x
BREAKING NEWS

Rabu, 25 Desember 2019

Korupsi Jangan Lagi



Korupsi, kata ini mungkin tak asing lagi di telinga kita. Mengingat banyaknya kasus korupsi yang menjalar di dunia perpolitikan di negara kita, Indonesia. Kasus korupsi memang tak ada habisnya jika dibahas. Satu yang kita tahu bahwa korupsi merugikan banyak pihak.


Korupsi adalah tindakan seseorang yang menyalahgunakan kepercayaan dalam suatu masalah atau organisasi untuk mendapatkan keuntungan. Tindakan korupsi ini terjadi karena beberapa faktor faktor yang terjadi di dalam kalangan masyarakat. Faktor internal merupakan sebuah sifat yang berasal dari diri kita sendiri.



Misalnya saja kasus korupsi BUMN yang baru-baru ini hangat dibicarakan. Direktur Utama PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI Darman Mappangara, ditetapkan sebagai tersangka kasus suap proyek Baggage Handling System (BHS) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebelum ia, KPK juga menetapkan Direktur Teknologi dan Produksi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Wisnu Kuncoro sebagai tersangka dalam kasus suap pengadaan barang dan jasa di Krakatau Steel pada Maret 2019. Ada juga, Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Tbk Sofyan Basir yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus suap proyek PLTU Riau-1 pada April 2019.



Lalu PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) menyusul dua perusahaan sebelumnya dengan penangkapan Direktur Utama Dolly Pulungan dan Direktur Pemasaran I Kadek Kertha Laksana pada awal September 2019. Tak sampai di situ, September 2019 bisa dijadikan bulan yang berat bagi BUMN. Setelah PTPN III, masih ada Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia (Perindo) Risyanto Suanda yang juga ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus suap impor ikan 2018.  Sederet kasus hukum yang dihadapi oleh direksi BUMN ini seakan memperlihatkan tata kelola perusahaan pelat merah yang belum membaik dari tahun ke tahun.


Korupsi dapat terjadi ketika seseorang atau oknum tidak memiliki moral yang kuat, sifat tamak dan rakus, dan gaya hidup yang konsumtif. Selain itu faktor ekonomi, politik, hukum, dan organisasi juga bisa mendorong seseorang untuk korupsi.
Korupsi memang menguntungkan bagi orang yang korupsi. Tapi sangan merugikan bagi rakyat den negara. Perekonomian negara menjadi lambat, menurunnya investasi, meningkatnya kemiskinan, dan meningkatnya ketimpangan pendapatan suatu negara.


Kedepannya diharapkan pemerintah dapat lebih gesit dalam memberantas kasus korupsi di Indonesia. Jangan malah pejabat yang bertugas memberantas itu sendiri yang korupsi. Ingatlah kepercayaan rakyat yang telah diberikan kepada para pejabat negara. Mari bersama-sama kita berantas korupsi sejak dini. (nabilla fitri, KPI 3C)








Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia