x
BREAKING NEWS

Rabu, 25 Desember 2019

Perang fikiran bukan otot

Radikalisme itu urusan pikiran dan hati , kita tidak bisa asal mencap orang sebagai radikalis karena pakaiannya saja . Tapi dari pikiran dan pandangannya terhadap sesuatu dan cara ia menerapkannya , akar dari radikalisme adalah kebodohan dan fanatisme berlebihan, bahkan dalam ekstrimnya bisa mengancam hak – hak orang lain.
Kasus – kasus orang terpapar radikalisme akhir – akhir ini memenuhi headline berita online di media sosial , mulai dari pejabat sampai anak sekolah lagi – lagi diberitakan terpapar radikalisme . Apakah dengan memberitakan ke publik dapat membuat program deradikalisasi ini berhasil ? . Publik dibuat bingung tentang apa yang sebetulnya terjadi pada Indonesia ,  sebagian lain dibuat jenuh akan isu ini mungkin karena menganggap isu radikalisme ini hanya isapan jempol belaka.
Namun Radikalisme itu nyata , namun nyatanya juga publik banyak yang belum tau apa itu radikalisme dan apa efeknya . Pemberitaan radikalisme yang bertujuan untuk memperingatkan publik , malah membuat publik bingung dan semakin membentuk masyarakat terpola / polarisasi masyarakat . Ditambah radikalisme sering dikaitkan dengan aksesoris agama , masyarakat yang berpakaian beda kadang menjadi terkucilkan dan menutup diri.
Dengan memberitakan terus – menerus tidak membuat radikalisme itu hilang , melainkan malah memainkan peranan untuk meneror publik dan membuat radikalis melawan dengan cara yang lebih ekstrim lagi . Karena tidak membuat radikalis menjadi terbuka alam pikirannya dan membuat mereka bersikap lebih keras.
Maka dalam melawan radikalisme sebaiknya dalam metode yang senyap namun efektif , maksudnya adalah mengatasi akar permasalahannya itu sendiri yaitu dengan cara pendidikan logika . Mengapa Logika ? Karena jika seseorang bisa berfikir logis atau mampu menggunakan pikirannya untuk lebih kritis , maka masalah fanatisme akan teratasi .
Jika masyarakat bisa membudayakan berfikir logis , maka akan terciptanya pikiran yang lebih tebuka dalam melihat realita yang ternyata Indonesia tidak bisa disama ratakan . Selain itu berfikir logis dalam ruang lingkup pendidikan akan membuka ruang diskusi yang dimana seseorang mampu saling melempar pendapat tentang suatu isu dan diharapkan dapat menghindari paham fanatisme dan ekstrimisme
Jadi pada akhirnya radikalisme bisa kita atasi tanpa harus membuat situasi panas dan menciptakan kecurigaan antar masyarakat , kunci dari semua itu kita harus berfikir terbuka dan mampu lapang dada dalam menerima segala perbedaan dalam bermasyarakat yang merupakan suatu anugrah yang harus di syukuri dalam bernegara dan bermasyarakat.
Muhammad Rajif Alfikri
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia