Sherly Zihan Azhari
Radikalisme berasal dari bahasa Latin "radix, radicis". Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), berarti akar, sumber, atau asal mula. Secara istilah radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Pada dasarnya radikalisme sudah ada sejak zaman dahulu, namun istilah radikal dikenal pertama kali setelah Charles James Fox memaparkan paham tersebut pada tahun 1797. Radikalisme juga sangat mudah kita kenali karena memang pada umumnya penganut ideologi ini ingin dikenal-terkenal dan ingin mendapat dukungan dari banyak orang.

Radikalisme adalah tanggapan pada kondisi yang sedang terjadi, kemudian diwujudkan dalam bentuk evaluasi, penolakan, bahkan perlawanan dengan keras. Paham ini sering dikaitkan dengan terorisme. Itu dikarenakan kelompok ini relatif bergerak dengan menggunakan kekerasan yang jauh dari kode etik. Biasanya bersikap intoleran kepada siapapun yang tidak sejalan dengan pemikirannya dan ingin melakukan perubahan dengan menggunakan cara-cara kekerasan baik fisik, pikiran maupun verbal dan ekstrem terhadap suatu agama.

Jika sudut pandang istilah mengatakan bahwa radikalisme adalah kekerasan, maka bisa dikatakan pengertian istilah bersebrangan dengan pengertian bahasa yang berarti "mengakar". Dengan itu kebanyakan orang mengartikan radikalisme hanya dari sudut pandang istilah bukan keseluruhan. Hal ini dapat menyebabkan sebagian orang menganggap bahwa radikalisme adalah suatu paham yang berkonotasi negatif.

Sedangkan dalam konteks mencari pengetahuan, radikalisme dibutuhkan sebagai landasan berpikir yang menyebabkan seseorang mampu mengerti dan memahami hingga menjadikan teori sebagai implementasi untuk kehidupan sehari-hari. Maka sebagai insan akademis kita dituntut untuk berpikir luas serta tidak terjebak kepada hal-hal yang bersifat formal namun mampu berdaulat dengan segala hal yang bersifat substansial.

Saat ini masyarakat diresahkan dengan berbagai isu mengenai radikalisme dan ramai diperbincangkan dimedia sosial dengan berbagai tudingan tanpa disertai fakta yang jelas. Radikalisme diperangi oleh pemerintah maupun masyarakat, sehingga menimbulkan ketakutan terhadap pemeluk agama yang memiliki prinsip-prinsip yang sedikit berbeda dengan pemeluk lainnya. Beberapa orang bahkan dengan mudah mencap "radikal" hanya karena ucapan, prilaku, dan tampilan seseorang tidak sejalan dengan pemikirannya. Padahal mereka yang dicap "radikal" hanya meyakini dan menjalankan tafsir agama sesuai dengan nalurinya. 

Hal ini berkaitan dengan pengertian paling mendasar dari radikalisme itu sendiri yang berasal dari kata "radix" yang berarti akar atau dasar. Dengan imbuhan isme yang berarti paham mengenai hal-hal yang paling dasar. Berseliwerannya tuduhan tanpa disertai bukti membuat beberapa orang resah dan merasa terpojok. Mereka yang mendapat cap radikal tidak diberikan ruang dan kesempatan untuk membela diri, bahkan untuk berekspresipun mereka dibatasi. Sebagai insan akademis kita dituntut untuk mampu menetralkan keadaan, tidak terbawa arus apalagi memperkeruh suasana. Kita harus mampu memberikan pemahaman pada masyarakat mengenai makna dari radikalisme, sehingga mereka tidak mudah menafsirkan tanpa meneliti terlebih dahulu kebenarannya. Selain itu kita juga harus mampu menekan dan menyebaruaskan paham yang bisa meminimalisir sifat atau bibit radikalisme sehingga paham tersebut dapat terkikis sedikit demi sedikit.

Sherly Zihan Azhari, Desa Jalaksana, Kec. Jalaksana, Kab. Kuningan, 089660951271, sherlyzihanazhari@gmail.com 

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia