x
BREAKING NEWS

Rabu, 25 Desember 2019

[ OPINI ] Masyarakat Harus Bersinergi Dengan Pemerintah

Bom bunuh diri terjadi lagi, kini Polrestabes Medan jadi sasarannya. Prilaku tersebut tak lain adalah tindakan terorisme yang merupakan representatif dari paham radikal.
Tempat yang penuh dengan aparat kepolisian –yang seharusnya memiliki pengamanan ketat– dengan mudahnya disusupi seseorang dengan bom paku yang dibawanya dalam tas. Meski begitu, pihak kepolisian tak mau mengakui kalau mereka sudah 'kecolongan'.

Tak dapat dipungkiri, kata 'radikalisme' dan 'terorisme' makin mencuat tiap tahunnya. Pelaku pengeboman sendiri disinyalir adalah mahasiswa yang menyamar sebagai pengemudi ojek online yang terpapar radikalisme lewat media sosial.

Fakta tersebut menyiratkan, bahwa masyarakat sangat rentan terpapar paham radikal. Situs-situs berkonten radikalisme tersebar begitu banyaknya sehingga dapat dengan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Bukan tak ada tindakan, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mencegah berkembangnya paham radikal, salah satunya dengan memblokir berbagai situs dan akun media sosial yang dianggap mengandung konten radikal. Sejak 2009, pemerintah tercatat sudah memblokir sekitar 11.800 website dengan konten radikalisme dan terorisme.

Disisi lain, Mahfud M D, Menteri Koordinator, Politik, Hukum, dan Keamanan, meminta masyarakat agar tak nyinyir ke pemerintah. Hal  tersebut karena banyaknya komentar negatif yang ditujukan kepada pemerintah –dalam hal ini aparat– yang dianggap 'kecolongan' dikandang sendiri.

Menelisik paham radikal yang terus berkembang di Indonesia, upaya pemblokiran situs tersebut dirasa tak cukup untuk menekan pertumbuhan radikalisme. Ya, sangat tidak cukup ketika upaya hanya dilakukan oleh satu pihak. Itulah yang menurut saya sedang terjadi di negara ini.

Seperi kata Menkopolhukam, dengan 'kecolongan'nya aparat, masyarakat lebih baik tidak dengan mudah mencibir pemerintah. Akan percuma bila upaya pencegahan hanya dilakukan oleh satu pihak. Dalam kondisi ini, peran masayarakat sendiri sangatlah dibutuhkan. Tidak semata-mata sebagai pemantau, tetapi terjun langsung sebagai pelaku pencegahan. Masyarakat harus berperan aktif dalam mensosialisasikan tindakan anti radikalisme dan terorisme.

Dari pada sibuk nyinyirin pemerintah, seharusnya masyarakat Indonesia mendudukung segala bentuk upaya yang sedang dan akan dilakukan pemerintah kedepannya dalam hal pencegahan radikalisme.

Sekali lagi, bila ada kebijakan yang dirasa tumpang tindih, alangkah lebih baik masyarakat bersinergi dengan pemerintah dan mengkajinya dengan tujuan yang terbaik. Jangan mengedepankan kesimpulan dari perepsi yang dangkal. Bukankah hal tersebut merupakan representatif dari semboyan negara kita? Bhinneka Tunggal Ika. Tak hanya pemerintah, saya rasa masyarakat juga bisa turut andil demi NKRI yang aman dan damai.

Oleh :
Nurbaiti Dwi Damayanti, Mahasiswi KPI UIN SDG Bandung
Jl. Pojok Selatan II RT 01 RW 12 no.26 Cimahi. 40524
081902076358 / nurbaitidwi@gmail.com

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia