x
BREAKING NEWS

Kamis, 26 Desember 2019

Jangan Hanya Anti, Tapi Harus Paham Esensi

Isu radikalisme kian menjadi tagline teratas di berbagai  media social, bahkan salah satu media sosial populer seperti twitter sempat mengangkat radikalisme ini sebagai kata yang paling banyak disebut di list trendnya. Tentunya ini menjadi hal yang menarik banyak mata masyarakat untuk –minimal- mengklik informasi yang berkaitan dengan isu ini, kemudian banyak dari mereka yang menggali lebih dalam mengenai paham radikal, mencari informasi dari berbagai sumber, disusul pula dengan para pegiat social media yang mengeluarkan pandangan di akun mereka masing-masing. Dan mau tak mau, di tengah muncul dan tenggelamnya isu ini, radikalisme sedang berada di tahap muncul yang amat menonjol.

Namun, seperti kebanyakan dari berita-berita yang hangat beredar, radikalisme juga tak luput dari berbagai pro dan kontra, terutama setelah munculnya fatwa dari Kementerian Agama periode sekarang; Fachru Rozi; bahwa pemakaian atribut seperti cadar, celana cingkrang, dan lain-lain dipandang sebagai bentuk dari aksi radikal. Ia juga menegaskan bahwa instansi pemerintah dilarang keras untuk memakai atribut tersebut,  karena dianggap mengancam rencana pemerintah untuk memberantas paham radikalisme dengan tuntas.

Di tengah panasnya isu tentang atribut radikal yang disinggung di paragraph sebelumnya, muncul lagi suatu fatwa yang keluar dari lisan presiden Republik Indonesia, Ia berkata bahwa radikalisme mesti diganti istilahnya menjadi manipulator agama, ini juga tidak kalah menuai banyak komentar dari khalayak, pasalnya, penyematan istilah tersebut dinilai terlalu berlebihan, karena kata manipulator identik dengan seseorang yang merubah suatu system dengan signifikan dan terstruktur, belum lagi larangan pengibaran bendera tauhid di berbagai instansi yang sampai kini baranya belum kunjung mereda.
Menurut saya, sebelum pemerintah mengeluarkan berbagai peraturan untuk membatasi gerak radikal, pemerintah perlu mengkaji dan memahami secara baik apa maksud seseorang melakukan aksi dan memakai atribut yang dinilai radikal tersebut, karena jika pemerintah mengeluarkan suatu aturan tanpa dilandasi suatu alasan yang kuat, dikhawatirkan akan menimbulkan perasaan intoleran karena dianggap membatasi kebebasan dalam beragama. Jangan sampai, kita menebar kata toleransi ke khalayak luas, tapi lupa untuk mengamalkan esensi dari toleransi itu sendiri ke lingkungan terdekat kita.
Dan jika pun banyak diantara orang yang dinilai radikal itu memang anti terhadap pancasila,--seperti yang selama ini banyak dibicarakan-- menurut saya perlu adanya pengkajian ulang dan sosialisasi yang matang untuk disampaikan pada penganut paham tersebut, karena jika pancasila dikaji secara lebih mendalam, terbuka, dan tanpa ada prasangka yang membatasi arah pemikiran, kita akan mendapatkan suatu fakta, bahwa tidak ada satupun dari nilai-nilai pancasila yang berseberangan dengan ajaran Islam, itu bisa dilihat dari kelima silanya.

Kita pun perlu merangkul orang-orang yang dianggap radikal itu dengan cara yang lembut dan mudah untuk diterima, layaknya mengajarkan berjalan kepada anak kecil yang sebelumnya tidak bisa berjalan, kita harus mengajari mereka dengan kelembutan, kasih sayang dan tanpa ada tindak kekerasan, karena bisa dibayangkan bagaimana jika kita mengajarinnya dengan penuh pemaksaan, jangankan untuk menuruti apa yang kita arahkan, untuk menghormati kita pun –bisa saja—mereka enggan.

Oktavia Rahmawati
Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jl. A.H Nasution No. 112 A Rt. 02 Rw 01 Kel. Cipadung Wetan Kec. Panyileukan, 40614 Kota Bandung
085317029344

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia