x
BREAKING NEWS

Rabu, 25 Desember 2019

Larangan Celana Cingkrang-Cadar Bukan Solusi Atasi Radikalisme

Paham radikal semakin hari semakin meluas penyebarannya, tak terkecuali di Indonesia. Permasalahan yang terjadi akibat paham ini pun marak dimana-mana. Sehingga menjadi suatu hal yang harus kita awasi bersama. Baru-baru ini, kita dihebohkan dengan isu kebijakan Menag yakni Fachrul Razi tentang larangan penggunaan celana cingkrang dan cadar di instansi pemerintah yang dikaitkan dengan radikalisme. Hingga menuai kritikan dari berbagai pihak. 
Larangan penggunaan celana cingkrang dan cadar ini dianggap sebagai upaya menetralisir paham-paham radikal yang membahayakan. Karena cadar maupun celana cingkrang dianggap identik dengan Islam radikal. Hal serupa pun sempat terjadi di salah satu Universitas Islam yang melarang mahasiswi mengenakan cadar dengan alasan untuk menjaga kampus dari paham-paham radikal. 
Yang menjadi pertanyaannya adalah "Apakah semua orang yang mengenakan celana cingkrang maupun cadar adalah penganut paham radikal? ". Tentu tidak, karena harus kita pahami bersama bahwasannya pakaian bukanlah tolak ukur ideologi yang dianut seorang individu. Orang yang mengenakan celana cingkrang maupun cadar adalah golongan yang menganggap segala pekerjaan Nabi Saw adalah sunnah yang harus diikuti. Seperti hal nya celana cingkrang, Nabi Saw tidak menyukai pakaian yang melebihi mata kaki. Dan ada hadits yang membahas tentang hal itu. Adapun perkara cadar, terdapat golongan tertentu yang memandang bahwa wajah seorang wanita adalah bagian daripada aurat yang harus ditutup. 
Menanggapi hal tersebut, harusnya pemerintah mengambil langkah bijak. Karena dengan menyudutkan suatu pihak bukanlah solusi yang tepat dalam menangkal radikalisme. Belum lagi dampak yang akan lahir kedepannya, seperti rasa di diskriminasi misalnya. Sehingga akan ada pandangan bahwasannya Islam lah yang tersorot dalam permasalahan paham radikal ini. Selain itu harus kita sadari bersama bahwa, bukankah semboyan dari negara indonesia sendiri adalah "Bhineka Tunggal Ika " yang berarti "berbeda-beda namun tetap satu jua "?. Lantas mengapa harus mempermasalahkan perbedaan yang didasarkan kepada rasa ketakutan terpapar paham radikal, tapi justru memperparah keaadaan. 
Yang harus difokuskan guna mengatasi radikalisme saat ini bukanlah cara berpakaian, akan tetapi persatuan dan perdamaian. Yang wajib berperan dalam menetralisir paham-paham radikal bukan hanya pemerintah, namun seluruh rakyat indonesia juga berkewajiban untuk menjaga keamanan negara agar terhindar dari paham-paham radikal yang semakin hari semakin meluas. Terutama kalangan pemuda-pemudi bangsa, yang wajib berperan aktif dalam hal ini. Karena pemuda-pemudi saat ini adalah generasi penerus bangsa dimasa yang akan datang, yang tentunya harus membawa perubahan yang lebih baik untuk Indonesia kedepannya.

Nada Prima Dewi, Mahasiswi KPI Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Kp. Cinangsi rt/rw 02/04 Desa Cipatat, Kec Cipatat, Kab Bandung Barat. (081326683915). Nadaprimadewi20@gmail.com .

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia