x
BREAKING NEWS

Selasa, 24 Desember 2019

Opini Jangan Setengah –Setengah, Pahami Radikalisme

 

Jangan Setengah – Setengah, Pahami Radikalisme!

Lagi-lagi radikalisme menjadi perbincangan hangat di kalangan pemerintahan, akademisi, maupun masyarakat, lalu kemudian apa yang menjadikan paham "radikalisme" sebagai musuh utama sehingga kita semua mempunyai peran penting dalam memberantas keberadaan nya. tetapi dalam hal ini penulis menghimbau jangan langsung soudzon terlebih dahulu dengan kata radikalisme. Sebab kita harus lebih cermat mengenai apa yang menjadi landasan seseorang terpapar radikalisme. 

dahulu dalam sejarah perjuangan bangsa indonesia saat agresi militer ke-2, ada salah satu tokoh kita yang di labelkan sebagai kaum radikalisme sebut saja jenderal besar Soedirman, bapak pencetus perang gerilya ini sangat di labelkan sebagai kaum radikal oleh para penjajah, sebab gerakan nya yang mengerikan itulah yang sangat di takuti, dan kegigihan nya dalam berperang selama 7 bulan di hutan menggunakan taktik berpindah-pindah membuat Belanda kehabisan cara serta kebingungan untuk menangkap Soedirman. yang akhir nya belanda tidak berhenti berpikir agar membuat suatu isu ujaran kebencian supaya bisa mempengerahui orang-orang indonesia dengan mengatakan bahwa seorang panglima besar itu adalah tokoh yang radikal. Itulah singkat cerita panglima besar kita yang di labelkan sebagai kaum radikal. 

Namun  Penulis ingin menghimbau kepada seluruh pembaca agar tidak memahami kata radikalisme secara cepat, karena untuk memahami suatu kata seperti radikalisme sebaik nya di analisa terlebih dahulu, seperti siapa yang terpapar radikalisme, lalu apa yang menjadikan seseorang terkena paham radikalisme. 

penulis juga berpendapat seseorang bisa dikatakan terpapar pemahaman radikalisme khusus nya di indonesia adalah seorang yang mempunyai pemahaman menyimpang kemudian pemahaman itu bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia, atau cita-cita bangsa Indonesia. tentu dalam hal ini kita sebagai warga negara mempunyai peran serta fungsi untuk memberantas radikalisme sampai dengan tuntas, namun jangan sampai gara-gara sebuah isu mengenai radikalisme ini di salah artikan, kemudian menjadikan kesempatan asing untuk melakukan politik Devide Et Impera (politik pecah belah) dan jangan sampai pula menjadi kesempatan ajang kontestasi untuk seseorang  menggambil moment berpanggung politik.

 

MUHAMMAD NAZAL RIF'I

MAHASISWA KPI UIN SGD BANDUNG

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia