x
BREAKING NEWS

Senin, 23 Desember 2019

Musim kemarau Jangan Sampai Surutkan Nalar.

Musim kemarau tahun ini diperkirakan akan terus berlanjut hinggan November mendatang. Beberapa daerah di sekitaran Pulau Jawa, NTB, NTT belum turun hujan sejak beberapa bulan lalu. Sedangkan beberapa daerah di Sumatera seperti Bengkulu, Sumsel, Bangka bagian Utara, Belitung, Daerah Pesisir mulai dari Aceh, Sumut, Sumbar dan beberapa daerah juga dikalimantan sudah beberapa kali turun hujan.

Tidak bisa dipungkiri, karena begitu luasnya pulau-pulau di Indonesia menyebabkan adanya perbedaan intensitas hujan. Sepeteri didaerah bagian pesisir pulau Sumatera yang rata-rata memiliki intensitas curah hujan hingga 4.000 mm/tahun, dengan pariode puncaknya pada bulan Oktober dan November. Sedangkan di Kalimantan sendiri juga memiliki curah hujan yang cukup tinggi karena banyak hutan tropis yang relative rapat dan susah ditembus atau dijamah manusi.

Namun, musim kemarau seperti ini juga banyak menimbulkan polemik diantara kalangan petani, seperti petani sawah dan petani garam atau tembakau. Bagi para petani tembakau ataupun petani garam, sudah tentu musim kemarau Panjang seperti ini banyak dinanti, disamping akan memudahkan dalam penjemuran tembakau atau garam, dengan otomatis akan meingkatkan harga jual hasil panen tersebut. Namun tidak demikian berlaku bagi para petani padi, sebaliknya, mereka justru akan sangat susah mengaliri sawah mereka dengan air, bahkan bisa menyebabkan gagal panen.

Dengan demikian lantas tidak membuat kita berpasrah kepada keadaan. Sebagai masyarkat yang peka terhadap lingkungan bukan saatnya lagi untuk kita saling menyalahkan satu sama lain. Melainkan saatnya bagi kita untuk merubah pola pikir kita dalam menykapi musim kemarau yang berkepanjangan ini. Seperti halnya saja kita bisa memanfaatkan musim kemarau ini sebaik mungkin.

Misalnya, memanfaatkan cuaca terik matahari untuk meningkat produktifitas dalam pembuatan pangan seperti renginang, ikan asin atau ikan kering yang lainnya. Dan untuk daerah yang memiliki keterbatasan sumber air, bisa mulai lebih menghemat dalam menggunakan air.

Pemanfaatn air sendiri dapat dimulai dengan hal-hal sederhana seperti tidak berlebihan menggunakan air ketika mandi, jika mempunyai tanaman juga bisa menyiramnya ketika pagi hari dan malam hari agar tidak banyak terjadinya penguapan. Yang perlu diingat Bersama juga adalah, kesediaan air juga tergantung bagaimana kondisi tanah di daerah tersebut. Oleh karena itu sudah saatnya bagi kita untuk hentikan penebangan hutan secara liar dan berlebihan, atau, jika kita ingin menebang pohon di hutan maka sebaiknya kita menyediakan tanaman baru sebagai ganti untuk menjaga ekosistem hutan tersebut tetap stabil.

Cara diatas lebih baik kita terapkan sebagai bentuk nalar kita terhadap lingkungan dan masyarakat, bukan saling menyalahkn satu sama lain, atau bahkan tidak mensyukuri nikmat yang telah tuhan berikan kepada kita semua dengan geratis. Kita hanya perlu menggunakannya saja dengan bijak dan menjaganya agar tetap lestari dan tidak rusak.

Al – Lahla Zikri Mufadil

Mahasiswi KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia