x
BREAKING NEWS

Kamis, 26 Desember 2019

Menulis Berita Ajari Aku Sukai Dunia Non Fiksi

'Dakwahpos.com - Bandung - Menulis bagiku adalah sebuah hal yang menyenangkan. Perasaan menyenangkan ini aku dapatkan karena kebiasaan atau hobbyku memang menulis. Ketika aku mendapati mata kuliah jurnalisme dakwah pada semester tiga di tahun 2019 ini, semula aku tak dapat menerka akan seperti apa mata kuliah, praktik dan tugas-tugas yang bersangkutan. 

Namun, aku mendapatkan sedikit bocoran dari beberapa kakak tingkatku, kata mereka mata kuliah ini akan disibukkan dengan kegiatan menulis. Aku mendengar teman-temanku merasa sedih mendapati informasi ini. Banyak diantara mereka yang keberatan karena menulis terlalu sulit dan susah mengumpulkan kata-kata menjadi sebuah kalimat, kata mereka ketika mendapati informasi ini. Namun, lain halnya denganku, aku justru sangat senang sekali ketika mendapati informasi terkait hal ini.

Biar aku jelaskan, bagaimana aku akhirnya tertarik dengan tugas yang diberikan salah satu dosenku ini. Aktivitasku setiap hari, selain pergi ke kampus untuk kuliah, aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan unit kegiatan mahasiswa, aku juga aktif menulis. Menulis karya fiksi, seperti cerpen dan puisi. Kebetulan pula, aku tergabung dalam kelas menulis online. Jadi menulis menjadi kegiatan rutinitasku. Dan … setelah aku tau tugas dari mata kuliah Jurnalisme Dakwah adalah menulis karya non fiksi, awalnya aku meragu pada kesanggupan menulisku. Kenapa? Karena meskipun aku pernah memenangkan kompetisi menulis karangan essay, tapi pengalaman seringnya menulis fiksi justru membuat rasa percaya diriku mengerdil. Tapi, ada satu hal yang akhirnya membuat rasa percaya diriku bangkit, aku ingat sekali, saat itu tepat kita menggelar perkuliahan di lantai tiga gedung fakultas dakwah dan komunikasi. Dosen mata kuliah jurnalisme dakwah menjelaskan kepada kita tentang pentingnya menulis. 

"Menulis itu mudah. Kalian jurusan komunikasi penyiaran islam, jika kalian tidak suka menulis, mungkin kalian salah jurusan." Katanya membuat hatiku terbuka untuk kembali mengumpulkan semangat menulis. Baik itu menulis fiksi, maupun non fiksi. "Dan menulis itu bisa menjadi passive income." Lanjut katanya sambil serius menjelaskan kepada seluruh mahasiswa yang ada di ruangan tersebut.

Setelah mendengar perkataan beliau, akhirnya benar saja. Aku semakin berantusias untuk menulis. Hal itu terjadi, karena beliau sangat berhasil menjaelaskan secara rapi dan runut terkait dunia kepenulisan. Beliau menjelaskan media-media di Indonesia yang memuat tulisan, menjelaskan berapa penghasilan yang didapatkan dari menulis satu buah karya, dan satu hal yang juga menjadi pendukung semangatku tumbuh, ia menjelaskan ada mahasiswi KPI yang berhasil memenangkan lomba menulis karya ilmiah. "Aku juga mampu. Write down more and start serious begin from now." Ucapku dalam hati sembari menyemangati diri.

Setelah dua pertemuan pertama, akhirnya muncul juga tugas menulis non fiksi yang aku nanti-nanti. Ternyata, tugasnya adalah menulis sebuah berita. Waw! Ini adalah hal yang begitu menarik. Tantangan bagiku- karena sebelumnya aku hanya pernah sekali membuat berita. Itu pun karena tuntutan tugas ketika aku masih SMA. Namun, ya bukan aku namanya jika tidak tertarik dengan tantangan baru. Akhirnya, untuk mengawali tugas perdana ini, aku melakukan proses wawancara. Berita memang harus factual dan actual bukan?, dan akhirnya aku pergi ke Masjid Abu Baqar Ash-Shiddiq di Bumi Panyawangan, Cileunyi. Berhubung memang media yang nantinya akan memuat tulisan kita adalah dakwaspos.com, maka memang tema berita harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh media, yakni mengundung unsure dakwahnya. Jadi? Aku memilih masjid tersebut untuk dapat menggali berita lebih banyak seputar dakwah. 

Beberapa hari setelah aku mendapatkan tugas, aku pergi ke Masjid tersebut, aku bertemu dengan DKM dan pengurus masjid. Sekitar kurang lebih 30 menit aku melewati proses wawancara, setelahnya aku mulai menyusun berita. Judul pertama yang aku tulis adalah "Peduli Santi oleh DKM dan Pengurus Masjid Abbas". Judul tulisan yang aku buat ini kemudian aku kumpulkan di satu google classroom. Setelahnya, ada pelajaran yang sangat berharga. Bisakah kalian tebak? Di minggu setelahnya, dosen mata kuliahku ini memberikan koreksian terhadap berita-berita yang ditulis oleh kebanyakan mahasiswa. Koreksian ini sangat konstruktif sekali, beliau memberitahu struktur penulisan dalam berita yang masih rancu, pemilihan bahasa yang masih belum komunikatif, ide gagasan yang masih belum jelas tergambar dalam berita dan koreksian lainnya yang tentunya membangun. 

Dengan koreksian ini kemudian, di tugas-tugas membuat berita berikutnya, aku dapat belajar dari kesalahan. Dan setelahnya, aku mampu menulis berita dengan lebih baik, dari segi strukturnya maupun gaya bahasanya. Dan ini semua berkat dosenku itu. Terima kasih Pak Dosen, engkau memberikan ilmu banyak dan meningkatkan semangat menulisku.

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia