x
BREAKING NEWS

Rabu, 25 Desember 2019

Keluar dari sesaknya berfikir radikal

Beberapa bulan yang lalu  , di  Debat Pilpres ada wacana untuk mengadakan program deradikalisasi dan akhir-akhir ini wacana deradikalisasi itu kembali mencuat hal ini ditunjukkan dengan respon Presiden Joko Widodo tentang penusukan mantan Menko polhukam Wiranto yang terjadi pada bulan Oktober lalu , pemerintah sedang gencar gencarnya untuk melakukan program deradikalisasi ini.
Radikalisme adalah masalah berfikir dan pengaplikasian berfikir , yang dimana dia memiliki fanatisme yang berlebihan , menyalahkan yang tidak sepaham serta dalam keadaan ekstrim bisa mengancam nyawa orang lain . Setiap orang mempunyai kesempatan untuk menjadi radikal , kalau memiliki cara pandang yang sempit dalam menafsirkan sesuatu dan dapat mengancam hak seseorang. 
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang heterogen yang karakteristik masyarakatnya berbeda-beda dalam beragama sampai berpakaian . Maka seharusnya kita sebagai masyarakat yang baik harus mensyukuri anugrah dari perbedaan ini kita tidak bisa menyalahkan ataupun melakukan sesuatu kekerasan yang mengancam hak asasi manusia seseorang untuk bisa hidup di negara ini.
Apa yang bisa kita lakukan sebagai warga negara untuk membantu dalam program deradikalisasi ini ? Kuncinya di pendidikan , radikalisme adalah bertemunya kebodohan dan hilangnya kontrol berfikir serta disisi lain kurangnya kualitas pendidikan yang didapatkan oleh seseorang membuat seseorang dapat berfikir ekstrim. Maka dari itu sistem pendidikan kita haruslah merujuk pada kesadaran seseorang dapat berfikir dari sudut pandang yang lain sehingga terciptalah berfikir yang lebih terbuka.
Lembaga pendidikan harus membuka ruang seluas-luasnya untuk saling memperdebatkan pendapat dan lembaga pendidikan tidak boleh mengintervensi ataupun mengambil keputusan seenaknya sendiri dengan kata lain mengecap bahwa suatu ide itu adalah salah. Jika lembaga pendidikan berhasil melaksanakan itu maka akan tercipta budaya saling berdebat dengan cara yang baik
Di lain pihak golongan akademisi haruslah berpikir terbuka atas ide-ide baru dan berani mengungkapkan sikapnya atas ide tersebut.  Pada contohnya publik sedang di kejutkan dengan isu Khilafah maka akademisi harus terbuka untuk mempelajari juga isu tersebut, akademisi tidak boleh langsung mengharamkan Suatu ideologi secara sepihak sebelum didiskusikan dalam lingkup akademik.
Disisi lain pula Negara janganlah melakukan tindakan – tindakan yang cenderung militeristik dan tangkap sana sini dalam melawan radikalisme ini (dengan catatan tidak dalam keadaan melawan hukum dan mengancam nyawa masyarakat) , hal itu malah membuat pemahaman radikal ini semakin kuat . Jadi pada akhirnya radikalisme bisa kita atasi dengan salah satunya  pendekatan pendidikan ,  jika masyarakat sudah terbiasa dengan keberagaman dan perbedaan maka terbentuklah budaya saling menghargai satu sama lain walaupun berbeda pandangan , selain itu terbentuk budaya berdiskusi dan memperdebatkan suatu hal dengan cara yang baik
Muhammad Rajif Alfikri 
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia