x
BREAKING NEWS

Rabu, 25 Desember 2019

Indonesia Mayoritas Muslim Merayakan Tahun Baru

Setelah melewati bulan – bulan dengan ragam intrik kerjadian semasa di tahun 2018. Wacana keagamaan Islam dibutuhkan, ada yang mengatakan sebagai agenda politik tahun 2019, ada pula menganggap bahwa ini adalah saatnya Islam bangkit karna Islam sebagai pemeluk agama mayoritas di Indoensia, dan berbagai macam tanggapan masyarakat tentang wacana ke-Islaman itu dibangkitkan.

Berbagai probelimatika bangsa Indonesia di tahun 2018 yang paling hangat dibicarakan tetap sama di tahun sebelum – sebelumnya adalah agama Islam. Berbagai kalangan ikut menkritik punya jenjang pendidikan Agama Islam akan pendapat para alim Ulama yang tinggi akan pemahaman nilai – nilai toleransi.

Semua itu karena ulah dogma Cyber hoaks sosial media yang menjelek – jelekkan para alim Ulama dengan penafsiran sembarangan tanpa ada rujukan tertentu dengan bumbu hadits dan ayat al – qur'an tanpa rujukan tafsir alim ulama.

Itulah sebabnya Nilai – Nilai toleransi keislaman Indonesia terasa berkurang dengan hadirnya hoaks di sosial media dan para politikus begitu berani memasukkan Agama Islam sebagai lahan rebutan bagi mereka. Pencintraan keislaman dilakukan, dengan protret ritual ibadah mereka demi meraup suara simpati masyarakat Muslim.

Meski kuatnya wacana keislaman tentang mudahnya memfatwa haramkan sesuatu di Indoensia tetap masyarakat Muslim  tak begitu banyak terperngaruh oleh biasnya issu Agama akan hangatnya intoleransi dan kasus menyerupai Agama nonmuslim di akhir tahun 2018.

Salah satu kota yang tidak merayakan malam tahun baru tanpa kembang api dan terompet adalah kota Banda Aceh. Pemprov Aceh mengeluarkan surat imbauan Nomor 003.2/30781 tertanggal 27 Desember 2018 yang ditandatangani oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

Aceh memang dikenal sebagai serambi Mekkah, sebaegai salah satu pusat syariat keislaman diberlakukan, bahkan seringkali melakukan swipin pakaian wanita yang ketat. Di malam pergatian tahun baru 2019, Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman rela mencabut izin usaha jika kedapatan melakukan perayaan tahun baru dengan perayaan meniup terompet, live musik dan membakar kembang api, di Hotel, Restoran, dan Cafe. Semua ini dilakukan karena alasan adat dan Agama.

lalu bagaimanakah pandangan Islam yang merayakan malam tahun baru dengan banyaknya anegdot yang beredar di masyarakat, yang merayakan malam tahun baru dan meniup terompet menyerupai Agama lain (non muslim).

Pendapat Abu al-Hasan al-Maqdisi yang dikutip dalam al-Hawi karya Imam al-Suyuthi, tampaknya, pola pikir realisitis lebih relevan dengan redaksi yang digunakan oleh Rasulullah SAW dalam menyikapi kemungkina kemunkaran, yaitu "fal-yughayyirhu" yang berarti "maka ubahlah". Artinya, penanganan kemungkaran tidak melulu melalui prosedur larangan (nahi munkar), dapat juga melalui prosedur perubahan (transformasi).

Siti Rohilah

KPI 3 D

Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
made with by incsomnia